Masuk

Untuk Apa Emak-emak Ngumpul di Depan Polres Gowa

Komentar

Terkini.id, Gowa –Emak-emak di depan Polres Gowa sibuk kasak-kusuk sambil memegang lembaran copian KTP dan Kartu Keluarga. Setelah di telusuri, ternyata emak-emak ini sibuk hendak mengurus bantuan sosial sembako menjelang PSBB.

PSBB sebentar lagi dimulai, kesiapan menghadapi PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar). Hal ini menimbulkan dapat menimbulkan masalah dikarenakan umumnya dalam PSBB itu pasti ada pengurangan karyawan dan bertepatan bulan Ramadhan, akan meningkatkan kebutuhan pokok. Oleh karena itu Polres Gowa berpartisiasi untuk menyukseskan PSBB Kabupaten Gowa.

Ada hubungan apa emak-emak dengan kasat Bimas Polres Gowa ? Ternyata iniah hubungan keduanya.

Baca Juga: Polres Gowa Tetapkan Anak Mantan Wali Kota Makassar Masuk DPO

Menurut Kasat Bimas yang di konfirmasi melalui WhatsApp mengatakan bahwa para emak-emak itu mau mendaftar untuk mendapatkan sembako. Dan ini syaratnya

Persyaratan mendapatkan bantuan sosial :

1. Masyarakat prasejahtra

Baca Juga: Angin Puting Beliung Menerjang, Bhabinkamtibmas Gowa dan Perangkat Desa Bantu Warga

2. Tidak dapat bantuan dari pemerintah ( BPNT, PKH DAN BLT )

3. Tidak didaftarkan oleh RT, RW dan Kepala Desa / Lurah utk mendapatkan bantuan sosial dari Pemerintah

4. Kirim Foto KK dan KTP Kepala Keluarga ke No Call Center (WA) Yang tertera

“Emak-emak itu sebaiknya ke bhabinkamtibmasnya kalau tidak paham,” ujar AKP Robert Naro.

Baca Juga: Tahanan Kabur dari Sel Polres Gowa Belum Ditemukan, Pengacara Korban Tagih Sayembara Kapolres

Atau bisa langsung kirim Wa ke nomor pelayanan Polres Gowa di nomor 082189350648 atau 082189350784, tegas Robert Naro

Suryati dari taipa kodong menerangkan dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah bagaimanapun bentuknya, sekarang diminta daftar melalui Wa, hape kami semuanya hape jengkrik alias hape bukan untuk WA.

Daeng Sugi dari macanda menerangkan bahwa dirinya memakai hape yang khusus, yaitu khusus menelpon tidak ada WA dan Facebook.

Lain lagi Darawati di bonto-bontoa, yang didata di tempat saya hanya keluarganya si pendata, bukan warga miskin seperti saya.