Dua Pemuda Hina Palestina, Okky Madasari Membela: Pak Polisi, Anda Norak

Terkini.id, Jakarta – Novelis Indonesia, Okky Madasari, membela pemuda NTB dan pelajar Bengkulu yang viral di media sosial lantaran menghina Palestina.

Pembelaannya tersebut atas dasar kebebasan berekspresi yang dijamin Hak Asasi Manusia (HAM) dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagaimana diatur Pasal 19 ayat 2 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia.

Baca Juga: Pengumuman, Youtube Rasa Tiktok Resmi Hadir di Indonesia Loh!

“Setiap orang berhak atas kebebasan berekspresi; hak ini termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi dan gagasan dalam bentuk apa pun, tanpa memandang batas negara, baik secara lisan, tertulis atau di media cetak, dalam bentuk karya seni, atau melalui media lain pilihannya.”

Pasal 28E ayat 3 UUD 1945, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.”

Baca Juga: Viral Jasa Pijat Pinggir Pantai Bali, Sukses Bikin Wisatawan Kaget...

Okky Madasari mengatakan alih-alih membantu memperjuangkan kebebasan Palestina, ini justru menambah masalah. 

“Pak Polisi, Anda norak, sewenang-wenang, merampas hak orang berekspresi,” ujarnya melalui twitter pada Selasa, 18 Mei 2021.

Lebih lanjut, Okky Madasari mengatakan kejadian tersebut terjadi secara sistemik.

Baca Juga: Beredar, Video Pria Menghina Jokowi dan Polisi dengan Sebutan ‘Binatang’

“Dua kasus berbeda di dua daerah berbeda. Jelas ini bukan oknum. Tapi sistemik,” tutup Okky. 

Sebelumnya, melansir detik.com, Hilmiadi alias Ucok, sang pemuda NTB, ditangkap Polisi karena menghina Palestina lewat media sosial Tiktok.

Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan di kampus swasta, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu terancam dibui 6 tahun.

Sementara itu, pelajar di Bengkulu Tengah juga dilaporkan ke polisi usai hina Palestina di media sosial.

Melansir Antara, setelah dimediasi oleh Kepolisian, pelajar umur 19 tahun ini akhirnya dikeluarkan atau Drop Out (DO) dari sekolah, meski kasus hukumnya telah selesai dan tidak dilanjutkan.

Bagikan