Ia menyarankan body of knowledge dirumuskan ke dalam lima hingga tujuh rumpun utama, meliputi nilai institusional dan kebangsaan, pedagogi dan desain pembelajaran sosiologi atau IPS, teori sosiologi dan analisis sosial, etnososiologi dan pendidikan multikultural, teknologi pembelajaran dan sosiologi digital, metodologi penelitian, serta pemberdayaan komunitas dan sociopreneurship.
Struktur mata kuliah juga dinilai perlu ditata berdasarkan alur belajar mahasiswa.
Pada tahap awal, mahasiswa perlu memperoleh fondasi nilai, wawasan kebangsaan, komunikasi akademik, ilmu pendidikan, dan pengantar sosiologi.
Memasuki tahap menengah, mahasiswa diperkuat dengan teori sosiologi, metode penelitian, pedagogi sosiologi atau IPS, kurikulum, asesmen, dan media pembelajaran.
Sementara pada tahap lanjut, mahasiswa diarahkan pada praktik pembelajaran, laboratorium, riset terapan, pengembangan bahan ajar, pemberdayaan komunitas, sociopreneurship, hingga penyelesaian skripsi.
- Sekjen AMSI Maryadi Berpulang, Dunia Media Indonesia Berduka
- Sambut Liburan Sekolah, Merek Pakaian Levi's Pasang Diskon lewat Program End of Season Sale
- FKIK UIN Alauddin Hadirkan Pakar Internasional, Perkuat Riset yang Berdampak pada Layanan Kesehatan
- Lampaui Target RKAP, PJM Wilayah 3 Catat Produksi Pemanduan 101 Persen dan Penundaan 113 Persen
- Dalton Makassar Tawarkan Diskon Paket Nikah hingga 10 Persen di Claro Wedding Expo 2026
Jamaluddin menyambut berbagai catatan tersebut sebagai masukan penting bagi pengembangan Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar.
Ia mengatakan, proses rekonstruksi akan dilanjutkan melalui penyempurnaan dokumen, penataan mata kuliah, dan penguatan capaian pembelajaran lulusan.
“Masukan reviewer menjadi bahan penting bagi kami. Setelah forum ini, tim kurikulum akan bekerja menajamkan rumusan visi keilmuan, profil lulusan, CPL, body of knowledge, dan struktur mata kuliah agar semuanya lebih koheren,” kata Jamaluddin.
Kegiatan rekonstruksi kurikulum diikuti dosen Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar. Melalui forum tersebut, prodi menargetkan lahirnya kurikulum yang lebih fokus, berbasis data, serta memiliki kekhasan akademik dalam bidang pendidikan sosiologi.
Rekonstruksi kurikulum tersebut tidak sekadar menjadi penyesuaian dokumen akademik. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi ikhtiar untuk memastikan lulusan Pendidikan Sosiologi mampu bergerak di tengah perubahan, mengajar secara kreatif, berpikir kritis, peka terhadap realitas sosial, serta cakap memanfaatkan teknologi secara bermakna.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
