Bikin Deg-degan! Indonesia Harus Waspada, Ada Ramalan Malapetaka dari China

Terkini.id, Jakarta – Bikin deg-degan! Indonesia harus waspada, ada ramalan malapetaka dari China. Ada ramalan ‘malapetaka’ baru bagi ekonomi global kini hadir dan menghantui ekonomi Indonesia. Hal itu merujuk terhadap situasi China lantaran kemunculan virus corona atau Covid-19 varian Omicron.

Munculnya varian baru yang juga dikenal sebagai B.1.1.529 itu bikin banyak negara ketar-ketir dan menutup perbatasan negara mereka. Langkah ketat juga diyakini dilakukan China.

Para analis mengungkapkan, China dapat kembali memperketat aturan ‘nol-Covid’ mereka saat ini. Ini tentu dapat mendatangkan ‘malapetaka’ di pasar global.

Baca Juga: Kasus COVID-19 Varian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia, Kemenkes...

“Penyebaran varian yang sangat mudah menular pada akhirnya dapat membuat strategi tidak dapat dipertahankan. Tetapi dalam jangka pendek, pihak berwenang lebih cenderung berlipat ganda,” terang Kepala Ekonom Asia di Capital Economics Mark Williams dalam sebuah catatan pekan lalu, seperti dikutip dari CNBCInternational via CNBCIndonesia, Selasa 30 November 2021.

Ia menambahkan, lockdown lokal secara berulang akan terus memukul aktivitas ekonomi secara langsung, sementara kekhawatiran ditandai sebagai kontak dekat akan membuat banyak orang tetap tingga di rumah.

Baca Juga: Omicron BA 4 dan BA 5 Beredar di Indonesia, Kemenkes:...

Strategi nol-Covid China sendiri melibatkan penguncian massal, kendati hanya satu atau beberapa kasus yang terdeteksi. Ini juga mencakup pengujian ekstensif, perbatasan yang sangat terkontrol atau tertutup, serta sistem pelacakan kontak yang kuat dan mandat karantina.

Negara adidaya itu juga telah menerapkan pemeriksaan ketat di pelabuhannya, termasuk memantau kapal dan kargo guna mencegah kasus masuk ke negara itu. Dengan hadirnya varian baru Omicron, kemungkinan pengetatan tindakan akan memukul kapasitas eksportir.

“Untuk eksportir, kontrol ketat terhadap kru udara dan pengiriman serta kemungkinan penutupan pelabuhan akan membatasi kapasitas mereka untuk memenuhi pesanan,” papar Williams.

Baca Juga: Omicron BA 4 dan BA 5 Beredar di Indonesia, Kemenkes:...

Sementara itu, direktur pelaksana di perusahaan investasi yang berbasis di Hongkong Nan Fung Trinity, Helen Zhu, menyuarakan sentimen serupa terkait tanggapan darurat China membendung Omicron.

“Jika Omicron ternyata menjadi ancaman besar, saya pikir China pasti akan terus memperpanjang periode isolasi,” beber Helena.

Pada Senin 29 November 2021 kemarin, Morgan Stanley melaporkan strain baru Omicron dapat menyebabkan penundaan kemajuan ekonomi yang lebih ekspansif. Secara langsung, hal itu memaksa otoritas Negeri Tirai Bambu untuk menunda pembukaan pembatasan. Menurut Morgan Stanley, tidak hanya di China, tetapi juga di Hongkong dan Taiwan.

“Ekonomi ini sebagian besar telah mempertahankan strategi nol-Covid. Dengan munculnya varian baru ini, dampak ekonomi jangka pendek kemungkinan akan terbatas. Tetapi, ini berarti setiap upaya pembukaan kembali kemungkinan akan didorong lebih jauh, menunda rebound yang lebih kuat dalam pertumbuhan konsumsi,” demikian tulis para ekonom bank.

Seperti diketahui, China sebelumnya telah terjebak dengan strategi nol-Covid, bahkan saat banyak negara mulai berdamai dengan virus ini dan mencabut beberapa pembatasan. Negara-negara pada awalnya mengambil pendekatan agresif melalui penguncian massal dan pembatasan sosial yang ketat, tetapi mereka secara bertahap meninggalkan strategi itu karena varian Delta menyebar dengan cepat, sehingga penguncian wilayah atau lockdown menjadi kurang efektif.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) resmi memasukan varian baru B.1.1.529 atau Omicron menjadi variant of concern VOC atau varian yang mengkhawatirkan. Omicron yang pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan (Afsel) memiliki banyak strain atau mutasi ketimbang varian sebelumnya, seperti Alpha, Beta, dan Delta.

Bagikan