Horor Banget, Ini Spoiler Film I Still See You yang Bikin Jantung Berdebar

Terkini.id, Jakarta – Horor banget, ini spoiler film I Still See You yang bikin jantung berdebar. Film horor selalu menarik pemirsa untuk menontonnya, kendati sepanjang jalur kisah penuh dengan kejutan yang menakutkan dan mengagetkan.

Adalah film berjudul I Still See You produksi 2018 lalu, bakal kembali tayang di layar televisi. Anda juga dapat menontonya di kanal-kanal film Youtube dan laman film lainnya.

Film ini sendiri menceritakan keluarnya para hantu dari dunia pararel. Sejatinya, film I Still See You menghadirkan cerita yang menggabungkan kehidupan dan kematian. Bersatunya dua dunia ini lantaran dampak meledaknya sebuah gerbang pemisah.

Baca Juga: Seram! Ini Kisah Sadako, Hantu Perempuan Jepang yang Keluar dari...

Bergenre thriller dan supranatural, film ini diadaptasi dari novel misteri berjudul Break My Heart 1.000 Times. Bicara soal para bintang di film I Still See You, hadir Bella Thorne, Richard Harmon, dan Dermot Mulroney.

Nah, sebelum menontonnya, mungkin ada baiknya Anda dapat membaca sinopsisnya terlebih dulu:

Baca Juga: The Anguished Man, Lukisan Berhantu Inggris yang Diciptakan dari Darah...

Film I Still See You mengisahkan tentang keberadaan pintu pararel. Pintu tersebut menjadi pengubung kehidupan manusia dengan orang mati.

Pencipta pintu tersebut adalah Dr Martin Steiner. Martin mengerjakan proyek pintu pararel di pusat Kota Chicago.

Dalam pengerjaannya, ternyata pintu menjadi tidak stabil dan muncullah sebuah lubang. Lubang itu lalu meledak cukup dahsyat. Akibatnya, banyak orang yang tewas lantaran ledakan itu. Di sisi lain, puing-puing ledakan telah mengundang makhluk ‘astral’ untuk masuk ke dunia manusia.

Baca Juga: The Anguished Man, Lukisan Berhantu Inggris yang Diciptakan dari Darah...

Mereka ini adalah para hantu yang menyukai keonaran dengan mengganggu manusia secara rutin melalui berbagai cara. Tidak terasa, 10 tahun telah berlalu sejak ledakan gerbang pararel.

Saat itu, ada siswa bernama Veronica ‘Ronnie’ Calder yang ketakutan ketika ada hantu bernama Brian. Brian terus mengganggunya hingga membuat ketakutan. Salah satu gangguan yang dilakukan Brian yaitu menulis kata ‘lari’ di cermin milik Ronnie, lalu menghilang.

Hingga suatu hari Ronnie mendapatkan penjelasan dari gurunya, Mr Bittner, mengenai makhluk astral saat mengisi pelajaran di kelas. Ketika dijelaskan terkait hal itu, mendadak telinga Ronnie berdarah.

Setelah menerima penjelasan dari Bittner, Ronnie mulai penasaran tentang Brian. Ronnie mengajak Kirk, teman sekolahnya, untuk ikut menyelidiki sosok ‘astral’ itu. Mereka lalu menemukan fakta penculikan dan pembunuhan Mary, anak pendeta Greer. Pendeta Greer lalu ditemuinya dan bertanya tentang Brian.

Greer mengatakan kurang mengenalnya, namun Brian ditemukan tewas sehari setelah kematian Mary. Kabar penyelidikan Ronnie dan Kirk sampai di telinga kepala sekolah Pescatelli yang ternyata juga penasaran terhadap sosok Brian.

Brian mulai terusik dengan aksi Ronnie dan Kirk. Ronnie sempat melihat Brian di pertandingan bola basket sekolah, lalu hantu itu membunuh Pescatelli. Di hari lain, mereka menemukan kaitan kematian Emma Shaw dan Claire White dengan Brian.

Akhirnya, Ronnie dan Kirk memutuskan untuk menyelidiki ke awal mula masalah, yaitu laboratorium milik Dr Martin Steiner. Di laboratorium itu terungkap jika Brian adalah asisten Steiner.

Brian diduga membawa para korbannya dari gerbang pararel hantu guna menebus kesalahan masa lalu lantaran telah membunuh mereka.

Di lain sisi, Steiner memiliki mengakhiri hidup usai terbebani dengan temuannya ini.

Suatu ketika, Kirk dihukum pihak sekolah saat ditemukan senjata di lokernya. Ronnie meyakini ini ulah Brian yang akan membunuh Kirk untuk membangkitkan salah seorang korban Brian.

Ronnie lantas meminta bantuan Bittner. Bittner lalu menemani Kirk hingga 48 jam hingga tanggal ulang tahunnya tiba.

Di luar dugaan, justru Bitter adalah penjahat. Ia justru yang mengincar Kirk agar nyawanya dapat ditukar dengan menghidupkan putrinya, Eva. Bittner adalah rekan penelitian Steiner.

Bagikan