Terkini.id, Soppeng – Di tengah pandemi Covid-19, dokter dan perawat sangat berperan penting dalam penanganan Covid-19. Tak hanya itu, tenaga analis laboratorium yang memeriksa spesimen tes Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) juga menjadi garda terdepan.
Sejak Kabupaten Soppeng menghadirkan alat mesin polymerase chain reaction (PCR) yang berfungsi mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus pada saat pendemi, laboratorium kesehatan daerah (Lebkesda) Soppeng menjadi LAB rujukan Covid-19.
Lebkesda Soppeng ditunjuk Kemeterian Kesehatan untuk mwnangani tiga kabupaten di Sulsel yakni Bone, Soppeng dan Wajo.
Di laboratarium itu juga terdapat 22 petugas yang akan memeriksa spesimen sample Swab di tiga kabupaten.
Salah satu ATML Labkesda Soppeng Fatmawati, S.Si. T., M.Adm Kes berbagi cerita mengenai suka duka saat melakukan pemeriksaan sample (Swab) pasien yang datang untuk memasuki proses pengujian.
- Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Volleyball Cup 2026 dengan Mengalahkan Korea Selatan
- Pesantren Madani Parmusi Dibangun di Tombolo Pao, Kemenag Gowa Pastikan Pendampingan Legalitas
- 32 Negara Resmi Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026, Berikut Jadwalnya
- Lukman B Kady Serap Aspirasi Warga Bontoala Saat Pengawasan APBD 2026
- Selain Dinas Perkimtan Gowa, Polisi Juga Usut Dugaan Korupsi Rehabilitasi Masjid Agung Syekh Yusuf
Selama bertugas sejak awal Mei 2020 lalu, dia bersama 22 rekan lainnya yang bertugas di Labkesda Soppeng, tentu mendapati kendala yang beragam, mulai dari sampel pasien tanpa identitas, hingga melakukan proses pengujian sampel berulang kali.
“Saat awal kami bertugas,banyak kendala yang kami hadapi, seperti pengirim tidak memberi identitas yang sama, belum lagi dengan sampel yang banyak tentu akan memakan waktu yang lama. Dan terjadi kontaminan sample sehingga pengerjaan perlu diulang,” ujar Fatmawati, Minggu 27 Desember 2020.
Fatma juga mengungkapkan para petugas di laboratorium sangat berisiko terpapar Covid-19. Namun pihaknya tetap menggunakan APD Lengkap yang sudah standar operasional prosedur (SOP).
“Di laboratorium kami menerima dalam bentuk sampel dari pasien dan suspek. Namun, kami juga harus tetap hati-hati. Kami menggunakan APD standar operasional untuk melindungi petugas dan lingkungan sekitar saat pemeriksaan,” tuturnya.
Lanjut Fatmawati, di laboratorium kesehatan daerah Soppeng terdapat 22 orang petugas. Masing-masing memiliki tugas, seperti tenaga teknis PCR sebanyak 7 orang, tenaga lab klinik 7 orang, kesling 2 orang dan manajemen 7 orang.
“Kami 22 orang yang bertugas, seperti saya di teknis PCR bersama 6 petugas, tenaga di Lab klinik 7 orang, kesling 2 orang dan di manajemen juga 7 orang,” ujarnya.
Lewat perbincangan terkini.id melalui pesan WhatsApp, Fatmawati menceritakan bagaimana proses pengujian Sample Swab.
“Awal dilakukan identifikasi sampel dan koding serta persiapan bahan dan alat, selanjutnya proses sampel secara manual pada tahap ekstraksi sampel untuk memurnikan RNA virus dan diubah menjadi cDNA, kemudian masuk ke proses Mixing,” ungkapnya.
Lanjut Fatmawati, setelah peroses Mixing maka akan dilanjutkan proses pada mesin PCR.
“Dimana RNA tadi dimix dengan reagen yang mengandung gen target Covid-19, selanjutnya di masukkan ke mesin PCR dimana pada proses ini terjadi amplifikasi atau penggandaan materi genetik, setelah itu memasuki proses pada mesin PCR. Setelah selesai, selanjutnya dilakukan analisa hasil dan kesimpulan, memastikan hasil valid sebelum dikeluarkan,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam menentukan hasil juga sering mendapat kendala seperti inhibitor yang mengganggu proses amplifikasi.
“Bila hasil belum valid dilakukan pengujian ulang, ini bisa disebabkan adanya inhibitor yang mengganggu proses amplifikasi,” ujarnya.
Analisis Laboratorium kesehatan daerah Soppeng ini juga mengatakan bahwa pengujian sampel bisa mencapai 7 jam dengan 92 sample satu kali running.
“6-7 jam untuk 92 sampel, bila terjadi inhibisi bisa lebih lama karena harus dilakukan pengulangan. Kecuali sampel Cito dirunning sendiri dengan menunda sampel lain dulu, bisa 3 jam, itu sedikit cerita bagaimana pengujian Sample,” bebernya.
Wanita yang akrab disapa Fatma ini juga sangat bangga menjadi salah satu bagian dari garda terdepan dalam penangan Covid-19 di kabupaten Soppeng.
“Alhamdulillah, Soppeng menjadi daerah mandiri dengan alat yang memadai. Dan Labkesda Soppeng mendapat kepercayaan untuk menghandel 3 Kabupaten menjadi salah satu tim garda terdepan pencegahan Covid-19 di Kabupaten Soppeng dan suatu para Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) Kabupaten Soppeng beserta petugas lainnya,” ucapnya.
“Terkhusus Tim PCR luar biasa mendapat kesempatan mendarmabaktikan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Tentunya tidak akan terjadi tanpa dukungan pemerintah. Suatu kebanggaan bahwa Pemda Soppeng menyediakan sarana dan fasilitas untuk mengembangkan potensi SDMnya, sehingga Labkesda Soppeng dapat berkembang dan dikenal,” sambungnya.
Semenjak Fatma bertugas di Labkesda Soppeng, kebersamaan dengan keluarganya mulai berkurang, akan tetapi dirinya bersyukur mendapatkan keluarga yang memahami pekerjaannya dan terus mendukungnya.
“Sebagai ibu dan istri saya tidak punya waktu untuk bersama keluarga. Saya mensiasatinya dengan meningkatkan quality time bersama keluarga. Bahkan saat-saat ada sampel mendesak dan harus lembur tembus pagi, sesekali gantian anak dan suami menemani. saya di lab kerja sampel, mereka di ruang kantor menunggui,” ceritanya.
Fatma berharap agar masyarakat semakin sadar, tetap menjaga diri dan keluarga dengan mematuhi protokol kesehatan dan tetap tidak bosan menggunakan masker.
“Mari bersama-sama menjadi orang yang melindungi diri sendiri, keluarga dan teman terdekat dengan mematuhi protokol kesehatan. Ingat cuci tangan, sosial distancing dijaga, dan menghindari kerumunan. Bila tidak, maka pandemi akan bertambah panjang dan tidak ada selesainya,” ujarnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
