Dua Proyek Tambang PT Vale Masuk Proyek Nasional, Febriany: Hadiah HUT ke-54

Dua Proyek Tambang PT Vale Masuk Proyek Nasional, Febriany: Hadiah HUT ke-54

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Sorowako – Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Febriany Eddy mengungkapkan dua proyek tambang yang sedang digarap, yakni di Bahodopi dan Pomalaa mendapat dukungan baik dari pemerintah bahkan masuk dalam Proyek Nasional (Pronas).

“Kita mendapat dukungan pemerintah. Permenko tahun 2022 ini memasukkan dua proyek tambang kita jadi proyek nasional,” ungkap Febriany Eddy saat event peluncuran Mobil Truk berbahan bakar listrik di Area Mobility Equipment Facility ( MEF), di pabrik PT Vale, Sorowako, Luwu Timur, Kamis 6 Agustus 2022.

Dari dua proyek tersebut, pembangunan tambang dan pabrik smelter nikel di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah menunjukkan kemajuan yang lebih cepat.

“Yang sudah sudah nyata Bahadopi. Ini jadi hadiah Ultah Vale. Tanggal 29 Juli kemarin, Dewan Komisaris sudah ada persetujuan akhir untuk jalan,” ungkap Febriany.

Selain Bahodopi, proyek smelter di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, telah mendapat kepercayaan dari pemain otomotif global yakni Ford Motor dan Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited atau produsen baterai asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited ( Huayou).

Baca Juga

Menariknya, dua perusahaan yang ingin bergabung dalam proyek PT Vale di Pomalaa, siap mengikuti komitmen Vale dalam mewujudkan pertambangan yang berkelanjutan, dan upaya menurunkan emisi karbon hingga nol pada tahun 2050 mendatang.

“Ini Kerjasama unik, dan baru pertama kali ada kerjasama antara penambang yakni PT Vale, produsen mobil dan produsen baterai, dan itu terjadi di Indonesia,” ungkap Febriany lagi. Menurut dia, proses negosiasi dengan dua perusahaan tersebut berlangsung panjang karena lebih banyak untuk memastikan komitmen keberlanjutan dan mengurangi emisi karbon.

Investasi Dua Kali Lipat Lebih Besar Dibanding Pertambangan Biasa

Hal yang tak kalah menarik disampaikan Febriany adalah kemauan untuk menerapkan tambang berkelanjutan dengan mengonversi bahan bakar minyak menjadi listrik, mengurangi penggunaan batu bara membutuhkan ongkos yang besar. Investasinya sampai dua kali lipat dari pertambangan biasa.

Untuk proyek smelter di Bahodopi dan Pomalaa, Febriany mengungkapkan investasinya lebih besar karena akan menggunakan sumber daya energi LNG. Bukan batu bara.

Nilai total investasi tersebut berkisar hingga USD 2 miliar. “Pembagiannya, untuk tambang dari Vale. Untuk pabrik, kita bagi dengan mitra. Kami (Vale 49 persen) dan partner kita 51 persen). Sedang proses financing,” ungkap Febriany.

Lebih jauh, Wakil Presiden Direktur Vale, Adriansyah Chaniago menjelaskan, investasi tambang PT Vale tersebut lebih besar karena bukan cuma penggunaan LNG. Tapi juga menghitung biaya persiapan dan pascatambang.

“Kalau kita mau bedah RKAB kita, biaya investasi khusus untuk pertambangan kita itu cuma 50 persen dari total investasi. Sebesar 25 persen itu untuk biaya persiapan tambang dan 25 persen untuk pasca tambang,” ungkap dia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.