Penulis: Dewi Setiawati
Dokter dan Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Beberapa waktu lalu, kami sempat berkunjung ke Korea. Sebuah negeri yang memikat dengan kecanggihan teknologi dan kekayaan budayanya. Apalagi dengan artis drama nya, mampu membius emak2 hehehe. Namun ada satu hal yang membuat kami harus selalu waspada: “makanan”.
Di setiap minimarket, di setiap rak cemilan, kami tak sekadar membeli, kami “membaca”. Memeriksa komposisi dengan teliti. Men-scan kandungan satu per satu.
Mencari label halal seperti detektif. Anak-anak kami pun ikut terlibat. Mereka belajar memilah, memilih, dan bertanya dengan polosnya: “Ini ada babinya ndak, Ma?”
Teman-teman kami pun begitu, sangat hati-hati, teliti, dan waspada! Semua takut mencicipi sesuatu yang haram, meski hanya setetes.
- Honda Mei Vibes, Asmo Sulsel Tawarkan Gratis Angsuran hingga 5 Kali untuk Honda BeAT dan Genio
- Koperasi Merah Putih Segera Diresmikan, Wakil Bupati Sidrap Apresiasi Kolaborasi Lintas Sektor
- Terkait Penumpang Dugaan Narkotika, Bandara Hasanuddin Beri Penjelasan Resmi
- Kebersamaan di Dusun Bonto Te'ne: Satgas TMMD ke-128 Bangun Harapan Baru Keluarga Daeng Tompo
- Setiba dari Jakarta, Bupati Sidrap Langsung Tinjau Banjir Amparita
Betapa kami semua ingin memastikan, apa yang masuk ke tubuh ini adalah yang terbaik, dan yang halal.
Ketika Hati Mulai Bertanya
Namun kemudian, hati ini mulai bertanya: Apa arti halal yang sebenarnya? Dan bagaimana dengan “thayyiban”?
Halal, berarti diperbolehkan oleh syariat. Sesuai aturan Allah. Tidak mengandung unsur najis, tidak dari hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, tidak berasal dari sesuatu yang diharamkan.
Thayyiban, berarti baik, bersih, suci, bermanfaat. Tak sekadar halal dalam hukum, tapi juga layak dikonsumsi (secara nutrisi, kebersihan, dan akhlak)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
