Hasil Lab Ungkap Penyebab 28 Siswa Rumbia Jeneponto Sakit Usai Makan MBG

Hasil Lab Ungkap Penyebab 28 Siswa Rumbia Jeneponto Sakit Usai Makan MBG

S
Syarief

Penulis

Terkini, Jeneponto – Setelah menjadi misteri dan ditunggu publik selama berhari-hari, hasil uji laboratorium sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rumbia akhirnya terungkap. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, Hj. Syusanty A Mansyur, secara resmi membenarkan bahwa makanan yang disajikan tersebut terbukti mengandung bakteri yang melebihi ambang batas aman.

Konfirmasi ini disampaikannya melalui pesan WhatsApp kepada Terkini.id, Rabu sore, 6 Mei 2026, sekitar pukul 16.28 Wita. Jawaban ini sekaligus memecahkan teka-teki penyebab 28 siswa harus dilarikan ke Puskesmas dan Rumah Sakit akibat mengalami mual, muntah, hingga keluhan kulit gatal setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan hasil uji lab yang sebelumnya disebut sudah diterima namun belum diumumkan, Hj. Syusanty menjawab singkat namun tegas:

“Iye, sudah ada,” ujarnya.

Selanjutnya, saat diminta menjelaskan isi temuan laboratorium tersebut, pejabat tinggi di lingkungan Pemkab Jeneponto ini membeberkan fakta medis yang mengejutkan. Menurut hasil pemeriksaan yang diterima, kualitas makanan yang diuji tidak memenuhi standar higienis yang dipersyaratkan.

Baca Juga

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, makanan ada mengandung bakteri yang di atas ambang batas yang menyebabkan gatal, mual dan muntah pada anak-anak,” jelas Hj. Syusanty A Mansyur dalam pesan tertulisnya.

Dalam penjelasannya, Kepala Dinas Kesehatan juga memberikan analisis terkait kemungkinan penyebab kontaminasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa indikasi kuat kerusakan atau pencemaran makanan terjadi pada tahap akhir penanganan.

“(Ini kemungkinan pada makanan yang proses paling akhir),” tulisnya.

Pernyataan ini mengisyaratkan adanya dugaan kelalaian atau kesalahan prosedur yang terjadi saat makanan hendak disajikan, misalnya pada tahap pengemasan, penyimpanan suhu yang tidak tepat, atau kebersihan alat saji yang tidak terjaga. Padahal, proses akhir ini sangat krusial untuk menjamin makanan tetap aman dikonsumsi, terutama oleh anak-anak.

Lebih lanjut dikonfirmasi, kasus keracunan massal ini secara spesifik menimpa siswa di satu titik lokasi.

“Karena anak penerima manfaat hanya pada SD Kambutta Toa),” tambahnya menegaskan lokasi kejadian.

Pengakuan resmi ini menjadi bukti kuat bahwa apa yang dialami oleh puluhan siswa bukanlah sekadar faktor kebetulan atau kondisi fisik siswa semata, melainkan disebabkan oleh makanan yang tidak layak konsumsi. Bakteri yang melebihi ambang batas jelas merupakan ancaman serius bagi kesehatan, yang seharusnya tidak boleh terjadi dalam program pemerintah yang bertujuan menyehatkan generasi muda.

Dengan terbongkarnya hasil ini, kini pertanyaan besar bergeser ke tahap selanjutnya: Apa tindak lanjut yang akan diambil oleh Pemerintah atau pihak terkait terhadap penyedia jasa atau pihak yang bertanggung jawab? Apakah akan ada sanksi administratif hingga proses hukum?

Selain itu, masyarakat juga menuntut adanya perbaikan sistem yang menyeluruh. Bagaimana memastikan standar kebersihan dan kualitas makanan dijaga ketat mulai dari pemilihan bahan baku, proses masak, hingga pengantaran ke tangan anak-anak, agar tragedi memilukan ini tidak pernah terulang lagi di sekolah-sekolah lain.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai langkah konkret apa yang akan diambil untuk menindaklanjuti temuan ini. Publik kini menunggu janji pemerintah untuk bertindak tegas dan transparan demi keadilan bagi korban dan keamanan bersama.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.