Terkini.id, Jakarta – Sejak pandemi virus Corona atau Covid-19, kini nasib China seakan tidak berjalan dengan mulus. Sebab ramai-ramai krisis menghantam Negeri Tirai Bambu tersebut secara berturut-turut.
Diketahui salah satu krisis yang menghantui China saat ini adalah krisis listrik, yang dikabarkan bakal makin meluas sejak beberapa bulan lalu. Pasalnya, krisis ini terjadi karena akumulasi sejumlah masalah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun saat ini, China kekurangan batu bara yang mendominasi 70% sumber listrik. Ini terjadi setelah rekor harga bahan bakar yang tinggi, serta permintaan industri pasca pandemi yang meningkat seiring desakan menggunakan industri yang lebih ramah lingkungan.
Krisis listrik di China tidak memberatkan rumah tangga, tetapi ini juga menyebabkan gangguan produksi di banyak pabrik. Hampir 20 wilayah di negara tersebut mengalami gangguan pemadaman di hampir 20 wilayah.
Melonjaknya harga energi berimplikasi pada kenaikan harga produsen ke level tertinggi setidaknya dalam 25 tahun pada September. Pekan lalu, harga naik 10,7% dari tahun sebelumnya.
- Warga China Pilih Lawan Cuaca Dingin dan Lonjakan Covid-19
- Terawan Sebut Pengguna Vaksin Nusantara Tidak Perlu Booster, Netizen: Lawannya Politik Susah Pak
- Omicron BA 4 dan BA 5 Beredar di Indonesia, Kemenkes: Mungkin Pertengahan Juli
- Jelang G20, Airlangga Singgung Kesiapan Pendanaan Global Agar Pandemi Tak Terulang
- Meski Covid-19 Terkendali, Airlangga Ungkap PPKM Tetap Diperpanjang Usai Lebaran
Selain itu musim dingin yang akan datang juga kemungkinan memperburuk situasi. Suhu di China utara misalnya, sudah turun di bawah normal. Ini makin meningkatkan permintaan pemanas di tengah krisis listrik. Dilansir dari CNBC. Minggu, 28 November 2021.
Tiga provinsi timur laut, Jilin, Heilongjiang dan Liaoning, yang saat ini juga kekurangan listrik, juga memulai penggunaan pemanas untuk musim dingin. Hal yang sama juga terjadi di provinsi Mongolia Dalam dan Gansu yang bergantung pada PLTU batu bara untuk mengatasi cuaca yang lebih dingin dari biasanya.
Sebenarnya, pemerintah Beijing disebut sudah mulai melakukan sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga batu bara dan meningkatkan produksi. Pemerintah juga menerapkan penjatahan listrik di pabrik-pabrik.
China disebut menyetujui 153 tambang baru untuk meningkatkan kapasitas. Negeri itu berharap bisa menambah pasokan hingga 55 juta ton pasukan di kuartal IV 2021. Namun sayangnya Sebanyak 60 tambang batu bara dikabarkan tenggelam.
Selain krisis listrik, China juga diperkirakan mengalami stagflasi. Ekonomi yang melambat tetapi inflasi tinggi inilah yang dikenal dengan istilah stagflasi dan menjadi ‘mimpi buruk’ bagi china, karena pelaku ekonomi harus membayar mahal demi pertumbuhan ekonomi yang biasa saja.
Inflasi tingkat produsen (Producer Price Index/PPI) China pun melonjak tajam. Pada September 2021, PPI China mencapai 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tertinggi setidaknya sejak 1996.
Saat tekanan inflasi mulai terasa, output perekonomian malah melambat. Ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI).
Selain itu, gelombang baru Covid-19 akibat varian Delta di China juga makin menyebar. Setidaknya, sejak klaster wisata ditemukan 17 Oktober, hingga Minggu, 14 November 2021 sudah ada 1.308 kasus lokal yang dideteksi pemerintah Tirai Bambu.
Sejak pasien bergejala lokal pertama di Dalian dari wabah terbaru dilaporkan pada 4 November, kota pelabuhan berpenduduk 7,5 juta orang itu telah mendeteksi rata-rata sekitar 24 kasus lokal baru sehari. Jumlah ini lebih banyak daripada kota-kota China lainnya.
Lantas apakah krisis China akan berdampak pada Indonesia?
Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari produk China terutama bahan baku. Tidak dipungkiri krisis bahan baku akan menjadi masalah berikutnya, kalau negeri panda tidak bisa menjawab permintaan karena krisis energi. Salah satu sektor yang terdampak adalah industri alas kaki.
Director Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan 60% bahan baku alas kaki sudah bisa diproduksi dalam negeri, sementara sisanya masih bergantung dari China, Vietnam dan Eropa.
“Ketika mereka terjadi krisis energi, dan gelombang covid kedua, kita mulai kesulitan bahan baku. Begitu juga dari Eropa bergantung juga dari China. Jadi ketika ada barang dari Eropa yang mau masuk Indonesia juga jadi mahal,” katanya.
Krisis kontainer juga menjadi masalah yang belum selesai. Padahal saat ini permintaan alas kaki sedang melonjak di pasar global.
Firman membeberkan ada investor bahan baku yang masuk Indonesia, sehingga diharapkan beberapa tahun kemudian Indonesia tidak lagi bergantung pada bahan baku impor.
“Kita harap tidak lagi bergantung pada impor. Saya harap kita membuka diri buka insentif untuk bahan baku, karena posisinya kita butuh bahan baku dari dalam negeri,” katanya.
Wakil Ketua Bidang Manufaktur Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Bob Azam pun mengingatkan jangan menaruh investasi pada satu tempat. Karena ketika China menghadapi masalah imbasnya besar ke negara-negara yang bergantung. Ditambah dengan adanya Undang-Undang Ciptakerja yang memudahkan bagi investasi yang masuk ke Indonesia.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
