Singgung Mahasiswa Pendemo, Jusuf Hamka Bela Jokowi: Kenapa Harus Demo? Kita Butuh Pemimpin Seperti Dia!

Singgung Mahasiswa Pendemo, Jusuf Hamka Bela Jokowi: Kenapa Harus Demo? Kita Butuh Pemimpin Seperti Dia!

R
Mahipal
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, JakartaJusuf Hamka, orang kaya dengan tampilan sederhana itu singgung pendemo dan bela Presiden Jokowi. Dirinya bahkan mempertanyakan kenapa harus demo? padahal kita butuh pemimpin seperti dia (menurutnya).

Pemerintahan saat ini menurut Jusuf Hamka sudah sangat baik, menurutnya pemerintahan saat ini sudah sangat baik jadi kenapa tidak dibiarkan pemerintahan selesai sampai tahun 2024.

Dilansir oleh Terkini.id dari channel YouTube AH Podcast, pada Kamis, 14 April 2022. Dalam acara itu, Jusuf Hamka dijadikan narasumber oleh sang YouTuber itu, dan menjelaskan tatanan pemerintahan dari sisi dirinya sebagai pengusaha, yang mengatakan bahwa pemerintahan saat ini sangat baik.

“Saya juga gak ngerti, kenapa harus demo sih, terus bahwa agendanya katanya ingin menurunkan Presiden, ini yang di demo juga tidak membuat kesalahan, yang mendemo juga mngkin maaf saja, gak ngerti apa yang harus di demo, pemerintah sudah berjalan baik menurut saya biarkan saja pemerintahan selesai sampai tahun 2024,” bahas Jusuf Hamka.

“Semua orang tidak sempurna kesempurnaan milik Allah, oleh sebab itu kalau ada kekurangan-kekurangan yang minor fahami, maklumi, maafi saya pikir itu paling baik, karena menurut pandangan saya, saya telah mengikuti walaupun masa orde lama saya masih kecil,” ujar Jusuf Hamka melanjutkan.

Baca Juga

Bos jalan tol itu juga melanjutkan, bahwa kita bisa bebas saat ini itu karena Jokowi sangat mencintai rakyatnya, bahkan ketika membangun jalan tol dia tidak pernah memberikan ganti rugi tapi ganti untung.

“Buktinya hari ini kita bisa bebas, kita lihat di China hari ini masih lockdown, di Jepang masih lockdown, hari ini kita bisa bebas, kita bisa podcast bahkan kita bisa demo, karena apa?,” ujar Jusuf Hamka melanjutkan.

“Karena budi baik pemerintah terutama bapak presiden memikirkan kesehatan rakyatnya, dia belikan vaksin ratusan triliun, lihat kalau presiden bangun jalan, bangun bendungan itu hasilnya nyata, presiden membangun jalan tol tidak pernah memberikan ganti rugi tetapi memberikan ganti untung,” tuturnya dalam Podcast itu.

Jusuf Hamka juga memberikan penjelasan bahwa kalau di jaman dulu ketika ada proyek pemerintah, rakyat yang menderita sekarang.

“Jaman dulu setiap ada proyek pemerintah rakyat dibejek, diminta harga dibawah NJOP, sekarang bahkan bisa tiga kali harga NJOP diganti untung oleh pemerintah. Di zaman pemerintah sekarang, kita ada dua tax amnesty, amnesty pertama yaitu 2017 atau 2016 kemarin, tax amnesty kedua namanya pengungkapan sukarela yang dibuat 2022 sampai Juni 2022,” jelas bos tol itu.

Menurut bos tol itu, pemerintah saat ini berani mengambil resiko pengampunan pada rakyat dan menganggap Jokowi sangat berani bahkan sampai diulang dua kali.

“Pemerintah beberapa berganti dari tahun 60, 65, Reformasi belum ada pemerintah yang mengambil resiko memberi pengampunan pada rakyat, pemerintah Jokowi sangat berani dan dia ulangi untuk kedua kalinya, ini menurut saya luar biasa,” terangnya dalam podcast AH.

Atta Halilintar mulai bertanya kepada Jusuf Hamka terkait 3 Periode, kenaikan harga bensin, kelangkaan minyak goreng.

“Kalau bahasanya sekarang kan 3 periode terus ada kenaikan harga bensin, kelangkaan minyak goreng, nah kalau dia mengatasnamakan rakyat ada betulnya dong pak?” tanya Atta.

Jusuf Hamka menanggapi pertanyaan dan membenarkan pertanyaan dari youtuber tersebut, tapi disisi lain juga harus berpikir realistis nalarnya harus jalan, ini mungkin efek dari peperangan Rusia dan Ukraina, sehingga sekutu memboikot suplai dari Rusia.

“Betul, tapi kan juga harus realistis nalarnya juga harus jalan, harga bensin naik karena ada peperangan antara Rusia dan Ukraina, sehingga sumber minyak mentah dari Rusia itu tidak bisa keluar karena diboikot oleh negara sekutu,” ujar Jusuf Hamka.

“Sehingga suplai endimen itu suplaynya ngak ada harganya akan naik dan ini berpengaruh, kalau kita membiarkan pemerintah mensubsidi terus negara ini akan bangkrut, oleh sebab itu pemerintah juga bukannya tidak mensubsidi menaikkan harga, tetapi masih mensubsidi di pertalite,” jelas Jusuf Hamka.

Jusuf juga menjelaskan terkait kelangkaan minyak goreng ini jangan menyalahkan Jokowi, mungkin saja yang salah di bawahnya dalam mengatur, menganggap ekspor lebih menguntungkan.

“Kalau minyak goreng, banyak orang bicara kita menghasilkan minyak goreng terbesar, betul, jangan salahkan bapak presiden, mungkin ini ada yang salah dibawahnya yang mengatur, apakah karena ekspor lebih menguntungkan sehingga lupa terhadap kesejahteraan masyarakat, sehingga aparat-aparat yang di bawah pak Jokowi harusnya punya Nasionalisme, jangan mengejar ekspor tetapi melupakan konsumsi dalam negeri,” terangnya.

Jusuf hamka pun menerangkan bahwa sebaiknya seorang pemimpin entah menteri-menteri atau aparat-aparat dituntut supaya mempunyai irama yang sama dengan Jokowi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.