Berkunjung ke GPIB Immanuel, Gereja Tertua di Parepare

GPIB Immanuel
GPIB Immanuel, Gereja Tertua di Parepare

Terkini.id, Parepare – Sebuah bangunan tua berdiri kokoh di tengah Kota Parepare, Sulawesi Selatan, bangunan tersebut didominasi warna putih.

Meski terhitung bangunan tua namun tampilannya masih kelihatan baru. Hal itu tidak terlepas dari peran jemaat Gereja GPIB Immanuel yang selalu merawatnya agar tak lekang oleh waktu.

Tercatat Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) berdiri seblum kemerdekaan Indonesia tepatnya 22 Desember 1931 yang diresmikan oleh pendeta W.W De Costa di Jalan Bau Massepe dan merupakan Gereja Protestan pertama di Parepare.

Gereja ini sudah 88 tahun menjadi tempat ibadah anggota jemaat GPIB Immanuel. Sejak itu pula, kelestarian gereja tetap terpelihara dengan baik.

Gedung gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat ini terbilang mungil. Pasalnya, luas gedung hanya berukuran 17 x 7 meter persegi.

Menarik untuk Anda:

Selasa, 17 Desember 2019, terkini.id berkesempatan untuk mendatangi gereja tersebut. Pada halaman depan gereja terdapat pagar yang terbuat dari semen dengan tinggi sekitar 1 meter berfungsi sebagai pembatas kawasan gereja GPIB.

Setelah melewati pagar, di sisi kiri dan kanan jalan menuju pintu masuk terdapat taman yang kecil, penampakan itu memperindah area gereja. Di antara taman itu ada sebuah papan bicara yang bertuliskan alamat lengkap gereja GPIB.

Setelah masuk, wartawan terkini.id disambut dengan hangat oleh dua orang laki-laki yang tengah membersihkan halaman gereja.

“Silahkan masuk pak,” kata salah satu diantara mereka kepada terkini.id.

GPIB Immanuel
GPIB Immanuel. (Foto: terkini.id/Ical Ibo)

Pada sisi kanan bagian belakang gereja, terdapat satu ruangan yang sederhana. Di situ terdapat beberapa orang yang tengah melakukan rapat persiapan untuk persiapan menyambut hari natal.

Salah satu di antara mereka keluar menemui kru terkini.id, yaitu Irawadi Walalangi selaku majelis jemaat. Laki-laki tersebut mengantar dan menemani kami masuki gereja.

“Gereja protestan ini yang tertua di Kota Parepare, dan masih terawat sampai sekarang, bangunannya tidak banyak berubah sejak didirikan. Bahkan pintu dan jendelanya masih asli,” kata Irawadi.

Jika dilihat dari depan, terlihat nuansa klasik yang monoton, karena tidak banyak paduan warna yang menghiasi dinding dan hanya terdapat dua pilar penyanggah atap pintu berwarna coklat tua.

Sementara pintu utama didominasi warna putih bergaris coklat. Pada bagian atap, ada sebuah tiang yang menjulang tinggi di atasnya terdapat patung ayam.

“Patung ayam itu juga termasuk salah satu ciri khasnya, dan itu melambangkan kehidupan,” jelas Irawadi.

Saat pintu terbuka, pandangan mata langsung tertuju pada altar yang terdapat berbagai perlengkapan ibadah dan simbol keilahian, termasuk salib. Setelah memasuki ruang utama, kursi tersusun rapi bentuknya memanjang yang terbuat dari kayu.

Pada bagian dalam, warna dinding pun monoton yang dominasi warna putih. Di dalam ruangan tidak ada pilar penyanggah atap karena desain arsitekturnya sudah memperkokoh atap, sehingga tidak membutuhkan penyanggah lagi. Jika ada pilar, itu hanya mempersempit ruangan.

“Di sinilah tempat ratusan jemaat untuk melakukan ibadah. D igereja ini ada sekitar 90 KK jemaat yang sering melakukan ibadah. Karena memang ruangannya sempit, terkadang harus menambah kursi karena sudah tidak muat,” jelasnya.

GPIB Immanuel
GPIB Immanuel. (Foto: terkini.id/Ical Ibo)

Untuk membuat jemaat fokus ibadah, ruangan dilengkapi enam pendingin ruangan, tiga pada sisi dinding kanan dan tiga lainnya terpasang di sisi kanan. Bahkan bagian atap terdapat dua lampion yang tergantung dan tentunya menambah keindahan ruangan.

Tak jarang desain arsitektur gereja ini merupakan elemen pelingkup ruang yang dijumpai memiliki makna kerohanian sebagai perwujudan nilai-nilai Kristianitas.

Sementara poin penting dalam tiap gereja yaitu Altar sebagai tempat yang suci atau biasa dipahami sebagai tempat Yesus dan muridnya mengadakan perjamuan untuk tujuan religius atau tempat sakral di mana upacara keagamaan berlangsung.

Pada altar itulah terdapat dua meja yang diletakkan pada sisi yang berbeda, meja tersebut digunakan oleh majelis. Selain meja, juga dilengkapi mimbar besar yang digunakan oleh pendeta untuk kutbah.

Di depan mimbar itulah diletakkan beberapa cawan yang menyimbolkan keilahian, bahkan di tempat inilah segala bentuk pemujaan kepada Tuhan dilakukan.

“Di altar itu asa beberapa cawan, di antaranya cawan anggur yang melambangkan darah Yesus, cawan roti melambangkan tubuh Yesus dan juga tempat baptis,” jelas Irawadi.

Jika jemaat melakukan ibadah di gereja ini, akan dipimpin langsung oleh pendeta Pendeta Ruth Yuliana Maradiah Panese.

“Di tempat ini juga kita gunakan untuk selalu menyebarkan kebaikan pada sesama manusia dan menyiarkan cinta kasih Tuhan,” tutupnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Wisata Labuangnge Barru dengan Panorama Alam Indah yang Sayang Dilewatkan

Resmi, Wings Air Buka Rute Tana Toraja-Makassar PP

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar