Terkini, Makassar – Komunitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Makassar bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Masjid An-Nushrat Ahmadiyah, Jalan Anuang, Jumat 3 April 2026.
Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara jurnalis dan komunitas Ahmadiyah, dengan tujuan memperluas pemahaman publik sekaligus meluruskan berbagai persepsi yang selama ini berkembang di masyarakat.
Upaya Membuka Ruang Dialog
Lebih dari satu dekade setelah berbagai peristiwa persekusi terhadap jemaah Ahmadiyah di sejumlah daerah di Indonesia, komunitas ini perlahan menunjukkan tanda-tanda penerimaan yang lebih luas di tengah masyarakat.
Masjid sekaligus kantor Ahmadiyah di Jalan Anuang kini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang diskusi lintas kelompok.
Sejumlah tokoh organisasi keagamaan, seperti NU, Akademisi dari UIN, disebut telah berkunjung untuk melakukan tabayyun atau klarifikasi langsung terkait ajaran dan praktik Ahmadiyah. Sejumlah pihak pun sudah menganggap Ahmadiyah adalah Islam.
- DPRD Sulsel Dalami Polemik Seleksi Paskibraka, Kesbangpol Bantah Tes Bahasa Daerah Jadi Penentu
- Wali Kota Makassar Dukung Penuh Delegasi Paskibraka Menuju Seleksi Nasional 2026
- Gubernur Sulsel Apresiasi Polda dan TNI Bongkar Jaringan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Wilayah Sulsel
- Laba Tumbuh 32 Persen, PT Vale Lanjutkan Transformasi sebagai Perusahaan Mineral Berkelanjutan
- Komisi IX DPR RI Himpun Masukan RUU Ketenagakerjaan di Sulteng, BPJS Tekankan Perlindungan Pekerja
Sekretaris Pers dan Juru Bicara Nasional JAI, Yendra Budiana, menyebut minimnya literasi publik menjadi salah satu akar kesalahpahaman.

“Selama ini tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Ahmadiyah masih sangat kecil, sehingga mudah terprovokasi oleh isu-isu yang menyebut Ahmadiyah sesat,” ujarnya.
Ia merujuk pada hasil survei internal yang menyebut sekitar 84 persen masyarakat belum memiliki pemahaman memadai tentang Ahmadiyah.
Menyambut 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia
FGD ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad kehadiran Ahmadiyah di Indonesia. Secara historis, Ahmadiyah mulai masuk ke Nusantara sekitar tahun 1925–1926 melalui mubalig dari India.
Gerakan ini didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadian, India, pada akhir abad ke-19. Dalam perkembangannya, Ahmadiyah terbagi menjadi dua kelompok besar secara global, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore, dengan JAI di Indonesia berafiliasi pada kelompok Qadian.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
