Terkini.id, Makassar – Penjabat Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin meminta aparat perbatasan tidak menyulitkan masyarakat pada saat penerapan pembatasan pergerakan lintas antar daerah pada hari Sabtu mendatang.
Menurutnya, metode pemeriksaan dokumen harus berlangsung mudah dan cepat sehingga tidak menimbulkan antrean kendaraan panjang yang memicu terjadinya kemacetan.
“Hari ini kita sosialisasikan, Insya Allah besok hingga lusa kita uji coba. Mudah-mudahan tidak ada kendala hingga penerapan di hari Sabtu nanti,” kata Rudy di Kantor Gubernur Sulsel, Rabu, 8 Juli 2020.
Saat ini, Rudy mengatakan, Tim Tugas Penegakan Disiplin terus berkoordinasi dengan seluruh Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah).
“Kemarin saya juga menemui Pak Bupati Maros dan Pak Bupati Gowa terkait rencana penerapan Perwali yang nantinya tentu berdampak pada daerah tetangga kita,” tutur Rudy.
- Tinjau Lokasi Kebakaran Mangasa, Wali Kota Makassar Kawal Langsung Pemulihan 19 KK Terdampak
- Disdik Makassar Umumkan Hasil SPMB Jalur Non-Domisili, Jalur Domisili Dibuka 22 Juni
- Wujudkan Rumah, Kendaraan dan Liburan Impian di BRI Consumer Expo 2026 Makassar
- Kinerja Solid PJM Wilayah 2: Laba Bersih Tembus 206 Persen dari Target di Tengah Tantangan Global
- Telkomsel Perkuat Layanan Inklusif untuk 'Teman Tuli' di GraPARI Area Pamasuka
Rudy menekankan kepada aparat di perbatasan agar cukup melakukan pemeriksaan dokumen yang diperlukan, serta memperbanyak titik pemeriksaan sehingga antrian tidak panjang.
Menurutnya, rencana penerapan Peraturan Wali Kota Makassar nomor 36 Tahun 2020 tentang Percepatan penanganan Covid-19 merupakan strategi dalam mengendalikan Covid-19 dengan tetap mempertahankan denyut ekonomi masyarakat.
Olehnya itu, kelompok masyarakat yang bekerja di Kota Makassar diberi pengecualian, meskipun tetap akan dilakukan sampling random Rapid Test.
“Kita tidak ingin mentransfer penularan ke daerah, kita tidak hanya menangani Kota Makassar, tapi kita juga harus melindungi daerah sekitar,” ungkapnya.
Selain itu, Rudy menilai pemeriksaan sampel secara masif itu membuat pemerintah semakin mudah meminimalkan transmisi penularan.
“Jauh lebih baik dibanding fenomena gunung es, kelihatan angkanya kecil namun yang tidak terdeteksi jauh lebih banyak,” kata dia.
Saat ini, Rudy mengatakan yang dibutuhkan adalah edukasi ke masyarakat, dengan menggunakan semua pendekatan, baik formal maupun informal.
“Libatkan semua tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, pihak-pihak yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
