Terkini.id, Jakarta – Isu gangguan manajemen Sriwijaya Air kini mulai ditepis pihak perusahaan. Sriwijaya Air Group mengklaim telah menyelesaikan masa transisi operasional setelah kerja sama manajemen dengan Garuda Indonesia Group kembali dilanjutkan.
Meski begitu, belum semua pesawat Sriwijaya Air bisa beroperasi.
Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro mengatakan, hingga saat ini jumlah pesawat yang dioperasikan sebanyak 12 unit dari total 30 unit.
Perinciannya sebanyak 10 unit digunakan untuk operasi normal, sedangkan 2 unit hanya disiagakan sebagai cadangan.
“Seluruh pesawat tersebut sudah di-handdle oleh GMF Aero Asia, jadi aspek keselamatannya sudah terpenuhi. Saat ini bisa dibilang sudah normal operation,” katanya Kamis, 3 Oktober 2019 seperti dilansir dari detikcom.
- Kabar Gembira! Sriwijaya Air Buka Penerbangan Langsung dari Makassar ke Wamena
- Setahun Pasca Tragedi Jatuhnya SJ182, Apa yang Dilakukan Manajemen Sriwijaya?
- Kabar Gembira di Tengah Pandemi, Sriwijaya Air Buka Rute Makassar Tujuan Ambon dan Langgur PP
- Ini Kondisi Terkini AirAsia hingga Lion Air di PPKM: Hentikan Penerbangan, Pulangkan Pesawat!
- Sukses Temukan Sriwijaya Air, Kini Tim Penyelam Kopaska TNI AL Mencari KRI Nanggala-402
Dia menambahkan hazard identification and risk asessment (HIRA) yang menjadi temuan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan sudah tidak ada. Sebelumnya, Sriwijaya Air Group, yang membawahi Sriwijaya Air dan NAM Air, mendapatkan skor 4A pada sejumlah identifikasi hazard.
GMF yang kembali memberikan dukungan perawatan pesawat, lanjutnya, menjadi faktor utama yang menyebabkan HIRA menjadi nihil. Terlebih, yang menjadi masalah sebelumnya adalah akibat dari penghentian layanan dari perusahaan perawatan pesawat anak usaha Garuda Indonesia Group tersebut.
Dia menegaskan masa transisi tidak membutuhkan waktu yang lama karena masalah keterbatasan maskapai dalam melakukan perawatan pesawat, stok suku cadang, dan jumlah teknisi berkualifikasi tinggi yang sedikit sudah terpenuhi kembali.
“Tidak ada lagi yang dibutuhkan, jadi [masa transisi] tidak perlu waktu lama. GMF sudah memberikan pelayanan secara penuh kembali,” ujarnya.
Berdasarkan dokumen surat 001/EXT/PLT-DZ/X/2019 yang diterima Bisnis.com, Sriwijaya diketahui membentuk penanggung jawab khusus untuk menangani masa transisi manajemen dan pemulihan operasi sejak 1 Oktober 2019.
Dalam surat tersebut tertulis, saat ini maskapai Sriwijaya Air perlu perhatian khusus untuk melakukan proses transisi manajemen dan pemulihan operasional secara insnetif, agar dapat memenuhi aspek keamanan dan keselamatan penerbangan guna memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan.
Adapun, susunan penanggung jawab antara lain Fadjar Semiarto sebagai Plt Direktur Utama sekaligus Direktur Operasi, Romdani Ardali sebagai Direktur Teknik, Joseph Dajoe K. Tendean sebagai Direktur Niaga, Elisabeth Enny Kristiani sebagai Direktur Keuangan, Jefferson I. Jauwena sebagai Plt. Direktur Human Capital, serta Toto Soebandoro.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
