Terkini.id, Jakarta – Wartawan senior, Edy A Effendi menilai bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) layak diberhentikan dari jabatannya.
Pernyataan itu ia sampaikan berbarengan dengan sindirannya kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Menurut Effendi, keduanya layak untuk dicopot dari jabatannya masing-masing.
Hal ini dikarenakan keduanya tak bisa qunut (gerakan salat yang bersifat sunnah).
Pada cuitan yang ia bagikan melalui akun Twitter miliknya, Effendi mengatakan bahwa kedua tokoh tersebut bukanlah bagian dari Muhammadiyah bahkan Nahdlatul Ulama.
- Proyek Strategis Nasional Bendungan Lausimeme yang Diresmikan Jokowi Digarap Perusahaan Konstruksi KALLA
- PLN Pastikan Pasokan Listrik Tanpa Kedip saat Jokowi Resmikan RS Vertikal Makassar
- Andil Andi Sudirman Sulaiman di Balik Rumah Sakit OJK yang Akan Diresmikan Jokowi di Makassar
- Dua Putra Asal Kabupaten Pangkep Dilantik Jokowi Jadi Perwira TNI AD
- Presiden Jokowi Pantau Pemberian Bantuan 300 Unit Pompa untuk Petani di Bone
“Pak Jokowi dan Pak Prabowo gak bisa qunut. Muhammadiyah bukan, NU bukan. Layak diberhentikan,” cuitnya dikutip oleh terkini.id, Jumat 7 Mei 2021.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa atas dasar hal tersebut, Jokowi dan Prabowo dinilai radikal.
“Dua-duanya radikal,” timpalnya.
Sebelumnya, isu perihal gerakan qunut di salat subuh menjadi buah bibir masyarakat karena diduga masuk sebagai pertanyaan pada tes ASN KPK.
Beberapa pegawai KPK mengaku bahwa ditanyakan perihal qunut tersebut.
Tak hanya itu, mengutip dari Tempo, dibagian esai, kata salah satu pegawai, mereka dimintai pendapat mengenai Partai Komunis Indonesia, Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, serta LGBT dan Transgender.
Pertanyaan serupa juga ditanyakan kepada bagi pegawai non-Muslim dengan alasan indikasi radikal.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
