Di Ujung Gubuk Reot, 7 Tahun Sebatang Kara, Daeng Sangkala Terbaring Sakit Tanpa KTP dan Perawatan

Di Ujung Gubuk Reot, 7 Tahun Sebatang Kara, Daeng Sangkala Terbaring Sakit Tanpa KTP dan Perawatan

S
Syarief

Penulis

Terkini, Jeneponto — Angin kencang sering berhembus menusuk sela-sela dinding anyaman bambu yang sudah lapuk di Desa Jenetallasa, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Di sudut gubuk reyot itu, Daeng Sangkala (nama panggilan akrabnya) berbaring lemah di atas alas yang sudah tipis. Selama tujuh tahun belakangan, lelaki lansia ini hidup sebatang kara, tanpa sanak saudara yang menjenguk, apalagi merawat. Kini, tubuhnya yang ringkih makin tak berdaya karena sakit yang dideritanya, namun tak ada tangan yang sigap menolong.

Menurut informasi yang dihimpun Terkini.id, keberadaan anak kandung Daeng Sangkala hingga kini tidak diketahui. Ia hidup sendiri sejak hubungan dengan keluarganya renggang dan anaknya pergi meninggalkan desa bertahun-tahun silam.

Sejak itu, hari-harinya berlalu dengan sekadar bertahan hidup, mencari makan di sekitar lingkungan desa, meminum air dari sumber terdekat, dan menahan dingin saat malam tiba. Gubuk kecil itu menjadi satu-satunya tempat berteduh, meski atapnya sering bocor saat hujan turun.

Kondisi yang paling memilukan terungkap saat warga sekitar melihat Daeng Sangkala terbaring diatas papan rapuh. Ia sering mengeluh nyeri di sekujur tubuh, namun tak mampu bangun untuk berjalan. Warga yang kadang berkunjung hanya bisa memberi sedikit makanan, namun tidak mampu memberikan penanganan medis yang layak.

Di Ujung Gubuk Reot, 7 Tahun Sebatang Kara, Daeng Sangkala Terbaring Sakit Tanpa KTP dan Perawatan

Situasi makin berat karena Daeng Sangkala tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tanpa dokumen identitas resmi, ia tidak tercatat dalam data kependudukan, sehingga sama sekali belum pernah menerima bantuan sosial apa pun dari pemerintah, baik tingkat desa maupun kabupaten.

Baca Juga

Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah lama ingin melaporkan kondisi ini, namun terkendala ketidaktahuan prosedur yang harus ditempuh. “Ia diam saja di sana, jarang bicara. Kalau kami bawa makanan, ia terima dengan senyum yang makin tipis. Tapi kalau sakit kambuh, ia hanya diam menahan sakit sendirian,” ujarnya dengan nada sedih kepada Terkini.id, Kamis, 11 Juni 2026.

Berita mengenai nasib Daeng Sangkala dengan cepat menyebar di kalangan warga dan publik luas. Banyak pihak yang menyuarakan harapan agar pemerintah Kabupaten Jeneponto segera turun tangan. Langkah yang diharapkan bukan sekadar kunjungan sapa, melainkan tindakan nyata: penanganan medis segera, pembuatan dokumen kependudukan, serta jaminan bantuan rutin agar ia bisa menjalani sisa hidup dengan layak dan aman.

“Lansia seperti Daeng Sangkala adalah tanggung jawab kita bersama. Ia tidak boleh dibiarkan terbaring sakit tanpa ada yang merawat di pelosok desa,” tulis salah satu warga di media sosial. Harapan publik tertuju pada kesigapan pemerintah agar kisah hidup yang pahit ini segera berakhir dengan kehadiran uluran tangan yang tulus.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.