Terkini.id, Jakarta – Pengamat Kebijakan Publik, Adib Miftahul menanggapi soal Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang menolak wacana pembelian StreetScooter milik perusahaan mobil Deutsche Post DHL Group, Jerman.
Adib Miftahul menyindir apakah Ahok menolak wacana ini karena bukan perusaan Cina yang diakuisisi.
Di awal pernyataannya, Adib juga menyingggung bahwa sebagai komisaris utama, Ahok seharusnya bisa lebih bijak dalam membicarakan urusan perseroan di wilayah publik.
“Jangan seolah-olah menjadi pihak yang baik dan benar sendiri di internal perusahaan,” katanya pada Minggu, 28 November 2021, dilansir dari RMOL.
Adib juga menilai bahwa apa yang dilakukan Ahok itu sangat berbahaya bagi perusahaan.
- Ahok Tanggapi PDIP Usung Anies di Pilgub DKI Jakarta
- Termasuk Ahok, 6 Petinggi Kementerian BUMN Mendadak Dipanggil Menteri Erick Thohir
- PDIP Tanggapi Hasil Survei Cagub DKI Jakarta yang Sebut Ahok Top Of Mind
- Ahok Sindir Orang Pintar Bicara: Syukur Tuhan Izinkan Mereka Kerja
- Sering Disalahkan Jika BBM Naik, Ahok Angkat Bicara
Apalagi, katanya, perusahaan sudah menandatangani NDA (Non Disclosure Agreement).
Lagi pula, menurut Adib, keputusan bisnis yang diwacanakan oleh manajemen Pertamina tersebut tentu memiliki pertimbangan bisnis tertentu.
Perimbangan itu, baik dari sisi brand image, kualitas produk StreetCcooter, hingga kesempatan Indonesia untuk melakukan loncatan teknologi melalui IBC.
Ia juga meyakini bahwa Pertamina telah mempertimbangkan kesanggupan keuangan dalam menjalankan bisnis itu sendiri.
Oleh sebab itu, Adib menilai bahwa Ahok bisa disebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas segregasi sosial politik bangsa selama selama ini.
“Karena pernyataan politisnya yang mengganggu dan menyinggung pihak lain,” katanya.
Adib menyinggung bahwa ia tidak ingin isu mobil listrik ini hanya dijadikan komoditas politik Ahok, lalu timbul kegaduhan sosial dan khususnya di internal Pertamina.
“Atau mungkin karena bukan perusahaan mobil Cina yang diakuisisi? Sehingga Ahok menunjukan ketidaksetujuan keputusan bisnis tersebut dengan berupaya meraih simpati publik,” ujar Adib.
Sebelumnya, Ahok menyampaikan krikannya terhadap wacana PT Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membeli sebuah pabrik mobil listrik di Jerman.
Hal itu Ahok sampaikan melalui akun Youtube resminya Panggil Saya BTP pada Jumat, 19 November 2021.
Ahok mengungkapkan bahwa menurut kabar yang dia dengar, pembelian pabrik mobil listrik di Jerman bertujuan untuk mempermudah IBC agar bisa memasuki pasar Amerika Serikat (AS) dan Cina.
Katanya, pertimbangan ini muncul karena pembelian pabrik disebut memiliki valuasi yang menggiurkan di masa depan.
“Tapi dasarnya apa future valuation itu? Ini kan barang baru. Kalau Anda bilang ini masuk, ini bisa untung, nah saya tanya mens rea-nya apa? Anda bodoh atau tadi, ada yang nitip beli?” ujarnya, dilansir dari CNN Indonesia.
“Bullshit (omong kosong) gue bilang. Lo sudah tahu kok, pakai perasaan kamu deh. Anda tidak mau bikin mobil listrik, sudah punya aki, lebih baik kembangin anak-anak ITS,” tambahnya.
Ahok menyarankan bahwa IBC sebaiknya sebisa mungkin membuat kerja sama dengan pihak lain yang bisa membantu Indonesia mengembangkan mobil listrik sendiri.
Lagi pula, menurutnya, Indonesia punya bahan baku untuk membuat baterai listrik yang juga punya peranan penting dalam industri mobil listrik ke depan.
Selain itu, Ahok menilai bajwa Indonesia juga punya keunggulan dari segi pasar. Menurut catatannya, potensi pasar Indonesia mencapai 170 juta orang.
“Kenapa tidak ajak Wuling, misalnya, atau perusahaan China lain, ‘Gue mau bikin mobil pakai merek gue, boleh tidak?’ Boleh kok,” kata Ahok.
“Masih ingat tidak dulu Hyundai jadi Bimantara, KIA jadi Timor, it’s okay, Kenapa Anda tidak lakukan seperti itu supaya Anda bisa berkembang?” lanjutnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
