Heran Acara Keagamaan Kerap Diisi Penceramah Radikal, Gus Nadir: Masih Banyak Ulama Moderat Cinta NKRI

Heran Acara Keagamaan Kerap Diisi Penceramah Radikal, Gus Nadir: Masih Banyak Ulama Moderat Cinta NKRI

FR
Fitrianna R
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Nadirsyah Hosen atau yang kerap disapa Gus Nadir, seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Monash Australia sekaligus pendakwah NU, turut menyoroti sepak terjang para pendakwah radikal yang sering menebar kebencian dalam muatan ceramahnya.

Sosok itu menyayangkan karena menurutnya, di Indonesia sendiri masih banyak ulama lainnya yang tidak pernah menebarkan kebencian dan menjaga betul kedamaian di NKRI.

Namun, mirisnya yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Acara-acara keagaaman seringnya diisi oleh penceramah radikal penebar kebencian. 

“Masih banyak para ulama muda yang moderat dan cinta NKRI,” tulis Gus Nadir, sebagaimana dikutip terkini.id dari Pikiran  Rakyat pada Senin, 12 April 2021.

Oleh karena itulah pendakwah NU tersebut merasa heran mengapa masih saja ditemukan pengajian-pengajian yang diisi oleh pendakwah penebar kebencian.

Baca Juga

“Tentu aneh kalau pengajian malah diisi pihak yang ajarkan kebencian,” sambungnya. 

Seperti yang kita tahu, persoalan radikalisme dan terorisme belakangan ini kembali santer dibicarakan di Indonesia.

Mulai dari aksi teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, penyerangan Mabes Polri oleh seorang teroris perempuan berinisial ZA, hingga pencidukan beberapa terduga teroris di berbagai tempat. 

Terkait penyebab munculnya sebuah tindakan terorisme sendiri turut dijelaskan oleh mantan Politisi PAN, yakni Abdillah Toha.

Menurutnya, awal mula hadirnya segala macam tindakan terorisme dipicu oleh adanya doktrin kebencian. 

Oleh karena itu, kita sangat perlu mewaspadai penceramah-penceramah yang suka menebar benci. 

“Terorisme dan semua tindak kekerasan dimulai dengan kebencian,” ujar Abdillah dalam cuitannya pada Minggu, 4 April 2021 lalu.

“Benci penguasa, benci ras, benci ideologi, benci agama lain, dan sebagainya,” lanjutnya. 

“Kritik rasional boleh dan seharusnya, tapi bukan menyebar kebencian yang dasarnya sepenuhnya emosi.”

Atas dasar itulah, Abdillah Toha menyarankan agar pemerintah dan aparat terkait dapat menutup ruang gerak maupun celah para pihak-pihak penebar kebencian.

“Tokoh kebencian harus disingkirkan dari akses ke publik,” pungkas Abdillah. 

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.