Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial, Denny Siregar mengatakan bahwa hukum Indonesia cenderung goyah jika dihadapkan dengan tekanan publik, terlebih jika publik membawa-bawa agama.
Ia mengatakan ini saat membahas soal kasus penembakan terhadap enam laskar Front Pembela Islam (FPI) oleh polisi di Tol Cikampek KM 50.
Bagi Denny Siregar, kasus yang membuat beberapa polisi dipidana menewaskan enam pengawal Rizieq Shihab ini adalah sebuah kisah pedih polisi.
“Malam itu beberapa polisi mengintai markas Rizieq Shihab di Bogor. Rizieq dikhawatirkan kabur lagi, sehingga perlu diawasi,” kata Denny Siregar dalam rangkaian cuitannya yangberjudul “Kisah Pedih Polisi” pada Senin, 21 Februari 2022.
“Dalam posisi pengintaian itu, tiba-tiba mobil polisi ditabrak oleh sebuah mobil. Mereka berhenti,” sambungnya.
- Program Hafalan Juz 30 Pemprov Sulsel Dapat Kritik Denny Siregar: Diketawain Sama China
- Denny Siregar Prediksi Prabowo Subianto Akan Gandeng Gibran Rakabuming Sebagai Cawapres
- Polisi Tak Temukan Proyektil Penembakan Bahar Smith, Denny Siregar: Drama Zonk
- Prediksi Denny Siregar: Pilpres 2024 Hanya Ganjar Vs Prabowo, Anies Makin Lemah
- Denny Siregar: Mau Ibadah Natal Aja Susah, Nabi Pasti Nangis!
Dari dalam sebuah mobil, lanjut Denny Siregar, keluarlah beberapa orang dengan senjata api dan senjata tajam seperti samurai, celurit, dan lain-lain.
“Mereka menyerang polisi. Terjadilah tembak-tembakan. Dua laskar FPI mati di dalam mobil,” kata Denny Siregar.
“Yang 4 lagi menyerah di KM 50 tol arah Cikampek. Polisi kemudian berbagi tugas, sebagian antara jenazah FPI, sebagian lagi antar 4 orang tersangka ke kantor polisi,” lanjutnya.
Di dalam mobil, menurut Denny Siregar, empat laskar itu berusaha merebut pistol polisi serta mencekek, menjambak, dan memukul.
“Polisi mengarahkan pistolnya dan dor dor, 4 orang laskar itu mati seketika dijemput bidadari,” katanya.
Denny Siregar menilai bahwa situasi ketika itu memang adalah soal hidup dan mati, membunuh atau dibunuh.
“Dan untungnya, yang mati para kriminal itu. Bukan polisi. Tapi di persidangan jaksa penuntut berbeda pendapat. Dia menyalahkan polisi kenapa membunuh 4 orang laskar itu? Kenapa gak dilumpuhkan dulu? Kenapa kok gak begini, gak begitu?” katanya.
Host Cokro TV ini menyinggung bahwa Jaksa Penuntut yang duduk di ruangan ber-AC sama sekali tidak mencoba memahami situasi berbahaya itu.
“Dua orang anggota polisi yang menembak 4 FPI itu – kabarnya – mau dituntut hukuman 15 tahun penjara karena menghilangkan nyawa,” ungkapnya.
Denny Siregar menilai bahwa situasi ini aneh dan sulit masuk di logika sebab polisi yang membela dirinya malah dituntut hukuman penjara.
Ia mempertanyakan mengapa negara tidak membela mereka yang bertugas dan malah menjebloskan mereka ke penjara.
Padahal, lanjut Denny Siregar, para polisi yang menembak enam Laskar FPI ini sedang membela negara.
Baginya, ketika dua polisi yang sedang bertugas dengan bertindak tegas itu malah dipenjara, maka moral polisi seluruh Indonesia bisa runtuh.
Para polisi, menurutnya, bisa menjadi apatis dan berpikir penjahat lebih baik dibiarkan daripada mereka yang kena hukuman.
Pada akhirnya, kata Denny Siregar, situasi ini bisa berbahaya sebab kejahatan akan merajalela.
“Hukum kita ini aneh. Bahkan condong goyang karena tekanan publik. Apalagi kalo publik itu bawa-bawa agama,” kata Denny Siregar.
“Akhirnya aparat lah yang dikorbankan. Padahal merekalah yang ada di garis depan,” sambungnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
