Terkini.id, Jakarta – Analis politik Arif Susanto berpendapat bahwa kemarahan Presiden Joko Widodo pada Jumat 25 Maret 2022 di Bali, hanya sebuah politik cuci tangan semata.
Hal tersebut dapat dilihat dari isi pidato yang Jokowi sampaikan pada saat memberikan pengarahan kepada menteri, kepala lembaga, kepala daerah dan BUMN tentang aksi afirmasi bangga buatan Indonesia di pulau dewata tersebut.
Kemarahan Jokowi kepada para pembantunya terkait kinerja mereka dinilai hanya untuk meraih kepuasan publik semata demi pemilu 2024 mendatang.
“Jadi, ketika mereka (presiden) marah kepada menteri, itu sebenarnya Jokowi sedang meletakkan bahwa problem-nya ada pada menteri, bukan pada presiden,” kata Arif dalam diskusi daring yang digelar pada Minggu 27 Maret 2022.
Ini bukan pertama kalinya Jokowi melepaskan rasa amarahnya kepada kabinet yang ia bentuk sendiri. Pada bulan Juni 2021, Jokowi juga meluapkan rasa emosinya mengenai buruknya penanganan pandemi Covid-19 di depan seluruh jajaran kabinetnya.
- Proyek Strategis Nasional Bendungan Lausimeme yang Diresmikan Jokowi Digarap Perusahaan Konstruksi KALLA
- PLN Pastikan Pasokan Listrik Tanpa Kedip saat Jokowi Resmikan RS Vertikal Makassar
- Andil Andi Sudirman Sulaiman di Balik Rumah Sakit OJK yang Akan Diresmikan Jokowi di Makassar
- Dua Putra Asal Kabupaten Pangkep Dilantik Jokowi Jadi Perwira TNI AD
- Presiden Jokowi Pantau Pemberian Bantuan 300 Unit Pompa untuk Petani di Bone
Namun demikian ekspresi kemarahan Presiden Jokowi merupakan hal yang wajar terjadi. Ketika seorang kepala negara meluapkan emosinya di depan umum, itu termasuk dalam kategori simbol politik.
Kemarahan tersebut adalah cara seorang kepala negara untuk mengambil simpati khalayak umum.dengan memperlihatkan rasa sense of crisis.
Upaya ini merupakan cara yang mudah ketimbang menarik rasa simpati dengan membuat suatu kebijakan publik yang baru.
“Politik kita memang menyediakan banyak panggung untuk bisa diakses secara mudah oleh publik sebagai bahasa yang lebih mudah dimengerti. Jadi, kalau presiden marah itukan ekspresinya terlihat,” ujarnya kepada CNN Indonesia.
Strategi pemilu ini memang sudah digunakan sejak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden. Hingga saat ini cara tersebut digunakan tanpa memperhatikan kinerja kabinet. Padahal untuk memperbaiki sebuah prestasi kabinet pemerintahan dapat dilaksanakan dengan kinerja yang optimal.
Para kepala daerah juga menggunakan jurus ini untuk membuat masyarakat jatuh hati kepada mereka. Misalnya Ahok dan Risma serta Wali kota Surabaya Eri Cahyadi yang baru-baru ini menunjukkan rasa amarahnya ketika menangani banjir di Jawa Timur.
“Jadi kemarahan presiden pada menterinya di hadapan publik, itu sebenarnya memberi kita jebakan politik simbiolisme. Seolah-olah marah itu berarti bekerja dan ini satu pretensi buruk dalam politik nasional,” kata pengamat politik Exposit Strategic dilansir dari halaman CNN Indonesia pada Selasa 29 Maret 2022.
“Sesuatu yang tidak mengubah keadaan secara esensial, karena banjir mestinya diselesaikan lewat kebijakan,” imbuh Arif.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
