8 Korban Tewas, Ini Prosedur Kepolisian Menembak Pakai Peluru Tajam

22 Mei
Suasana aksi demonstrasi di depan Kantor Bawaslu, 22 Mei 2019. (foto: detik.com)

Terkini.id, Jakarta – Selain sejumlah selongsong peluru, ada juga ditemukan peluru tajam saat kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019 lalu.

Banyak yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan jatuhnya korban tewas akibat peluru pada kerusuhan itu. Pemerintah mencatat, sudah ada 8 orang yang tewas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan soal peluru tajam yang ditemukan di mobil Brimob tersebut.

Dedi Prasetyo mengungkapkan, mobil tersebut merupakan mobil komandan kompi Brimob yang memang diperbolehkan oleh standard operating procedure (SOP) membawa peluru tajam untuk satuan anti anarkis.

Akan tetapi, kata Dedi, penggunaan peluru itu harus melalui kontrol ketat dari komandan batalyon atau atasan.
Selain itu, dia harus langsung melaporkannya kepada Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya.

“Karena pleton antianarkis ini pun sangat selektif yang boleh menggunakan peluru tajam. Jadi tahapan-tahapannya; peluru hampa kemudian peluru karet, peluru tajam sesuai SOP penanganan rusuh anarkis,” kata Dedi seperti dilansir tempo, Kamis, 23 Mei 2019.

Dedi menerangkan, Satuan Anti Anarkis juga diperlukan untuk memitigasi kerusuhan massa yang sifatnya sangat masif.

“Kalau misalnya itu kondisi damai, enggak boleh dibagikan, tetap di bawah kendali dan pengamanan Polri,” ucap Dedi.

Selain itu, kata Dedi, dalam menangani para pengunjuk rasa yang anarkis juga melalui enam tahapan.

Dia mengungkapkan, enam tahapan tersebut telah diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penggunaan Kekuataan dalam Tindakan Kepolisian.

Dedi merincikan, pada kekuatan level 1 itu adalah kekuatan lunak, level dua adalah kekuatan tangan kosong, level tiga adalah kekuatan tangan kosong dengan benda keras sampai dengan level enam adalah menggunakan peluru tajam atau menggunakan senjata api.

Pengamanan pada 22 Mei

Sementara untuk aksi 22 Mei, pengamanan cuma dibekali dengan tameng, gas air mata dan water canon.
Jika terjadi tembakan dari senjata api dan peluru tajam, Dedi memastikan, hal tersebut bukan dari TNI dan Polri.

Sebelumnya di media sosial beredar video yang menunjukkan temuan puluhan peluru tajam oleh warga di mobil Brimob.

Di sisi lain, aksi 22 Mei yang menolak hasil pilpres diwarnai kericuhan yang menyebabkan delapan orang tewas, di antara mereka ada yang terkena peluru tajam.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menegaskan aparat tidak dibekali peluru tajam dalam menghadapi aksi massa 22 Mei.

Berita Terkait
Komentar
Terkini