Demokrasi Rasa Kopi

Demokrasi Rasa Kopi

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

PENDAPAT Abraham Linkoln yang mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun demokrasi di Indonesia kadangkala berubah wujud setelah kampanye yakni dari rakyat, oleh rakyat dan hanya kalangan elit.
Demokrasisebagai sistem yang telah disepakati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia patut digugat oleh pelakunya itu sendiri. Secara prosedural demokrasi di Indonesia belum optimal karena banyaknya indikasi ‘kecurangan’.
Seperti dalam pemilu yang masih dihiasi berbagi problem klasik berupa kampanye hitam, politik uang, saling mencela dan isu SARA, menyebarkan berita bohong, bahkan perkusi terhadap lawan politik dan intrik lainnya.
Dan pendidikan politik yang semestinya domain tanggung jawab partai politik juga belum berjalan maksimal sesuai regulasi yang ada. Partai Politik berlomba menggaet publik figur atau tokoh yang berpengaruh demi mendapat simpati dan pundi-pundi suara. Bahkan kader partai politik pun yang berdarah-darah memperjuangkan partainya menjadi sekedar penonton dalam setiap pesta kontestasi.
Kesadaran rakyat pun untuk berpartisipasi dalam pemilu mengalami fluktuasi sehingga muncullah kelompok ‘swing voters’. Hal ini disebabkan karena subtansi berdemokrasi yakni kesejahteraan rakyat belum terjewantahkan dalam sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai amanat konstitusi.
Hal ini disebabkan oleh para calon perwakilan rakyat di parlemen yang memjanjikan janji manis yang berujung kepahitan. Rakyat hanya disajikan bagi-bagi ‘kue’ kekuasaan, kongkalikong di ruang sidang, intrupsi banting meja dan lawan serta suara ‘ngorok’ perwakilannya di kursi yang katanya terhormat.

Demokrasi Rasa Kopi

Dalam perpolitikan Indonesia tidak ada lawan dan kawan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan diperebutkan bak kue lapis. Irisan simponi, seremoni dan cipika-cipiki dilakukan oleh elit untuk sebuah jabatan atau posisi tertentu.

Pemuda milenial pun lebih asik berkumpul di Warung Kopi bermain game online ketimbang memperbincangkan problem demokrasi di Indonesia. Jikalau pun ada talkshow politik di Warkop, maka kadangkala dihadiri oleh para aktivis dengan latar belakang beragam.
Diskusi berbagi macam hiruk-pikuk dalam setiap momentum pemilu berlangsung alot. Akan tetapi, tidak melahirkan rekomendasi untuk sebuah perubahan yang nyata. Sehingga kejadian ajang lima tahunan di Republik ini tidak membuahkan perubahan yang lebih baik.
Obrolan demokrasi di warung kopi sebatas rasa kopi. Pahitnya akan terasa ketika disuguhkan tanpa gula. Begitulah gambaran berdemokrasi di Indonesia bisa diibaratkan dengan rasa kopi. Pemilu hanya sekedar seremoni dan ajang janji manis. Manisnya janji para kontestan pemilu, akan tetapi akan terasa pahit kemudian ketika calon telah duduk di kursi empuknya.
Ruh dan esensi berpemilu yakni menuju kesejahteraan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tidak hanya pahit tetapi juga mencabit perasaan pemilih. Bagaimana tidak sebab rakyat masih menjerit kelaparan, ketika sakit mesti bayar, anak putus sekolah, tidak ada perlindungan hukum bagi orang miskin dan lain sebagainya.
Lain daripada itu, takkala suara mahasiswa menggema dan memprotes malah dikorbankan dan ditembaki hingga nyawa melayang. Bahkan demonstrasi dibawah terik matahari dengan membawa aspirasi rakyat kebanyakan hanya dianggap angin lalu. Yang lebih memiriskan lagi tanda penyambung aspirasi rakyat tersebut malah dituduh ‘ditunggangi’ oleh kalangan tertentu.
Dikutip dari salah status di media sosial bahwa generasi 2045 nantinya harus terus mengubah nasib bangsa dari ‘Indonesia Bisa’ menjadi ‘Indonesia Serba Bisa’. Secara ekonomi, bisa menjadi raksasa Asia, secara politik, bisa menjadi demokrasi yang mapan, dengan politik yang berkualitas. Secara budaya, tradisi dan modernitas tumbuh bersama secara harmonis. Secara sosial, rakyat bisa hidup bebas, rukun dan bahagia dari Sabang sampai Merauke.
Harapan dan optimisme akan perubahan yang lebih baik terus menggema di kalangan muda Indonesia dari warung kopi sampai kepada kehidupan semanis gula.
Penulis
Syarief Kate (Founder Home Writing Institute dan Alumni Sekolah Demokrasi Gowa II, Sulsel)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.