Surat Ayah untuk Sang Anak di Tengah Wabah Corona

Andika Mappasomba

USIAMU sekitar satu setengah tahun ketika wabah ini datang. Abangmu diliburkan. Dia hanya bermain di sekitar rumah, bersepeda dan sesekali main bulutangkis bersama bocah tetangga.

Pemukiman kita tidak terlampau padat. Di dalam sebuah lorong dan ditumbuhi banyak pepohonan dan beberapa rumpun bambu.

Ibumu telah hampir sebulan ini tak banyak keluar rumah. Terjauh, hanya ke pasar untuk membeli makanan. Itupun dalam suasana yang mencemaskan.

Secemas wajah orang-orang di pasar. Namun di sana, ada juga yang marah. Pedagang tua yang protes karena diimbau tak ke Masjid.

Hari ini, tingkahmu sangat menggemaskan. Meski dari mulutmu, kamu belumlah bisa menyebut huruf atau kata. Seluruh bahasamu masihlah racauan tak jelas. Bahasa tubuhmu pin demikian.

Menarik untuk Anda:

Kami hanya turut saja saat kau memegang tabgan kami dan menariknya berkeliling rumah, meski kami tak paham apa maksudnya.

Kau sangat lahap jika diberi makan labu dan ikan yang dagingnya empuk. Sesekali kau telah makan dengan sendok, namun tak jarang kau lepas sendok dan menyuapi dirimu dengan jarimu.

Kadang kami mengerjaimu, pura-pura mengangkat piringmu meski kamu belum selesai makan. Wah, itu akan membuatmu marah dan menagis keras. Kami pun menertawai tingkahmu itu.

Saat ini kutulis, suasana sangat mencekam. Setidaknya bagi kami yang sedikit paham dengan wabah, sebagaimana kami baca dalam buku sejarah flu Spanyol, Kolera, Malaria, dan menonton film yang serupa. Wabah yang membunuh dan menelantarkan mayat-mayat di Ekuador, Italia, dan negara bagian Amerika lainnya.

Ini adalah Jumat ke empat di mana aku ragu ke masjid. Wabah ini berkembang sangat cepat. Korban mulai berjatuhan. Seperti perang, tapi serdadunya adalah petugas medis dan relawan. Mereka banyak yang gugur di garis depan tanpa letusan senjata.

Xavier anakku, kini, orang-orang mulai saling mencurigai, terutama jika ada yang batuk atau flu, dicurigai sebagai ciri awal pengidap wabah ini.

Saat ini kamu masih mengkonsumsi ASI dari ibumu. Beberapa kali kamu terjatuh. Kepalamu lebam dan beberapa goresan pada wajahmu.

Bersamaan dengan keadaan ini, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk keselamatan warga. Tapi, mereka seperti tak peduli. Jalanan masih macet saat sore hari dan orang masih berkumpul, jalan sore keliling kota. Anjuran memakai masker tak dipedulikannya.

Sesekali, aku membawamu berjemur di bawah matahari pagi, berharap bisa membuatmu lebih sehat dan dapat melewati masa-masa mencemaskan ini.

Kita hanya memiliki beberapa bumbu dapur yang sesekali diracik ibumu dan kita minum bersama di waktu senggang. Bumbu yang sekaligus sebagai obat penyegar badan.

Aku sangat ingin membawamu ke gunung, berkemah di sana beberapa hari, menikmati alam dan kabut. Tapi, kita patuhi pemerintah untuk tak pergi ke mana-mana, menjaga kebersihan dan menjaga jarak dengan orang lain.

Anakku, aku tulis ini untukmu. Agar kelak puluhan tahun ke depan, kau memiliki bacaan yang sungguh kebenarannya.

Bukan kebenaran berita yang dibuat orang, tapi peristiwa yang sungguh terjadi. Agar pula kau tak meragukan buku-buku sejarah yang mengisahkan keadaan hari ini.

Kita tak bisa ke Bulukumba dan juga ke kampung ibumu di Mandar. Semua demi kebaikan. Sebab kita tak tahu, virus wabah ini telah hinggap di mana dan akan menulari siapa. Kita tak ingin menjadi pembawa wabah sebagai carrier.

Anakku, tidurmu tampak sangat lelap malam ini, abangmu pun demikian. Dia baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya.

Dua buku dari gurunya telah diselesaikan lebih awal. Jauh sebelum batas waktu yang diberikan gurunya. Kelak, kau harus melampaui kemampuannya itu.

Xavier, tidurlah dan bangunlah dengan cahaya esok pagi. Cahaya yang terang penuh keberkahan dari doa Rasulullah untuk ummatnya.

Kutancap doa ke dalam hatimu. Jadilah manusia yang teguh dalam iman dan ketakwaan. Semoga berkah hidupmu dunia akhirat.

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala ala Sayyidina Muhammad

Gowa, 10 April 2020

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Money Politik, Diantara Larangan dan “Kebutuhan” Warga

Ketauladanan Ibrahim AS – 01

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar