Terkini.id, Jakarta – Soal donasi Rp 2 triliun Akidi Tio berbalik jadi dugaan prank, ini pendapat psikolog. Menyusul berita heboh terkait keluarga mendiang Akidi Tio yang berdonasi atau menyumbang Rp 2 triliun bagi penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan (Sumsel) belum lama ini, pada Senin 2 Agustus 2021 kemarin, masyarakat kembali dibuat geger lantaran uangnya diduga tak ada.
Pasalnya, isu yang awalnya ditanggapi dengan banyak respons positif yang mengharu-biru, belakangan berbalik menjadi ungkapan kekesalan netizen lantaran diduga hanya prank alias palsu. Belum jelas betul permasalahannya, polisi pun sigap mengusutnya
Kendati demikian, psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, yang merupakan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate mengingatkan, emosi dan sikap atas isu semacam itu amat penting untuk dicermati terlebih dulu sebelum diekspresikan ke media sosial.
Terlebih mengingat kasus ini belum ada kejelasan dengan informasi serba terbatas, ungkapan emosi yang tak berlandaskan fakta ilmiah justru bisa memicu kemarahan salah sasaran.
Untuk itu, Anastasia menyarankan sebelum menyikapi isu tersebut, ada baiknya memahami dulu sebab dan akibatnya secara logis dengan mencermatinya dari beragam perspektif.
- Polisi Masih Tunggu Tes Kejiwaan Putri Akidi Tio Heriyanty dari Rumah Sakit Jiwa
- Tak Hanya Bermasalah Kasus 2T, Aib Lain Anak Akidi Tio Juga Dibongkar Total Penjaga Makam, Mengejutkan!
- Obati Kekecewaan Masyarakat, Warga Tionghoa Palembang Kumpul Uang Rp 2 Miliar
- Ternyata Anak Akidi Tio di Jakarta Tak Tahu soal Sumbangan Rp 2 Triliun
- Kapolda Sumsel: Dokter Akidi Tio yang Usulkan Acara Penyerahan Sumbangan Rp 2 Triliun
“Kita melihatnya dari perspektif apa nih? Pengusaha? Masyarakat? Pihak yang dibantu? Yang membantu? Setiap perilaku orang itu, mereka punya landasan atau alasan tertentu yang membuat orang melakukan itu,” terangnya saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Selasa 3 Agustus 2021.
“Sehingga tidak over generalisir, tidak terburu-buru menarik kesimpulan, tidak hanya menggunakan pendapat atau opini pribadi. Lebih selektif dalam menilai informasi, lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Di situ, orang jauh lebih bisa memilih perilaku mana yang tepat, respons mana yang tepat,” imbuh Anastasia, seperti dilansir dari detikcom, Selasa 3 Agustus 2021.
Anastasia mengatakan, informasi simpang siur ditelan bulat-bulat, memiliki beragam risiko. Menurutnya, di awal munculnya ‘kabar baik’ sumbangan Rp 2 triliun, netizen berbondong-bondong menyampaikan ucapan bangga.
Namun, kini seiring munculnya kabar dugaan penipuan, netizen berbalik menyampaikan ungkapan kesal. Tidak hanya soal dugaan prank, ada juga yang menyinggung latar bisnis hingga etnis tersangka.
Anastasia yang lebih akrab disapa ‘Sari’ ini, mengingatkan kondisi itulah yang membuat sikap over generalisir amat penting dihindari. Pasalnya, jika marah salah sasaran, ungkapan masyarakat di media sosial bisa meluber pada aspek lain yang sebenarnya tidak berkaitan atas insiden tersebut.
“Kalau kita bicara sumbangan-sumbangan yang mungkin beberapa oknum juga suka melakukan penipuan, dan itu muncul di media sosial,” katanya.
“Ini bahaya kalau seseorang berpikirnya menjadi over generalisir terhadap kelompok tertentu. Disamaratakan, padahal itu sifatnya oknum. Entah itu ke pengusahanya, atau mungkin etnisnya terkait SARA, ini bahaya. Yang ada nanti menimbulkan ketidaksenangan terhadap kelompok atau komunitas,” sambung Anastasia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
