Butet Kartaredjasa: Eyangnya Anies Baswedan Partai Arab Sudah Bubar, Kita Telah Jadi Indonesia

Terkini.id, Jakarta – Sebuah video yang memperlihatkan Budayawan Butet Kartaredjasa menyinggung soal eyang atau leluhur Anies Baswedan yakni Partai Arab sudah bubar setelah Indonesia berdiri, viral di media sosial.

Video Butet Kartaredjasa singgung soal eyang Anies Baswedan, Partai Arab itu viral usai diunggah pengguna Twitter Bambangmulyono2, seperti dilihat pada Kamis 19 Mei 2022.

Dalam narasi cuitannya, netizen itu mengutip ulang oernyataan Butet Kartaredjasa dalam video itu yang tampak jengkel dengan politik identitas.

Baca Juga: London dan Jakarta Kerja Sama Pembiayaan Transportasi, Guntur Romli: Anies...

“Politik identitas emang A S U,” cuit netizen Bambangmulyono2.

Dilihat dari video itu, tampak Butet Kartaredjasa tengah berbincang bersama budayawan kondang lainnya yakni Sujiwo Tejo.

Baca Juga: Singgung Nama Jalan Diganti Anies, Orang Ini Ganti Lagu Iwan...

Butet pun menyinggung soal impian pendiri bangsa Indonesia yakni Bung Karno yang memimpikan kemajemukan di Indonesia.

“Sampai hari ini, parah banget. Bayangkan, orang Indonesia leluhur bangsa, Bung Karno memimpikan kemajemukan,” ujar Butet Kartaredjasa.

Ia pun lantas menyinggung leluhur Anies Baswedan yakni Partai Arab yang menurutnya sudah bubar setelah Indonesia berdiri.

Baca Juga: Singgung Nama Jalan Diganti Anies, Orang Ini Ganti Lagu Iwan...

“Eyangnya Anies Baswedan itu, setelah jadi Indonesia Partai Arab dibubarkan, membubarkan diri. Kita sudah jadi Indonesia,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Butet, masyarakat sekarang harusnya menyadari terkait kemajemukan dimana Indinesia saat ini hidup dalam payung besar kemajemukan itu.

“Kita harus menyadari kemajemukan. Nanti jadi negara Indonesia dan kita hidup dalam payung besar kemajemuk itu,” tegasnya.

Usai menyinggung soal Partai Arab yang menurutnya merupakan leluhur atau eyang Anies Baswedan, Butet Kartaredjasa pun tampak jengkel dengan politik identitas yang malah memperkecil payung kemajemukan bangsa Indonesia tersebut.

“Lah kok saiki perkecil, politik identitas, asuhh,” ujarnya.

Bagikan