DENGAN memanipulasi berita bohong, akhirnya Donald Trump dengan liciknya terpilih menjadi Presiden AS.
Kenyataan ini memicu kembali perhatian orang terhadap apa yang oleh para ahli psikologi sosial dinamakan “sleeper effect.” Apa itu, dan bagaimana kerjanya?
Perhatian para peneliti yang akhirnya melahirkan istilah “sleeper effect” terjadi pada Perang Dunia II.
Ketika itu Departemen Pertahanan AS banyak membiaya pesan melalui film agar warga negara AS tertarik membaktikan dirinya sebagai prajurit.
Setelah sekian banyaknya biaya yang dikeluarkan, timbul pertanyaan, apakah biaya yang besar tersebut mencapai tujuannya secara signifikan?
- Polri Ingatkan Masyarakat Tak Sebar Konten Negatif di Medsos: Berpotensi Pidana
- Pulau Batuatas Masih Krisis Listrik, Aliansi Mahasiswa Kecam Kominfo Buton Selatan Sebar Berita Bohong
- Kasus Penyebaran Berita Bohong Rocky Gerung Naik Penyidikan
- HBS Cium Bendera Merah Putih: Akan Menjadi Awal Bangkitnya Kepercayaan Masyarakat
- Heboh Isu Rencana Uang Baru Gambar Jokowi, Warganet: Kalau Dikasih, Gua Bakar!
Hasil penelitiannya mengagetkan. Lima hari setelah pesan yang diterimanya, para pemirsa tidak terbujuk oleh Departemen Pertahanan untuk menjadi prajurit. Menolak untuk terbujuk, karena tidak percaya kepada sumber informasi.
Informasi dan sumber informasi dibedakan.
Sembilan minggu kemudian para penerima pesan itu diteliti kembali seberapa besar mereka terbujuk oleh pesan yang diterimanya.
Ternyata, dengan berlalunya waktu, mereka terbujuk oleh pesan yang diterimanya, dan melupakan pemberi pesan yang tidak dipercayanya.
Pesan yang tadinya tidak berpengaruh, kini menjadi berpengaruh. Seolah-olah pesan itu bangun dari tidurnya.
“Sleeper effect.” Orang terbujuk oleh pesan yang diterimanya dan lupa terhadap pemberi pesan yang tidak dipercayanya.
Bagaimana Trump menerapkannya? Trump dengan sengaja menyampaikan berita-berita bohong sambil menimbulkan amarah para pendengarnya yang rasional.
Berita bohong itu terus-menerus diulang-ulanginya. Orang yang rasional, yang belum membuat keputusan, tidak percaya kepadanya sebagai sumber berita.
Di dalam perjalanan waktu, orang cenderung melupakan sumber beritanya, tetapi tidak melupakan isi beritanya.
Tanpa sadar mereka dipengaruhi isi beritanya dan melupakan Trump dengan rekam jejaknya yang jelek. Hasilnya, Trump menang.
Tetapi kini mulai terjadi perubahan pendapat di kalangan mereka yang terlanjur memilihnya. Hal ini terutama terjadi karena munculnya minat para ilmuwan untuk mengungkapkan kembali cara-cara kampanye Trump yang dipandang tidak terpuji dan berbahaya untuk masyarakat.
“Sleeper effect” kini luas diterapkan di dunia periklanan dan kampanye politik, termasuk dunia pendidikan.
Setiap orang berpotensi melakukannya dan menjadi korbannya.
Renungan: Apakah saya sendiri berpotensi menjadi pelaku dan calon korban “sleeper effect”?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
