Terkini, Makassar – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mewaspadai potensi inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga beras, di tengah tren pelemahan pasokan dan rendahnya realisasi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog.
Kepala BI Sulsel, Rizky Ernadi Wimanda, menyebut dua komoditas utama penyumbang inflasi di Sulsel pada 2025 adalah emas dan beras. “Emas paling besar. Tapi emas ini tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah beras. Selain beras, komoditas lainnya adalah tomat, cabai, hingga ikan bandeng, udang, hingga rokok yang disebabkan oleh kenaikan cukai,” ujarnya dalam kegiatan Sulsel Talk di Kantor BI Sulsel, Selasa (12/8/2025).
Harga Beras Melejit di Atas HET
Data BI Sulsel menunjukkan harga rata-rata beras di Sulsel naik dari Rp12.415 per kilogram pada Desember 2024 menjadi Rp14.059 per kilogram pada Juli 2025. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras medium sebesar Rp12.500.
Sejumlah faktor menjadi penyebab lonjakan harga tersebut, antara lain:
– Kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dari Rp6.000/kg menjadi Rp6.500/kg, yang membuat margin beras medium semakin tipis di tengah HET yang tidak berubah.
- DPRD Sulsel Dalami Polemik Seleksi Paskibraka, Kesbangpol Bantah Tes Bahasa Daerah Jadi Penentu
- Wali Kota Makassar Dukung Penuh Delegasi Paskibraka Menuju Seleksi Nasional 2026
- Gubernur Sulsel Apresiasi Polda dan TNI Bongkar Jaringan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Wilayah Sulsel
- Laba Tumbuh 32 Persen, PT Vale Lanjutkan Transformasi sebagai Perusahaan Mineral Berkelanjutan
- Komisi IX DPR RI Himpun Masukan RUU Ketenagakerjaan di Sulteng, BPJS Tekankan Perlindungan Pekerja
– Penurunan pasokan karena puncak musim panen telah lewat pada Maret–April 2025.
– Kesulitan pasokan bagi pelaku usaha rice to rice dari penggilingan akibat tingginya serapan gabah oleh Bulog.
– Distribusi premium terganggu, karena sebagian distributor menarik pasokan dari pasar ritel.
– Rendahnya realisasi SPHP Bulog, yang pada Juli 2025 hanya tercapai 30,69% dari target, bahkan hingga 9 Agustus 2025 baru terealisasi 14,23%.
BI Soroti Penyerapan Gabah Bulog yang Rendah
Program SPHP yang diharapkan bisa menahan gejolak harga justru masih jauh dari target. Dari total target penyaluran 9,18 juta kilogram hingga awal Agustus 2025, baru terealisasi 1,69 juta kilogram atau 18,4%.
Rendahnya realisasi ini dipicu kebijakan verifikasi ulang Bulog terhadap mitra penyalur.
| Periode | Target (Kg) | Realisasi (Kg) | Progress |
|---|---|---|---|
| Juli 2025 | 3.232.246 | 850.595 | 26,32% |
| Agustus (per 9 Agustus) | 5.951.048 | 847.075 | 14,23% |
| Total | 9.183.294 | 1.697.670 | 18,40% |
Inflasi Masih Terkendali, tapi Rentan Tekanan
Meski menghadapi risiko dari harga beras, BI Sulsel memproyeksikan inflasi 2025 masih berada dalam sasaran nasional, yakni di kisaran 2,5% ± 1%. Namun, Rizky menegaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah daerah, Bulog, dan pelaku usaha pangan harus terus diperkuat agar pasokan beras stabil dan inflasi tetap terkendali.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
