Terkini, Makassar – Di tengah perubahan sosial, teknologi, dan tantangan global yang berlangsung semakin cepat, pendidikan dituntut untuk terus beradaptasi.
Upaya tersebut tidak cukup diwujudkan melalui perubahan kurikulum atau kebijakan semata, tetapi juga memerlukan ruang kolaborasi yang mempertemukan guru, sekolah, pemerintah, komunitas, dan masyarakat untuk saling belajar, berbagi praktik baik, serta melahirkan inovasi pembelajaran.
Semangat inilah yang diusung Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII yang tahun ini mengangkat tema “Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia.” Diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN), TPN XIII akan berlangsung selama dua hari, yakni :
- Sabtu, 4 Juli 2026 di Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolalido, Makassar, dan
- Minggu, 5 Juli 2026 di Rumah Sekolah Cendekia, Jalan Bontotangnga, Gowa.
Sejak pertama kali diselenggarakan, Temu Pendidik Nusantara telah menjadi ruang belajar bagi puluhan ribu guru di berbagai daerah di Indonesia.
Sebagai salah satu gerakan belajar terbesar bagi pendidik di Indonesia, TPN menghadirkan ruang bertemunya guru, kepala sekolah, pemimpin pendidikan, akademisi, pemerhati pendidikan, hingga para pengambil kebijakan untuk berbagi pengalaman, memperkuat jejaring pembelajaran, dan bersama-sama merumuskan masa depan pendidikan Indonesia.
- Jelang Puncak HUT ke-50, LPM Profesi UNM Bakal Kumpulkan Para Alumni se-Indonesia
- Pegawai RSUD Latopas Bebas Tarif Parkir, Setoran Rp20 Juta Murni Pendapatan Daerah
- Coffee Class for Kids di Myko Cafe, Mengenalkan Dunia Kopi dengan Cara yang Menyenangkan
- Liburan Sekolah Makin Seru Bersama Menu Favorit Anak di Myko Cafe
- Yang Viral Belum Tentu Benar: Dampak Psikologis Konten Multimedia Islami di Era Digital
Kiprah tersebut bahkan memperoleh pengakuan internasional melalui Hamdan Prize for Teacher Development dari UNESCO, sebagai apresiasi atas kontribusinya dalam mendorong inovasi pembelajaran dan pemberdayaan guru.
Mengangkat tema “Cita-cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia”, TPN XIII mengajak seluruh pemangku kepentingan melihat pendidikan sebagai tanggung jawab bersama.
Pendidikan yang berkualitas lahir ketika setiap pihak memiliki ruang untuk berkontribusi dalam membangun generasi yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal, sekaligus memiliki kapasitas menjadi warga dunia yang adaptif, berdaya saing, dan berkarakter.
Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara, Ari Wibowo, menegaskan bahwa perubahan pendidikan harus dimulai dengan memberikan ruang kepada guru untuk terus bertumbuh.
“Selama ini guru hanya menjadi objek kebijakan. Oleh karena itu kami berkomitmen bahwa kemerdekaan belajar guru harus terus diperjuangkan. Mensejahterakan guru adalah dengan memberdayakannya, karena mutu pembelajaran tidak bisa diperintahkan dari atas, melainkan tumbuh dari guru yang berdaya,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
