Terkini.id, Jakarta – Belakangan ini, wawancara lama Gus Dur terkait terorisme kembali disoroti di media sosial.
Bahkan, Nur Hidayat Wahid, Wakil MPR RI dan politisi PKS sempat membagikan cuitan yang mengunggah video tersebut di Twitter-nya.
Dalam wawancara itu, Gus Dur menyebut bahwa pelaku pengeboman bisa saja adalah aparat dalam negeri, entah kepolisian atau tentara.
Ucapan Gus Dur itu lalu dikait-kaitkan dengan peristiwa bom bunuh diri yang baru saja terjadi di depan Gereja Katedral Makassar.
Akibatnya, beberapa pihak pun terbela soal ucapan Gus Dur tersebut. Ada yang mengatakan masuh relevan dan ada yang bilang tidak.
- Alissa Wahid Kutuk Segala Bentuk Kekerasan Demo 11 April, Netizen Kaitkan dengan FPI
- Soal Plang Muhammadiyah, Putri Gus Dur: Saya Sebenarnya Bingung, Yang Turunkan Diduga Warga NU ya?
- Heran Mengapa Aturan Toa Masjid Dianggap Anti Azan, Alissa Wahid: Indonesia Darurat Logika Bener
- Ganjar Sambangi Warga Wadas, Eko Kuntadhi: Adem, Beda Banget Sama Isu di Sosmed yang Gahar dan Serem
- Tanggapi Kasus Wadas, Alissa Wahid: Berapa Banyak Rakyat Kecil yang Sudah Dikorbankan Karena Pembangunan?
Eko Kuntadhi, termasuk salah satu yang mengkritik Hidayat Nur Wahid sebab menurutnya ucapan Gus Dur sudah tidak relevan dengan situasi saat ini.
Alissa Wahid, putri Gus Dur pun buka suara soal ucapan almarhum ayahnya tersebut.
Menurut Alissa, konteks ucapan Gus Dur telah berbeda dan tidak benar jika digunakan untuk menilai aksi pengeboman saat ini.
Terlebih, saat itu, Gus Dur sedang bicara soal Bom Bali yang memang sudah sangat lama terjadi.
“Konteksnya sudah beda. Misleading kalau gunakan video #GusDur tentang Bali Bombing untuk saat ini,” kata @AlissaWahid pada Selasa, 30 Maret 2021.
Lebih lanjut, Alissa menjelaskan bahwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dulu sangat berkuasa sehingga dapat melakukan berbagai hal termasuk rekayasa.
Menurutnya, masalah tersebutlah yang membuat Gus Dur memisahkan ABRI menjadi TNI dan Polri.
Adapun konteksnya saat ini, kata Alissa, serangan bom justru sering dilakukan ke markas Polri, pos militer, dan rumah-rumah ibadah.
“Jangan lupa, dulu konteksnya 32 tahun dg angkatan bersenjata yg bisa lakukan segalanya, juga rekayasa. Justru itu alasan #GusDur memisahkan ABRI jadi TNI & Polri,” kata Alissa.
“Konteks sekarang, aksi-aksi jaringan teroris termasuk JAD lebih banyak ke markas/pos militer dan polisi, selain ke rumah ibadah,” lanjutnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
