Oleh: Dr. Aswati Asri, S.Pd., M.Pd
(Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Makassar FBS Universitas Negeri Makassar)
Terkini, Makassar – Perkembangan zaman telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pelaksanaan adat perkawinan.
Salah satu tradisi yang mengalami transformasi cukup signifikan dalam masyarakat Makassar adalah Appanassa, sebuah prosesi adat yang selama ini dikenal sebagai simbol kesungguhan dan pengikat hubungan antara dua keluarga sebelum pernikahan berlangsung.
Kini, banyak pelaksanaan Appanassa yang tampil lebih modern, romantis, dan meriah. Namun, di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah makna asli Appanassa masih tetap terjaga?
Fenomena yang sering terlihat saat ini adalah calon mempelai pria hadir langsung dalam prosesi Appanassa, bahkan menjadi tokoh utama dalam penyematan cincin kepada calon mempelai wanita.
- Bank Sulselbar Sabet TOP Digital PR Award 2026, Bukti Komunikasi Digital Makin Solid
- Perkuat Mutu dan Integritas, Polbangtan Kementan Jalani Audit Surveillance Integrasi ISO
- Dari Prestasi Untuk Negeri, Cetak Generasi Unggul, Festival Pelajar Jeneponto Vol I Siap Digelar
- Program Doktor Pendidikan Vokasi Keteknikan UNM Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK
- Makassar Ambil Peran di Rakernas APEKSI 2026, Munafri Dorong Pembangunan Kota yang Adaptif
Momen tersebut kemudian diabadikan melalui dokumentasi profesional dan dibagikan di berbagai platform media sosial.
Bagi sebagian masyarakat, hal itu dianggap sebagai bentuk penyesuaian yang wajar dengan perkembangan zaman. Namun, jika ditinjau dari perspektif adat Makassar, praktik tersebut sebenarnya berbeda jauh dari tata cara Appanassa yang diwariskan oleh para leluhur.
Dalam tradisi asli, Appanassa bukanlah panggung bagi pasangan yang akan menikah. Prosesi ini justru menempatkan keluarga besar sebagai pusat perhatian.
Pihak laki-laki mengutus kerabat atau tokoh keluarga yang dituakan untuk menyampaikan maksud dan kesungguhan kepada keluarga perempuan.
Bahkan, calon mempelai pria maupun orang tuanya tidak diperkenankan hadir dalam prosesi tersebut. Kehadiran para tetua menjadi simbol penghormatan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab keluarga dalam membangun hubungan yang akan berlangsung secara turun-temurun.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
