Eksotisme Pohon Bu’ne yang Semakin Langka

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan

Terkini.id-Makassar, Keceriaan masa masa kecil dahulu pasti menyimpan kenangan tersendiri bagi pembaca yang budiman.

Tengoklah mulai dari berburu layangan, main layangan marra, main kelereng atau baguli pontu pontu, cangkek, gasing hingga kenangan menunggu mangga mu’musang atau dikenal dengan mangga monyet yang jatuh karena angin hingga berburu buah bu’ne.

Untuk yang terakhir ini merupakan kenangan tersendiri jika dahulu mendapatkannya.

Dahulu diantaranya bisa dijumpai di daerah Kassi Kassi Makassar dikebun kebun warga yang biasa tumbuh diantara rerimbunan pepohonan bambu

Dari nikmatnya bergerombol bersama kawan karib dimasa kecil sambil mengunyah buah eksotis yang sekarang sudah susah ditemukan.

Kontras dengan keadaan beberapa kota besar yang makin dipenuhi hutan beton di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya daerah kota Makassar ini.

Apalagi sekarang ini di abad milenial, seiring pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya dan faktor keterbatasan lahan di perkotaan, yang sekarang perlahan semakin dipenuhi oleh padatnya penduduk.

Hampir sangatlah susah dijumpai saat ini, areal lahan luas dan dijadikan areal kebun dirumah rumah penduduk di wilayah perkotaan.

Beruntung, tanaman yang mulai jarang ini telah tumbuh dengan suburnya dan sudah mulai mekar berbuah di Februari 2020 ini. Nampak sekumpulan buah dengan bentuk bulat kecil berwarna hijau dan tekstur tangkai buah model kerucut menggantung.

Dilansir dari berbagai sumber buah Buni, atau Antidesma bunius nama lainnya ialah Boni, Huni (Sunda), Wuni (Jawa), Bignai (Filipina). Nama lokal ialah Ondet, Baruna, Huni, Huni Gedeh, Huni Wera, Burneh (Madura), Katakuti, Kutikata (Maluku), U Ye Cah (Tiongkok) atau dikenal juga dengan nama Bu’ne di Sulawesi Selatan.

Merupakan spesies pohon, tingginya mencapai 30 m, kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, buahnya kecil-kecil tumbuh dalam gugusan, buah yang matang berwarna kehitam-hitaman dimakan mentah atau digunakan dalam masakan.

Buah bu’ne berbentuk bulat kecil seukuran sekitar 1 cm berwarna hijau saat masih muda dan merah atau hitam keungu-unguan apabila buahnya telah matang.

Dengan ciri pohon yang dedaunanmya mirip sirsak namun mempunyai bau khas yang tidak mengeluarkan aroma seperti daun sirsak.

Nama yang disematkan Epitheton bunius atau Bu’ne berasal dari ilmuwan dari Jerman-Belanda Georg Eberhard Rumphius yang pernah tinggal 45 tahun di Ambon.

Sosok Rumphius adalah ilmuwan yang penting bagi Maluku dan Indonesia, 50 tahun ia mengabdikan hidupnya meneliti kekayaan alam Maluku. Sayangnya namanya kurang begitu dikenal di Indonesia.

Perpustakaan yang terletak Jalan Pattimura Ambon bernama Perpustakaan Rumphius menyimpan sekitar 10.000 literatur sejarah berbaris rapi di enam rak kayu di ruangan utama perpustakaan. Mulai dari buku ensiklopedia tua, sejarah kependudukan Belanda di Maluku, sampai buku seri Internasional.

Satu ruangan khusus menyimpan sekitar 600-an buku tua, di antaranya 47 buah literatur yang ditulis ulang oleh berbagai penulis dunia tentang Rumphius, sang ahli botani asal Jerman, dan disimpan rapi di dalam lemari kaca. Termasuk enam karya yang ditulis sendiri oleh Rumphius, salah satunya Amboinsche Kruidboek atau dikenal juga dengan Herbarium Amboinenseberisi tentang rempah-rempah dan botani yang diterbitkan pada 1695.

Buku itu biasanya dijadikan panduan bagi ahli botani dunia. Ada pula buku berjudul D’Amboinsche Ratreitkamer yakni barang-barang aneh dan langka dari Ambon terbitan tahun 1705 dan Amboinsche Dierbook, tentang binatang di Amboina atau Ambon yang diterbitkan pada 1690 dalam bentuk salinan.

Buku-buku Rumphius dijadikan panduan bagi ahli Botani dunia. Di antaranya yang berjudul Amboinsche Kruidboek atau dikenal juga dengan Herbarium Amboinense berisi tentang rempah-rempah dan botani yang diterbitkan pada 1695.

Buku aslinya hingga kini tak ditemukan lagi. Tiga buku lain Rumphius berkisah tentang sejarah yakni, D’Ambonsche Land-Beschrijving atau Pulau-Pulau Amboina, yang ditulis pada 1679, De Ambonensche Historie ,Sejarah Ambon ditulis pada 1679 dan Waerachtigh Verhael Van De Schrickelijcke Aerdtbevnge tentang gempa bumi dahsyat yang diterbitkan di Batavia pada 1675.

Lahir dari seorang ayah berkebangsaan Jerman, keseluruhan buku-buku Rumphius ditulis dalam Bahasa Belanda karena ia memiliki kedekatan dengan Belanda lewat sang ibu, Anna Elizabeth Keller, yang berdarah Belanda. Baru pada 23 April 2007, Frans Rijoly menerjemahkan buku De Ambonsche Historie dan De Blinde Zeiner Van Ambon atau Si Buta dari Ambon ke dalam Bahasa Indonesia.

Diantaranya ada buah buni atau bu’ne yang sudah masuk data Herbarium Belanda sekitar tahun 1600-1700.

Bu’ne ini ketika dikonsumsi rasanya masam dan kecut dengan tekstur buah yang berbentuk bola bola kecil.

Berbicara kuliner yang masam, teringat akan acar.

Yah, Acar adalah hidangan pencuci mulut asal Eropa. Di Indonesia sendiri, terkenal acar Belanda dikenal dengan nama Komkomerzuur, atau acar mentimun yaitu kombinasi dari unsur Eropa dan Jawa yang terbuat dari bahan lokal (rempah-rempah) semacam bawang putih, jahe, laos, kunyit, gula, lombok, garam dan cuka Belanda.

Hasil adopsi acara Eropa dapat dilihat dari istilah atcar tjampoer aspek sebagai jenis acar lokal yang dibuat dari kol, wortel, buncis, kacang panjang, mentimun, dan tauge dengan menggunakan bumbu saus yang diracik dari jahe, kunir, bawang putih, kemiri, cuma, garam dan cabai merah.

Dikutip dari Budaya Rijsttafel Kuliner Di Indonesia Masa Kolonial era 1870-1942 oleh Fadly Rahman.

Acar sebagai hidangan pencuci mulut masuk ke Indonesia sekitar era tahun 1920-an.

Rijsttafel, Sebuah gaya makan hasil dari prodak kebudayaan Indies.

Risjt secara harfiah berarti nasi, sedangkan Tafel adalah meja. Dari kedua kosa kata itu dapat diartikan sebagai Hidangan makan.

Orang-orang Belanda mengunakan penyebutan ini untuk menyebut hidangan khas Indonesia yang ditata komplit di atas meja makan.

Di atas meja makan itu kita akan mendapatkan sebuah varian-varian dari jenis makanan yang beragam dan banyak.

Buni atau Bu’ne sangat nikmat di padukan dengan cabe dicampur garam dan dibuat raca raca atau kuliner sejenis acar.

Rasakan kenikmatan rasa masamnya yang membuat lidah mengkerut.

Selamat berburu dan mencoba buah legenda ini.

Komentar

Rekomendasi

Berita Lainnya

Anda Mahasiswa UNM, Dapatkan Kuota E-Learning 30GB dan Voucher Internet 50GB Secara Gratis

Kepala BBKSDA Sulsel Apresiasi Keberhasilan Tim WRU Mengamankan Peredaran TSL

Menteri LHK Paparkan Langkah Pencegahan dan Penanganan Covid-19 pada Raker Virtual dengan DPR RI

Salurkan Ratusan Paket Sembako, Isnayani Utamakan Warga yang Sakit dan Kurang Mampu

Program 1000 Masker IZI Sulsel Kembali Beraksi, Kini Salurkan Masker Untuk RSUP. Wahidin Makassar

Bupati AM. Sukri Tinjau Pembuatan Masker dan Hasilnya Akan Dibagi Secara Gratis

Bank Sulselbar Salurkan Hand Sanitizer di Wilayah Transmisi Covid-19 bersama IZI Sulsel

Haslinda Wahab Salurkan Bantuan APD ke RS Hermina dan Ratusan Sembako ke Warga Kelurahan Borong

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar