Penulis: Dewi Setiawati
Dokter dan Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Beberapa waktu lalu, kami sempat berkunjung ke Korea. Sebuah negeri yang memikat dengan kecanggihan teknologi dan kekayaan budayanya. Apalagi dengan artis drama nya, mampu membius emak2 hehehe. Namun ada satu hal yang membuat kami harus selalu waspada: “makanan”.
Di setiap minimarket, di setiap rak cemilan, kami tak sekadar membeli, kami “membaca”. Memeriksa komposisi dengan teliti. Men-scan kandungan satu per satu.
Mencari label halal seperti detektif. Anak-anak kami pun ikut terlibat. Mereka belajar memilah, memilih, dan bertanya dengan polosnya: “Ini ada babinya ndak, Ma?”
Teman-teman kami pun begitu, sangat hati-hati, teliti, dan waspada! Semua takut mencicipi sesuatu yang haram, meski hanya setetes.
- Massa Komite Adat Seruduk Kantor DPRD Sulsel, Desak Pembentukan Pansus Hak Angket GMTD
- Astra Motor Sulsel Peringati HUT ke-56 dengan Donor Darah, Kumpulkan 82 Kantong Darah
- Kisah Dua Legenda, Satu Takdir, Saat Messi dan Yamal Bertemu di Puncak Piala Dunia 2026
- Kalla Institute dan Pelindo Regional 4 Makassar Bangun Kemitraan Strategis
- Astra Motor Sulsel Gelar Gebyar Honda Jagoanku di Lima Daerah, Hadirkan Promo Menarik
Betapa kami semua ingin memastikan, apa yang masuk ke tubuh ini adalah yang terbaik, dan yang halal.
Ketika Hati Mulai Bertanya
Namun kemudian, hati ini mulai bertanya: Apa arti halal yang sebenarnya? Dan bagaimana dengan “thayyiban”?
Halal, berarti diperbolehkan oleh syariat. Sesuai aturan Allah. Tidak mengandung unsur najis, tidak dari hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, tidak berasal dari sesuatu yang diharamkan.
Thayyiban, berarti baik, bersih, suci, bermanfaat. Tak sekadar halal dalam hukum, tapi juga layak dikonsumsi (secara nutrisi, kebersihan, dan akhlak)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
