2 Ancaman untuk Indonesia Jika Biden Jadi Presiden AS, Salah Satunya Kemerdekaan Papua

Terkini.id, Jakarta – Joseph Robinette Biden Jr atau Joe Biden sukses memenangkan Pilpres AS dan mengalahkan Donald Trump. 

Banyak warga Indonesia yang senang dengan kemenangan Biden. Namun rupanya, Biden bersama Partainya, yakni Demokrat justru bisa berimbas buruk terhadap Indonesia.

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang sangat sering mengamati peristiwa politik di negeri Paman Sam itu, menjelaskan alasannya.

Kehilangan Peluang Investasi dari AS dan Tiongkok

Melansir dari akun YouTube DI’s Way, Dahlan Iskan mengungkapkan sebenarnya akan lebih menguntungkan Indonesia jika Donald Trump yang memenangkan Pilpres Amerika Serikat 2020.

Mungkin Anda menyukai ini:

Lewat gaya kepimpinan Donald Trump yang anti-China, kata Dahlan Iskan, dinilai akan lebih menguntungkan Indonesia dalam aspek ekonomi.

Baca Juga: Dahlan Iskan Dikabarkan Meninggal, Isna Iskan: Tega Benar yang Bikin...

Sebab, dari perang dagang AS-China ini, beberapa perusahaan dari China akan mengalami kesulitan mengembangkan sayapnya di Negeri Paman Sam itu.

Sehingga, lanjut Dahlan, China akan menyasar Indonesia untuk mengembangkan usaha mereka.

Begitu juga dengan Amerika Serikat yang lebih senang bekerja sama dengan Indonesia daripada China.

Baca Juga: Biden Hentikan Dukungan AS ke Arab Saudi terkait Perang di...

“Jadi kalau Trump yang menang karena akan bermusuhan terus dengan Tiongkok, mungkin beberapa perusahaan Tiongkok akan lari ke Indonesia salah satunya,” ujar Dahlan Iskan.

“Kalau tidak kalah dengan Vietnam dan Kamboja,” imbuhnya.

Sehingga, karena bukan Trump yang terpilih, Perang Dagang antara Amerika dan China bisa saja berakhir dan menghilangkan peluang investasi di Indonesia.

Kemerdekaan Papua

Lebih lanjut, Dahlan Iskan mengatakan jika Joe Biden yang memenangkan Pilpres AS 2020, dirinya memberi peringatan kepada Indonesia.

Dirinya mengatakan jika Joe Biden bersama Partai Demokrat akan mendukung penuh hak-hak kemerdekaan.

Selain itu, juga menolak keras adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Dahlan pun menyinggung permasalahan yang
sedang terjadi di Indonesia, yaitu Papua.

“Kan mungkin kalau Biden yang akhirnya terpilih nanti, ya Indonesia harus waspada dengan Papua, karena Demokrat ini kan lebih mementingkan hak-hak asasi manusia, kemudian lebih mementingkan hak-hak kemerdekaan,” kata Dahlan Iskan.

“Sehingga mungkin Indonesia lebih harus berjuang bagaimana memprotek Papua,” jelasnya.

 

Pidato Kemenangan Joe Biden

Setelah dinyatakan menang di Pilpres AS 2020, Joe Biden menyampaikan pidato kemenangannya di Chase Center di Wilmington, Delaware.

Dalam pidato kemenangannya tersebut, Joe Biden mengatakan akan menyembuhkan Amerika Serikat.

“Ini adalah waktu untuk menyembuhkan Amerika,” kata Joe Biden seperti dikutip dari CNN.

Biden menjelaskan, soal menyembuhkan Amerika Serikat itu diambil dari pesan perumpamaan dalam Alkitab.

Ia menyebut ada kalanya menanam, menuai dan menyembuhkan.

“Alkitab memberitahu kita untuk segala sesuatu ada masanya, ada waktunya membangun, ada waktu menuai, ada waktu untuk menabur dan ada waktu untuk menyembuhkan,” ucap Biden.

Biden juga mengajak para pendukungnya untuk merangkul pendukung Trump.

Tentunya, untuk membuat kemajuan bagi Amerika, kedepan.

Biden juga menegaskan, bahwa pendukung Trump bukanlah musuh.

“Sudah waktunya untuk menyingkirkan retorika kasar, menurunkan suhu, bertemu lagi, saling mendengarkan lagi, dan untuk membuat kemajuan, kita harus berhenti memperlakukan lawan kita sebagai musuh kita. Mereka bukan musuh kita. Mereka orang Amerika,” jelas Biden.

Donald Trump Tertunduk saat Masuk ke Gedung Putih

Menurut laporan BBC, di hari kekalahannya Trump tampak berbeda dari suasana hatinya sehari-hari.

Sabtu 7 November 2020 merupakan hari di mana dia dinyatakan kalah dari Joe Biden.

Pada akhir pekan itu, Trump keluar dari Gedung Putih sebelum pukul 10.00 waktu setempat.

Dia tampak mengenakan jaket hitam, celana panjang gelap, dan topi MAGA (Make America Great Again).

Sebelum keluar, Trump sempat menuliskan beberapa cuitan di Twitter terkait klaim soal penipuan pemilu.

Trump tampak mencondongkan tubuh sedikit ke depan, seolah-olah sedang mendorong angin.

Dia naik ke mobil berwarna hitam dan menuju ke klub golfnya, Trump National di Sterling, Virginia.

Lokasinya sekitar 25 mil atau 40 kilometer dari Gedung Putih.

Pada saat itu, Trump menujukkan sikap percaya diri.

Sabtu pagi itu adalah hari yang indah untuk olahraga golf dan dia akan menghabiskan hari itu di klubnya.

Namun orang-orang yang mendampinginya terlihat gelisah.

“Apa kabar?” tanya reporter BBC kepada salah seorang staf.

“Baik,” katanya.

Staf itu tersenyum, tapi matanya menyipit dan kembali menatap layar ponselnya.

Sejatinya momen kekalahan presiden petahana bukan sekali dua kali terjadi di Gedung Putih.

Di hari kekalahan Trump, meja-meja di Sayap Barat nampak kosong.

Beberapa staf di Gedung Putih memang diisolasi karena terpapar Covid-19.

Sekitar pukul 11.30 waktu AS, BBC dan jaringan berita AS lainnya menyatakan Joe Biden sebagai pemenang Pemilu AS.

Di saat itu Trump sedang berada di klub golfnya.

Beberapa orang di sekitar klub golf bertanya-tanya kapan presiden akan kembali ke Gedung Putih, karena sudah berjam-jam dia di sana.

“He’s taking his time,” kata seorang petugas berwajib kepada temannya.

Presiden tidak buru-buru pergi, di klubnya itu dia dikelilingi banyak teman.

Sementara itu, di luar gerbang lokasi tersebut pendukung Trump meneriaki media: Hentikan Media!

Seorang wanita dengan sepatu hak tinggi dan bandana merah-putih-biru membawa tanda bertuliskan: Stop the steal.

Seorang pria mengendarai truknya, mondar-mandir di depan klub dengan mengibarkan beberapa bendera, termasuk satu bendera yang menggambarkan presiden berdiri di atas tank, seolah-olah dia adalah pemimpin dunia.

Akhirnya, Presiden Trump keluar dari klub dan memulai perjalanan pulang.

Para pengkritiknya menunggu, dalam jumlah ribuan.

“Kamu kalah dan kita semua menang,” bunyi salah satu poster yang dibawa kritikus presiden, merayakan kekalahannya.

Setelah kembali ke Gedung Putih, presiden masuk melalui pintu samping, pintu yang jarang dilewati Trump.

Bahunya merosot dan kepalanya tertunduk.

Dia melirik dan melihat pers seraya mengacungkan jempol dengan ekspresi setengah hati.

Namun Trump mengaku belum menyerah dengan hasil pemilihan ini.

Kini dia bersiap mengambil langkah hukum atas klaim-klaimnya terhadap perhitungan suara selama ini.

Bagikan