Terkini.id, Makassar – Penjabat Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin meminta aparat perbatasan tidak menyulitkan masyarakat pada saat penerapan pembatasan pergerakan lintas antar daerah pada hari Sabtu mendatang.
Menurutnya, metode pemeriksaan dokumen harus berlangsung mudah dan cepat sehingga tidak menimbulkan antrean kendaraan panjang yang memicu terjadinya kemacetan.
“Hari ini kita sosialisasikan, Insya Allah besok hingga lusa kita uji coba. Mudah-mudahan tidak ada kendala hingga penerapan di hari Sabtu nanti,” kata Rudy di Kantor Gubernur Sulsel, Rabu, 8 Juli 2020.
Saat ini, Rudy mengatakan, Tim Tugas Penegakan Disiplin terus berkoordinasi dengan seluruh Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah).
“Kemarin saya juga menemui Pak Bupati Maros dan Pak Bupati Gowa terkait rencana penerapan Perwali yang nantinya tentu berdampak pada daerah tetangga kita,” tutur Rudy.
- Dorong Generasi Qur'ani di Desa, LAZ Hadji Kalla Gelar Tahfidz Camp
- LPS Road Show Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Donor Darah di 5 Kabupaten-Kota Sulawesi Selatan
- Gowa Dalam Sorotan Nasional: Mulai dari Skandal Perselingkuhan, Pemakzulan, Korupsi, Sampah hingga Penggeledahan
- Kemarau Panjang, PDAM Makassar Salurkan 4,56 Juta Liter Air Bersih ke Warga
- Kalla Institute Terpilih Lima Besar KRISAN Fellowship, Libatkan Dua Dosen
Rudy menekankan kepada aparat di perbatasan agar cukup melakukan pemeriksaan dokumen yang diperlukan, serta memperbanyak titik pemeriksaan sehingga antrian tidak panjang.
Menurutnya, rencana penerapan Peraturan Wali Kota Makassar nomor 36 Tahun 2020 tentang Percepatan penanganan Covid-19 merupakan strategi dalam mengendalikan Covid-19 dengan tetap mempertahankan denyut ekonomi masyarakat.
Olehnya itu, kelompok masyarakat yang bekerja di Kota Makassar diberi pengecualian, meskipun tetap akan dilakukan sampling random Rapid Test.
“Kita tidak ingin mentransfer penularan ke daerah, kita tidak hanya menangani Kota Makassar, tapi kita juga harus melindungi daerah sekitar,” ungkapnya.
Selain itu, Rudy menilai pemeriksaan sampel secara masif itu membuat pemerintah semakin mudah meminimalkan transmisi penularan.
“Jauh lebih baik dibanding fenomena gunung es, kelihatan angkanya kecil namun yang tidak terdeteksi jauh lebih banyak,” kata dia.
Saat ini, Rudy mengatakan yang dibutuhkan adalah edukasi ke masyarakat, dengan menggunakan semua pendekatan, baik formal maupun informal.
“Libatkan semua tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, pihak-pihak yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
