Bocah Ini Alami Gangguan Jiwa Usai Dicakar Kucing, Kok Bisa?

Kucing
Ilustrasi seorang bocah dicakar kucing. (Foto: youtube)

Terkini.id – Kucing merupakan salah satu hewan menggemaskan yang banyak dijadikan orang-orang sebagai hewan peliharaan untuk menemaninya di rumah.

Meski kerap melakukan cakaran dan gigitan kecil, namun hal itu tidak menjadi masalah karena merupakan hal wajar dan dianggap sebagai candaan.

Namun lain halnya dengan yang dialami remaja laki-laki berusia 14 tahun ini. Suasana hatinya mulai berubah dengan cepat dan itu bukan hasil dari masa pubertas.

Bocah Midwestern yang tidak disebutkan namanya ini, mulai mengalami gejala-gejala seperti psikosis termasuk halusinasi, depresi dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri. Bahkan dua psikiater mendiagnosisnya dengan schizophrenia.

Setelah mendengarkan pendapat lain dari dokter, diketahui bahwa penyakit bocah tersebut kemungkinan bukan akibat gangguan mental, tetapi luka fisik yaitu goresan dari kucing peliharaannya.

Diagnosis yang langka ini kemudian dijabarkan dalam sebuah studi kasus baru yang diterbitkan dalam Journal of Central Nervous System Disease.

Menurut laporan jurnal tersebut, dari Oktober 2015 hingga Januari 2017, bocah itu terus masuk dan keluar dari rumah sakit dan pusat perawatan setelah mengatakan bahwa dia merasa kewalahan, bingung, depresi dan gelisah.

Bahkan, dirinya pernah ditempatkan di rumah sakit jiwa selama seminggu setelah mengatakan bahwa dia adalah anak setan yang jahat, dan terkutuk.

Dokter dengan cepat mulai menggali catatan medis anak itu, dan berharap menemukan jawaban yang akan menjelaskan perilaku aneh bocah tersebut.

“Secara historis, sebelum timbulnya gejala kejiwaan, bocah itu aktif secara sosial, atletik, dan akademis, sebagaimana dibuktikan partisipasinya dalam kompetisi geografi dan sejarah nasional, aktor utama dalam ekskul drama, dan mencapai nilai kursus yang sangat baik,” tulis laporan tersebut.

“Para profesional medis tidak menemukan sama sekali depresi, penyalahgunaan alkohol, dan kemungkinan gangguan bipolar dalam riwayat keluarganya,” sambung pernyataan dalam laporan jurnal itu.

Sang bocah dirawat 11 minggu di rumah sakit jiwa

Kucing
Cakar kucing. (Foto: quora)

Setelah didiagnosis schizophrenia pada Januari 2016, anak itu diberi berbagai obat psikotropika.

“Dia mengalami gejala somatik non-spesifik, termasuk kelelahan yang berlebihan, sakit kepala setiap hari, nyeri dada, sesak napas (kemungkinan panik),” laporan itu menjelaskan.

Saat Musim panas waktu itu, bocah tersebut dirawat selama 11 minggu di rumah sakit jiwa, dimana dia menjalani sebuah tes. Setelah tes berakhir, orangtua bocah itu melihat bekas luka aneh di sekitar paha dan ketiaknya.

Dokter mengatakan bahwa itu lebih terlihat seperti goresan dari kucing. Menurut laporan jurnal tersebut, anak itu menderita penyakit dari cakaran kucing akibat infeksi bakteri Bartonella Henselae yang telah ditemukan dalam sepertiga darah kucing yang sehat.

“Infeksi dianggap cukup umum dan tidak serius. Biasanya, itu hilang sendiri tetapi dalam kasus-kasus serius seperti ini, antibiotik atau perawatan medis lainnya mungkin diperlukan,” kata laporan tersebut.

Untuk menghindari infeksi, CDC merekomendasikan untuk memelihara kucing peliharaan tetap berada di dalam ruangan, dan agar mencuci tangan setelah menyentuh kucing. Setelah menerima antibiotik, anak itu sepenuhnya pulih dari penyakitnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini