Terkini, Makassar — Direktur Al Hajj Travel, Andi Candrawali, berharap Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ASITA Tahun 2026 mampu melahirkan berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat industri pariwisata nasional di tengah perubahan tren wisatawan dan tantangan global.
Menurut Andi Candrawali, Indonesia masih memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Bonus demografi dan kekayaan destinasi wisata dinilai menjadi modal utama dalam mendorong pertumbuhan industri wisata nasional.
“Harapan kami dari Rakernas ini mudah-mudahan bisa menghasilkan sesuatu yang baik untuk perbaikan pariwisata ke depan. Potensi pariwisata Indonesia sangat besar, apalagi di tengah kondisi geopolitik global saat ini,” ujarnya di sela pelaksanaan Rakernas ASITA 2026 di Foints by Sheraton Makassar, Kamis 7 Mei 2026.
Ia mengatakan sektor pariwisata memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi karena melibatkan banyak pihak dalam satu ekosistem, mulai dari hotel, restoran, transportasi, pelaku UMKM, hingga masyarakat lokal.
Candra juga menyoroti perubahan tren wisatawan yang kini semakin digital dan mandiri seiring perkembangan teknologi di sektor perjalanan wisata.
- Transparan, Dinkes Jeneponto Ungkap Temuan Bakteri dan Histamin Penyebab 29 Anak Sakit Usai Makan MBG
- Ketua ASITA Sulsel Didi Leonardo Manaba: Penguatan Kolaborasi Penting Hadapi Tantangan Global
- Dukung Pendidikan, Pegadaian Salurkan Beasiswa bagi Puluhan Siswa Berprestasi di Maros
- Polbangtan Kementan Bongkar Strategi Publikasi Internasional untuk Percepat Karier Dosen
- Kampus-kampus Garap Dapur MBG Demi Pemasukan, Segini Keuntungan yang Diraup Unhas dari Dapur MBG
Meski demikian, menurutnya, peran biro perjalanan wisata tetap relevan karena wisatawan masih membutuhkan layanan perjalanan yang aman, nyaman, dan informatif.
“Sekarang memang orang bisa mengatur perjalanan sendiri melalui digital. Tapi untuk perjalanan yang lebih hemat, lebih berpengalaman, dan mendapatkan penjelasan tentang situs-situs sejarah atau destinasi tertentu, tentu travel agent yang berpengalaman tetap dibutuhkan,” katanya.
Menurutnya, digitalisasi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran operator lokal. Dalam praktiknya, masih banyak regulasi daerah, jalur wisata tertentu, hingga kebutuhan teknis lapangan yang memerlukan keterlibatan operator setempat.
“Digital tetap harus bermitra dengan operator-operator lokal karena ada pengembangan tertentu dan aturan-aturan daerah yang tidak semuanya bisa langsung dilakukan secara digital,” ujarnya.
Selain itu, tingginya harga tiket pesawat juga dinilai masih menjadi tantangan bagi industri pariwisata nasional.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
