Terkini, Makasar — Semangat kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh Tjahyani, pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK) asal Manado yang berhasil mengolah limbah dan kekayaan hayati Sulawesi Utara menjadi produk kerajinan bernilai tinggi.
Berkat pendampingan dari program Akademi UMK Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, usahanya terus berkembang bahkan menembus pasar ekspor, sekaligus menjadi inspirasi bagi UMK berbasis keberlanjutan.
Sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Akademi UMK Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi merupakan wadah pembinaan berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro kecil di berbagai daerah.
Melalui program ini, para UMK binaan mendapatkan pelatihan pengembangan produk, manajemen usaha, strategi pemasaran, hingga penguatan kapasitas usaha berbasis prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Program ini bertujuan mendorong UMK lokal agar mampu tumbuh menjadi pelaku usaha yang berdaya saing di pasar nasional maupun global.
- Tingkatkan Kualitas SDM dan Ekonomi Masyarakat, Pemkab Jeneponto Gelar Pelatihan Barbershop dan Perkoperasian
- Daya Motor Palopo Gelar Turnamen Domino di Luwu Timur, Ratusan Peserta Ramaikan Kompetisi
- Dokter Internship dari Unhas Meninggal Dunia, dr Siti Zahra Maghfira Ditemukan Usai Terjatuh
- Pupuk Indonesia Dorong Produktivitas Perikanan Sulsel, 200 Petambak Tebus 94,2 Ton Pupuk Bersubsidi
- Astra Motor Sulsel Dekatkan New Honda Vario Evo 160 ke Generasi Muda Lewat Public Exhibition di Kendari
Usaha yang dirintis sejak 2014 ini berawal dari kerajinan sisik ikan, memanfaatkan limbah dari Pasar Bersehati. Ide tersebut muncul secara tidak sengaja, saat Tjahyani melihat sisik ikan kakap besar di kantin sekolah tempat ia menjemput anaknya.
Sisik-sisik tersebut dibawa pulang dan diolah menjadi aneka kerajinan seperti bros, hiasan dinding, dan aksesori unik lainnya.
Di masa pandemi COVID-19, Tjahyani semakin terdorong untuk berinovasi. Ia mulai mengembangkan produk berbasis kain ecoprint, dengan memanfaatkan dedaunan khas Sulawesi Utara seperti daun gedi dan jarak merah.
Teknik ecoprint ini menghasilkan motif alami pada kain yang ramah lingkungan serta bernilai estetika tinggi.
Melihat potensi alam lain di daerahnya, Tjahyani kemudian mengolah serat pisang abaka tanaman endemik dari Kabupaten Talaud menjadi bahan kerajinan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
