Teroris MIT Bunuh 4 Orang-Bakar Gereja, Denny: Ini Bukan Soal Agama, Mereka Juga Bunuh Orang Islam

Operasi Tinombala

Terkini.id, Jakarta – Polisi menduga pelaku pembunuhan empat orang dalam satu keluarga dan pembakaran rumah serta gereja di Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah adalah kelompok teroris MIT.

Beberapa DPO yang selama ini diburu, diklaim polisi sebagai pelaku pembunuhan sadis pada Jumat 27 November 2020 lalu.

Penggiat media sosial, Denny Siregar lewat media sosialnya menuliskan bahwa aksi yang dilakukan teroris itu bukan soal agama. 

Menurut dia, aksi sadis yang dilakukan  oleh teroris MIT sudah seringkali dilakukan, bahkan sejak organisasi itu dipimpin oleh Santoso. 

“Santoso pada waktu itu (2016) adalah kepala Mujahidin Indonesia Timur atau MIT. Santoso mantan peserta pelatihan militer Jamaah Ansharut Tauhid atau JAT yang didirikan oleh Abu Bakar Baasyir.  Sesudah pelatihan militer itu digerebek pemerintah, personilnya menyebar kemana-mana termasuk Santoso ke Poso, Sulawesi Tengah.

Menarik untuk Anda:

Di Poso inilah, Santoso mendirikan MIT. Dia tinggal dalam hutan dan membangun pasukan disana. Dia dan kelompoknya berbaiat kepada ISIS dan melancarkan perang pada pemerintah Indonesia,” terang dia.

Santoso diketahui punya pengaruh kuat dan juga sangat kejam. Santoso bahkan tidak segan-segan menggorok leher warga sekitar jika mereka dicurigai sebagai informan, ataupun tidak memberi makan kepada anggotanya. 

Pembunuhan yang dilakukan Santoso dan kawan-kawannya itu bagian dari pesan teror, supaya jangan ada warga yang berpihak pada pemerintah.

“Pernah Santoso menyebarkan video penggorokan seorang kakek petani yang dilakukan anak buahnya. Tehnik teror ini memang mereka pelajari dari ISIS, untuk membangun ketakutan.

Juli 2016, Satgas Tinombala berhasil menembak mati Santoso. Bisa dibilang ini keberhasilan luar biasa, karena untuk memburu Santoso, Satgas harus masuk ke hutan lebat, ini daerah yang dipilih Santoso sebagai medan perangnya,” tambah Denny. 

“Santoso mati, tapi MIT tidak. Pemimpinnya sekarang bernama Ali Ahmad atau biasa dipanggil Ali Kalora. Sama dengan Santoso, Ali Kalora hidup di dalam hutan lebat. 

Kerjaan mereka juga meneror warga sekitar yang mayoritas petani. Mereka memaksa petani mengumpulkan makanan buat mereka. Dan kalau ada yang dicurigai, ditembak mati.

Pembantaian keluarga di Sigi, diyakini dilakukan oleh Ali Kalora dengan jaringan MIT-nya. Polanya sama. Mereka memenggal dan membakar. Hasil laporan sementara ini, karena keluarga itu melawan tidak mau memberi makan kepada kelompok teroris itu maka mereka semua dibantai.

Jadi, ini bukan urusan agama. Sama sekali bukan. Karena korban-korban Santoso dan Ali Kalora bukan hanya warga Kristen, petani-petani di sana yang mereka gorok dan bunuh banyak juga yang Islam,” tambahnya.

Operasi Tinombala Diperpanjang

Operasi Tinombala sejauh ini telah tiga kali diperpanjang tahun ini dengan target menyelesaikan kelompok teroris MIT di Sulawesi Tengah.

Masa tugas satgas tersebut seharusnya berakhir pada 30 September lalu, tapi diperpanjang hingga 31 Desember karena masih ada 13 orang kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang)

Dari antara DPO itulah yang diklaim polisi sebagai pelaku dalam kejadian Jumat 27 November 2020 yang menewaskan empat orang dalam satu keluarga di Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Hingga Sabtu 28 November 2020 malam warga di lokasi kejadian masih mengungsi di masjid dan gereja serta aparat kepolisian masih berjaga. Aparat yang tergabung dalam Operasi Tinombala disebut tengah mengejar terduga pelaku.

Melansir dari BBC Indonesia, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Abdul Rakhman Baso menjelaskan dalam kejadian itu empat orang yang terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantunya tewas dalam kondisi mengenaskan.

Jenazah korban telah dimakamkan di desa tempat mereka tinggal.

Berdasarkan keterangan saksi yang dikumpulkan polisi, pada hari Jumat (27/11) sekitar pukul 09.00 WITA datang delapan orang tidak dikenal di lokasi transmigrasi tersebut. Mereka langsung memasuki rumah korban dan menganiaya, menyebabkan keempat orang korban meninggal. Selain itu ada enam rumah yang dibakar. Terdapat sembilan KK atau sekitar 50 orang dari berbagai suku yang tinggal di lokasi itu.

“Saya luruskan tidak ada gereja yang dibakar. Bukan gereja. Hanya ada satu rumah yang kadang dipakai untuk melayani umat,” kata Kapolda.

Kejadian berlangsung di kawasan pegunungan, lokasi transmigrasi

Orang tak dikenal ini, disebut Kapolda, mengambil sekitar 40 kg beras dan membakar kendaraan bermotor.

Kepada para saksi, polisi kemudian memperlihatkan foto para DPO teroris MIT, salah satunya Ali Kalora yang disebut sebagai pimpinan MIT. Menurut Kapolda Sulawesi Tengah, saksi kemudian membenarkan.

“Sehingga kita menjustifikasi, bahwa pelaku adalah benar kelompok Ali Kalora,” jelas Kapolda Sulawesi Tengah Abdul Rakhman Baso.

Apa motifnya?

Polisi menggelar olah TKP dan memeriksa saksi dan menuding kelompok teroris MIT sebagai pelaku

Dalam wawancara melalui hubungan telepon, Kapolda menjelaskan keluarga yang menjadi korban tidak memiliki perselisihan apapun dengan kelompok MIT sebelumnya. Saat terjadi penganiayaan yang akhirnya menewaskan mereka juga tidak ada kata-kata apapun.

Kapolda mengatakan,”Prediksi kita kejadian ini merupakan balas dendam karena pada 17 November lalu kami melumpuhkan dua orang dari kelompok mereka yang selama ini masuk dalam daftar DPO.”

Operasi Tinombala telah tiga kali diperpanjang tahun ini dengan target menyelesaikan kelompok teroris MIT. Masa tugas satgas ini seharusnya berakhir pada 30 September lalu, tapi diperpanjang hingga 31 Desember karena masih ada 13 orang kelompok Ali Kalora yang menjadi DPO.

Ali Kalora adalah ‘petinggi’ yang tersisa dari kelompok militan Islam yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, semenjak Santoso alias Abu Wardah tewas dalam penyergapan aparat keamanan pada 2016 lalu.

Dia juga ditunjuk sebagai pemimpin kelompok itu menyusul diringkusnya pentolan kelompok Muhajidin Indonesia Timur (MIT) Basri alias Bagong, di tahun yang sama.

Mantan deklarator Perdamaian Malino, Pendeta Rinaldy Damanik, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (28/11) mengatakan jika benar pelaku adalah kelompok MIT, ia menyimpulkan Satuan Tugas (Satgas) Tinombala belum berdaya untuk mengatasi kelompok tersebut.

Dalam rilisnya Pendeta Damanik meminta agar Satgas Tinombala bekerja lebih berani dan profesional. Karena keamanan, kedamaian, kesejahteraan, hubungan harmonis antar umat beragama dan kesatuan bangsa harus menjadi yang utama.

Pada Sabtu (28/11) Pimpinan Pusat Gereja Bala Keselamatan menggelar jumpa pers dan menyebar rilis, meminta jemaatnya tetap tenang serta waspada. Masyarakat diharap tidak menyebarkan informasi ataupun gambar yang tidak benar/tidak layak agar tidak menimbulkan keresahan atas kejadian yang menewaskan satu keluarga itu.

Terkait kejadian ini, ormas Islam Sulawesi Tengah PB Alkhairaat dalam rilis tertulisnya juga mengimbau masyarakat tidak tersulut emosi dan tidak mudah terprovokasi.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Eko Kuntadhi: Pandji Pragiwaksono Pendukung Anies, Makanya Dia Bela FPI

Momen Bencana, Akun Twitter SBY Bagikan Foto-foto Saat Tidur di Tenda

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar