Terkini.id, Jakarta – BPS ungkap faktor pemicu Indonesia bisa keluar dari jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi yang melesat pada kuartal kedua tahun ini, seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis 5 Agustus 2021, tidak lepas dari kontraksi ekonomi dalam yang terjadi pada periode yang sama tahun lalu.
Ekonomi pada kuartal kedua 2020 minus 5,32 persen akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menghantam konsumsi rumah tangga kala itu.
Menurut Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual dengan seluruh Kepala BPS Provinsi dan wartawan, Kamis 5 Agustus 2021, mengungkapkan pertumbuhan ekonomi negatif berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini yang mencapai 0,74 persen dengan tren yang menurun seperti terlihat dalam data yang dipaparkannya.
Konsensus pasar yang dihimpun, sebelumnya memperkirakan ekonomi pada kuartal kedua tumbuh 6,9 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Proyeksi itu sendiri sejalan prediksi Bank Indonesia (BI) yaitu pertumbuhan sedikit di bawah tujuh persen, namun di bawah perkiraan pemerintah 7,1 persen hingga 7,5 persen.
Sementara itu, saat dihubungi wartawan, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, pengaruh efek tahun dasar atau low base effect yang negatif lebih dari lima persen pada kuartal kedua 2020, memberikan pengaruh besar.
- Sinergi OJK, BPS, dan LPS Kawal SNLIK 2026 di Sulsel--Sulbar, Dorong Masyarakat Makin Melek Keuangan
- BPS Sebut Tren Tingkat Kemiskinan di Sulsel Menurun Enam Tahun Terakhir
- Kesadaran Tumbuh dari Luka
- OJK Bersama BPS Umumkan Hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan Tahun 2025
- Tingkatkan Kualitas Data Statistik, Pemkab Gowa Perkuat Kolaborasi Dengan BPS
“Selain itu, ada faktor percepatan penyaluran bansos yang terbantu faktor musiman Lebaran mendukung pemulihan konsumsi rumah tangga,” terangnya, seperti dilansir dari katadata.co.id, Kamis 5 Agustus 2021.
Hal ini, sebut Josua, diindikasikan dari sejumlah indikator yang membaik pada April-Juni 2021. Keyakinan konsumen pada sepanjang kuartal kedua ini berada di level optimistis dan penjualan ritel tumbuh positif.
Sementara PMI manufaktur berada di level ekspansif pada April-Juni 2021, dan hal tersebut berkontribusi mencetak rekor tertinggi pada Mei 2021 mencapai 55,3.
Menyambung data BPS, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar produk domestik bruto dengan porsi mencapai lebih dari 50 persen.
Adapun Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan, selain konsumsi rumah tangga, ia juga memperkirakan ekonomi pada April-Juni 2021 ditopang sektor investasi.
Seperti diketahui, Badan Koordinasi Penanaman Modal/Kementerian Investasi melaporkan realisasi investasi pada kuartal kedua 2021 sebesar Rp 223 triliun, tumbuh 16,2 persen dibandingkan realisasi sama tahun lalu.
Penanaman modal asing (PMA) tumbuh 19,6 persen menjadi Rp 116,8 triliun, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) tumbuh 12,7 persen menjadi Rp 106,2 triliun.
Selain itu, kinerja ekspor dan impor juga cukup mumpuni. BPS sendiri mencatat, ekspor sepanjang semester pertama pada 2021 ini naik 34,78 persen secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai 102,87 miliar dolar AS.
Adapun sektor impor naik 28 persen yoy menjadi 91,1 miliar dolar AS. Dengan demikian, alhasil neraca perdagangan surplus mencapai 11,86 miliar dolar AS.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
