Dikukuhkan sebagai Guru Besar UNM, Prof Sultan Perkenalkan Model LITERASI untuk Wujudkan Pembaca Berdaulat

Dikukuhkan sebagai Guru Besar UNM, Prof Sultan Perkenalkan Model LITERASI untuk Wujudkan Pembaca Berdaulat

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkini, Makassar – Prof. Dr. Sultan, S.Pd., M.Pd., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan Bahasa Indonesia pada Sidang Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berlangsung di Gedung Teater Menara Pinisi UNM, Gunungsari, Kamis (30/7/2026).

Momentum pengukuhan tersebut menjadi ajang bagi Prof Sultan memperkenalkan gagasan Model Pembelajaran LITERASI sebagai pendekatan pembelajaran membaca yang berorientasi pada penguatan literasi kritis.

Melalui model ini, ia mendorong lahirnya pembaca berdaulat, yakni peserta didik yang mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan mengambil keputusan secara mandiri di tengah derasnya arus informasi digital.

Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Pembelajaran Literasi Kritis sebagai Jalan Pemberdayaan: Mewujudkan Peserta Didik Menjadi Pembaca Berdaulat di Era Infodemik”, Prof Sultan menegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak lagi cukup hanya mengajarkan tata bahasa maupun kemampuan memahami isi bacaan.

Menurutnya, pembelajaran membaca harus menjadi proses pemberdayaan yang membentuk peserta didik menjadi individu yang kritis dan mandiri.

Baca Juga

“Pembelajaran membaca harus bergerak melampaui kemampuan menemukan informasi dan memahami isi bacaan. Pembelajaran membaca harus menjadi proses pemberdayaan yang menempatkan peserta didik sebagai subjek yang mampu berpikir, menilai, memilih, mempertanyakan, dan mengambil keputusan atas informasi yang dibaca,” ujar Prof Sultan.

Ia menjelaskan, masyarakat saat ini menghadapi fenomena infodemik, yaitu kondisi ketika informasi beredar sangat masif, baik yang akurat maupun yang menyesatkan.

Melimpahnya informasi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kemampuan masyarakat dalam menyaring dan memverifikasi informasi belum sepenuhnya memadai.

Prof Sultan juga menyoroti rendahnya kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor literasi membaca Indonesia berada pada angka 359, masih jauh di bawah rata-rata negara peserta yang mencapai 476.

Menurutnya, sebagian besar peserta didik telah mampu menemukan informasi yang tersurat dalam teks, namun masih lemah dalam menafsirkan, merefleksikan, mengevaluasi, hingga mengkritisi isi bacaan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.