Terkini.id, Jakarta – Peristiwa berpisahnya wilayah Timor Timor dari pangkuan NKRI menyisakan kisah heroik prajurit Paskhas. Keberanian pasukan elit TNI AU itu terlihat saat terjadinya insiden di Bandara Komoro menjelang Timtim pisah dari ibu pertiwi.
Ketika itu, para prajurit Paskhas TNI AU nyaris terlibat kontak senjata dengan pasukan Australia di Bandara Komoro tersebut.
Bahkan, saat itu pasukan Paskhas hampir meledakkan granat ke arah pasukan Australia yang tergabung dalam International Force for East Timor (Interfet).
Peristiwa itu bermula ketika Pangkoopsau II Marsda TNI Ian Santosa datang di Bandara Komoro pada 20 September 1999.
Ketika turun dari pesawat C-130 Hercules TNI AU, Marsda TNI Ian Santosa dikawal sejumlah prajurit Paskhas bersenjata lengkap.
Mendadak, pasukan Interfet yang sudah berada di Bandara Komoro langsung menodongkan senjata ke rombongan Ian Santosa yang mereka anggap sebagai ancaman.
Padahal, Marsda TNI Ian Santosa datang untuk berkoordinasi dengan Komandan Interfet Mayjen Peter Cosgrove.
Melihat aksi pasukan Interfet itu, prajurit Paskhas pun tak tinggal diam dan langsung balik menodongkan senjata ke arah para tentara Australia itu.
Bahkan, Paskhas juga bersiap-siap meledakkan granat ke arah pasukan Australia jika berani menyentuh pimpinan mereka Marsda TNI Ian Santosa.
Mengutip Hops.id, Jumat 24 Desember 2021, peristiwa itu diungkapkan dalam buku biografi mantan Dankorpaskhas Marsma (Purn) Nanok Soeratno berjudul ‘Kisah Sejati Prajurit Paskhas’.
Dalam buku itu disebutkan, saat insiden itu terjadi Kapten Eka dan 15 anak buahnya yang sedang mengawal pimpinan mereka Marsda TNI AU Ian Santoso berteriak sambil menahan emosi.
“Hei ini jenderal saya, panglima saya, keamanan di sini tanggung jawab saya,” teriak Kapten Eka.
Kondisi pun semakin tegang lantaran pasukan Paskhas dan tentara Interfet sama-sama dalam posisi menodongkan senjata.
Saat itu, siapa pun bisa lepas kendali lalu melepaskan tembakan. Apalagi, setiap prajurit yang mengawal Marsda Ian Santosa mengantongi dua sampai lima granat.
“Panggil panglima kamu ke sini,” tegas Kapten Eka kepada pasukan Australia itu.
Kapten Eka pun ketika itu mewanti-wanti setiap personel agar jangan sampai ada tembakan sebelum ada komando darinya.
“Letusan pertama pada saya,” ujar Kapten Eka kepada para anak buahnya.
Kendati pasukan Paskhas kalah jumlah personel dibandingkan dengan Interfet, mereka sepakat menjadikan granat sebagai senjata mematikan jika terjadi kontak senjata.
Para prajurit Paskhas pun ketika itu sudah siap meledakkan granat ke pasukan Interfet dan bertempur habis-habisan jika tentara Australia itu menembakkan pelurunya ke arah komandan mereka Marsda TNI AU Ian Santosa.
Kejadian tersebut menjadi salah satu bukti Pasukan Paskhas TNI AU siap diterjunkan di segala medan untuk menumpas semua musuh yang melawan NKRI.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
