Duh, Calon Menteri Jokowi Ini Disebut Terkait Kasus Suap, Sering Dipanggil KPK

Bupati Minahasa Selatan, Tetty Paruntu.(instagram.com/tettyparuntu)

Terkini.id, Jakarta – Jelang pengumuman kabinet Kerja Jilid II, pada Rabu 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo atau Jokowi memanggil Bupati Minahasa Selatan yakni Christiana Eugenia Tetty Paruntu, ke Istana.

Tetty datang dengan mengenakan kemeja putih saat dipanggil Jokowi.

Politikus Golkar tersebut tidak berkata banyak kepada wartawan.

“Ini bantu kerja,” ujar dia di Istana, Senin 21 Oktober 2019.

Tetty diketahui merupakan Ketua DPD Golkar Sulawesi Utara sejak 2017.
Wanita kelahiran 25 September 1967 tersebut lulusan Manajemen Bisnis Pitman College, Inggris dan mulai menjabat sebagai Bupati Minahasa Selatan pada periode 2010-2015.

Ia kembali terpilih di era Presiden Jokowi, dan menjabat sejak Februari 2016 lalu.

Disebut Terlibat Kasus

Nama Tetty Paruntu selama pernah disebut-sebut dalam kasus suap yang menjerat politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso.

Tetty bahkan sudah berkali-kali dipanggil KPK untuk diperiksa terkait kasus ini.

KPK pernah memeriksa Tetty untuk menelusuri dugaan duit gratifikasi kepada Bowo Sidik.

Dilansir dari tempoco, sebelumnya, KPK sempat memeriksa bawahan Tetty, yakni Kepala Dinas Perdagangan Minahasa Selatan, Adrian Sumuweng. Adrian dicecar soal duit yang diterima Bowo. Tetty saat itu membantah memberi uang kepada Bowo Sidik.

Bukan cuma itu, Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi bahkan pernah memeriksa Tetty sebagai saksi dalam kasus Bowo pada 2 Oktober 2019.

Dalam persidangan itu, hakim mencecar Tetty seputar dugaan pemberian gratifikasi kepada Bowo.

Dalam dakwaan, Bowo disebut pernah menerima uang sejumlah Rp 300 juta di Plaza Senayan Jakarta. Kemudian, ia juga disebut menerima duit sejumlah Rp300 juta di salah satu restoran yang terletak di Cilandak Town Square.

Saat itu Bowo Sidik merupakan wakil ketua Komisi VI DPR yang sedang membahas program pengembangan pasar dari Kementerian Perdagangan untuk tahun anggaran 2017. Selanjutnya total uang Rp 600 juta digunakan untuk keperluan pribadinya.

Tetty menjadi saksi di pengadilan karena anak buahnya, yakni Kepala Dinas Perdagangan Minahasa Selatan, Adrian Sumuweng, pernah mengajukan proposal anggaran pembangunan pasar kepada Bowo Sidik.

“Apakah saudara pernah bertemu dengan terdakwa di Jakarta di Cilandak Town Square?,” kata jaksa.

“Tidak pernah,” kata Tetty.

“Bertemu di Plaza Senayan?” kata jaksa.

“Tidak pernah,” kata Tetty.

“Pernah titip sesuatu lewat utusan saudara?” kata jaksa.

“Tidak pernah pak, tidak,” ujar Tetty Paruntu.

Bowo Sidik Mengaku Pernah Terima Uang dari Tetty

Sementara, terdakwa Sidik Pangarso mengakui pernah menerima amplop cokelat berisi uang dari Tetty. Meski demikian, Bowo tak menyebutkan secara spesifik nominal uang yang diterima.

Bowo menanggapi kesaksian rekannya sesama kader Golkar, Dipa Malik di persidangan. Dipa mengonfirmasi pernah menyerahkan amplop cokelat dari Christiany ke Bowo.

Adapun Bowo merupakan terdakwa kasus dugaan penerimaan suap dari pejabat PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), pejabat PT Ardila Insan Sejahtera (AIS) dan penerimaan gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan.

“Nah apa yang disampaikan Pak Dipa amplop dan sebagainya, saya sampaikan itu benar adanya amplop. Itu berisikan uang yang saya katakan di-BAP saya. Mungkin Pak Dipa kan tidak melihat tapi saya lihat isinya ada uang,” kata Bowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu 25 September 2019 lalu.

Bowo mengakui bahwa dia mengenal Dipa dan Christiany karena sesama kader Golkar. Menurut Bowo, Christiany pernah berpesan kepada dirinya, kalau ada program pemerintah terkait revitalisasi pasar segera diinformasikan.

“Memang (program revitalisasi) pasar itu idola dari kabupaten-kabupaten Pak. Dan semua anggota Komisi VI itu diperbolehkan untuk mengajukan proposal melalui Kemendag dengan nilai Rp 6 miliar,” kata dia seperti dilansir dari kompascom.

Pada waktu itu, kata Bowo, ia disarankan untuk menawarkan program itu ke kepala-kepala daerah yang berasal dari Golkar.

Dipa Malik, dalam kesaksian di persidangan, juga mengakui bahwa ia merekomendasikan ke Bowo agar program itu ditawarkan ke Christiany.

“Dan Bu Tetty (Christiany) lah waktu itu mengatakan, Pak Dipa yang juga akan membantu mengurus Pak. Jadi itu kronologisnya,” kata Bowo.

Dalam dakwaan jaksa, Bowo disebut menerima gratifikasi dengan total nilai 700.000 dollar Singapura atau Rp 7,1 miliar dan uang tunai Rp 600 juta secara bertahap.

Dua di antaranya, menurut jaksa, sekitar bulan Februari 2017 Bowo pernah menerima uang sejumlah Rp 300 juta di Plaza Senayan Jakarta.

Kemudian, pada tahun 2018, Bowo menerima uang sejumlah Rp 300 juta di salah satu restoran yang terletak di Cilandak Town Square, Jakarta.

Pemberian itu dalam kedudukan Bowo selaku Wakil Ketua Komisi VI DPR RI yang sedang membahas program pengembangan pasar dari Kementerian Perdagangan.

Berita Terkait
Komentar
Terkini