Terkini, Makassar – Pagi tadi, suasana di kediaman Aliyah Mustika Ilham berbeda dari biasanya. Senin, hari kerja pertama setelah ia resmi menjabat sebagai Wakil Wali Kota Makassar.
Namun sebelum berangkat ke Balai Kota, ada satu ritual yang tak terlewatkan: berpamitan dan bersalaman dengan suaminya, Ilham Arief Sirajuddin.
Aliyah berdiri di depan pintu, mengenakan seragam dinasnya dengan rapi. Di hadapannya, Ilham—mantan Wali Kota Makassar dua periode—menatapnya dengan penuh arti. Tanpa kata-kata berlebih, Aliyah menyalami tangan suaminya. Gestur sederhana yang sarat makna: hormat, restu, dan dukungan.
“Bismillah, mohon doa dan restunya,” ujar Aliyah lirih sebelum melangkah pergi. Ilham hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan.
Momen itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tapi di baliknya, tersimpan kisah panjang perjalanan seorang perempuan yang kini berada di panggung kekuasaan. Aliyah bukan hanya istri seorang mantan wali kota, tetapi kini ia sendiri menapaki jalur kepemimpinan.
- Tebar 45 Ekor Sapi Kurban, Ridwan Wittiri: Idul Adha Momentum Perkuat Solidaritas dan Kemanusiaan
- RS UIN Alauddin Resmikan Kerja Sama Pelayanan dengan BPJS Kesehatan
- RS UIN Alauddin Resmi Layani Pasien BPJS, Siapkan 70 Tempat Tidur dan Standar KRIS
- HIGAR Segera Buka Cabang Baru di CPI Makassar, Hadirkan Kelas HYROX dan Spinning
- Cegah Anak Tidak Sekolah, Disdukcapil Bersama Disdikbud Jeneponto Sosialisasikan Pemadanan Data Dapodik, ATS Berbasis NIK
Sebagai politisi, Aliyah telah lama berkecimpung dalam dunia birokrasi dan kebijakan. Namun kini, tantangannya berbeda. Jabatan Wakil Wali Kota Makassar bukan sekadar titel, melainkan amanah yang mengharuskannya bergerak, memimpin, dan mengambil keputusan.
Ilham, yang sempat memimpin Makassar pada 2004-2014, memahami betul beratnya tanggung jawab itu. Ia tahu, peran yang kini diemban sang istri akan menguras tenaga dan pikirannya.
Tapi pagi ini, ia tidak memberikan petuah panjang lebar. Tidak ada wejangan politik atau strategi pemerintahan. Hanya genggaman tangan dan tatapan penuh keyakinan.
Bagi Aliyah, pagi ini adalah awal dari perjalanan panjang. Restu dan dukungan keluarga menjadi fondasi.
Namun di luar sana, ia akan dihadapkan pada realitas politik dan birokrasi. Masalah kota menanti di meja kerjanya: tata kelola sampah, banjir, kemacetan, hingga pelayanan publik yang sering dikeluhkan warga.
Aliyah melangkah keluar rumah, menembus udara pagi yang masih segar. Ia tahu, tantangan ke depan tak akan mudah.
Tapi dengan restu yang ia bawa sejak dari rumah, ia siap menghadapi apa pun yang menantinya di Balai Kota Makassar.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
