Humanisme BPDAS Brantas KLHK dan Yayasan Gunung Kebo Laksanakan Pemberdayaan Disabilitas Melalui KBR

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan

Terkini.id, Trenggalek- Kerjasama Pemerintah Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur dengan dengan Yayasan Ponpes Gunung Kebo Desa Sambirejo Trenggalek mendapat apresiasi dari BPDAS Brantas KLHK. Dimana Yayasan tersebut menampung ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Orang dengan gangguan jiwa atau mental ini sudah menjalani perawatan medis, dimana keberadaan mereka di Ponpes tersebut lantaran tidak diterima keluarga maupun masyarakat dengan berbagai faktor dan permasalahannya.

Berawal dari kegelisahan pegawai Dinas Sosial P3A Kabupaten Trenggalek, tercetuslah kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui BPDAS Brantas Sampean.

Kepada media via sambungan WhatsApp Indra Prasetyo Budiatnanto, SP yang tercatat sebagai alumnus SKMA Kadipaten Angkatan XX, sekarang SMK Kehutanan menuturkan keisengannya mengirimkan foto-foto kegiatan kebun bibit rakyat bersama kaum disabilitas ini kepada pegawai BPDAS Brantas Sampean.

Kemudian menurutnya di BPDAS Brantas ada influencernya. “Foto-foto KBR tadi diposting ke Medsosnya BPDAS Brantas, ternyata mendapat respon positif dari KLHK, khususnya Humas untuk kemudian diposting kembali ke Medsos KLHK,” terang Indra.

Menurut tim Humas KLHK, aksi ini sangat humanis, sekiranya tepat apabila viral di medsos lingkup KLHK dan juga media online.

Tidak berhenti disitu, Indra pun mengusulkan idenya kepada BPDASHL Brantas Sampean, untuk memberdayakan orang dengan gangguan jiwa/mental di Ponpes Yayasan Gunung Kebo.

Kerjasama ini dilakukan oleh BPDASHL Brantas Sampean, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Yayasan Ponpes Gunung Kebo Kabupaten Trenggalek, melaksanakan kegiatan pemberdayaan pembuatan Kebun Bibit Rakyat (KBR).

Kegiatan ini bertujuan memberi bekal kemampuan dan keterampilan saat nanti kembali ke kehidupan bersosial di lingkungan bermasyarakat.

“Tidak mungkin kami mempekerjakan orang dengan gangguan jiwa dari awal hingga akhir, jadi kami menggandeng pengusaha kecil atau petani sekitar untuk melatih proses mengisi tanah, penyiangan bibit tanaman ke dalam polybag dan penyiraman tanaman,” ungkap Indra.

Pelaksanaan KBR yang melibatkan orang dengan gangguan jiiwa (ODGJ) Kabupaten Trenggalek yang telah menjalani perawatan medis ini sangat humanis dan tidak menemui kendala berarti, semua dikerjakan tanpa paksaan.

“Untuk kerjaan fisik, sebenarnya orang dengan gangguan mental atau jiwa masih bisa, namun demikian harus tetap dibawah pengawasan orang-orang yang dikenalnya,” sebut Indra.

Kendala sebenarnya adalah cuaca atau musim. “Kemarau panjang sehingga dibutuhkan perawatan lebih intens, termasuk menyirami bibit,” sebagaimana dituturkan Indra via sambungan telpon. Sabtu , 21 Desember 2019.

Indra menambahkan bahwa di Trenggalek pernah digelar inovasi pelayanan publik. Event tersebut menitik beratkan kepada inovasi pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan bersinergi dengan instansi terkait.

“Dari event itulah Dinas Sosial P3A mengusung tema Pesantren Oriental, maksudnya sebagai Pusat Pengasuhan Pelayanan Orang Dengan Gangguan Mental andil menyukseskan reboisasi hutan dan lahan melalui kebun bibit rakyat,” ulasnya seraya menjelaskan bahwa para disabilitas mental ini pun ikut andil untuk merawat bumi tercinta, kita juga pasti bisa.

Sementara pihak BPDASHL Brantas mengapresiasi pelibatan kaum marjinal ini. Melalui swakelola memberdayakan masyarakat sekitar dan ODGJ sekaligus mengajak merawat bumi.

“Asal diberi kesempatan berbuat baik untuk negeri ini siapa saja bisa terlibat termasuk mereka (ODGJ.red),” kata Agus.

Suagus Purnomo, SP. M.Agr Kepala Seksi Program DASHL BPDASHL Brantas Sampean KLHK mengapresiasi, niat baik pegawai Dinas Sosial ini.

Suagus Purnomo mengatakan, sebagai manusia sosial, keterlibatan orang dengan gangguan jiwa/mental di Pondok Pesantren tersebut, dianggap menjadi bagian penting dari kesuksesan program reboisasi hutan lindung, salah satunya program KBR dari KLHK.

“Kegiatan seperti ini sebagai langkah humanis dari perwakilan Pemerintah. Dilihat dari sisi manusiawi yang bisa mewarnai hari depan bagi orang-orang dengan gangguan jiwa, sebagai bekal hidup di tengah-tengah masyarakat normal,” jawab Agus melalui sambungan telpon.

Disela kesibukannya, Suagus Purnomo yang akrab disapa Agus menjelaskan lebih jauh, program-program RHL, KBR itu bagus. “Pelibatan stakeholders baik Pemerintah maupun Swasta juga masyarakat turut menyukseskan program RHL, dampaknya untuk kita semua, nilainya tidak terhingga, tidak hanya lingkungan, dampak ekonominya sangat besar manfaatnya,” jelasnya.

Mengakhiri sambungan telponnya Suagus Purnomo menandaskan, orang sering salah persepsi, kegiatan-kegiatan perbaikan lingkungan dianggapnya menghabiskan banyak duit, padahal kalau berhasil nilainya tidak ternilai, justru akan memperbaiki lingkungan dan ekonomis.

Komentar

Rekomendasi

Pilkada Bulukumba, Berikut Pesan Petinggi Kementerian Agama Terhadap ASN

Baksos Wujud Kedekatan Personil Polsek Bajeng dengan Masyarakat

IZI Sulsel Adakan Seleksi Beasiswa Pelajar untuk Pelajar SMK di Gowa

KPPN Makassar I Apresiasi Kinerja Pelaksanaan Anggaran P3E Sulawesi Maluku

Kapal Latih SMKN 3 Kemaritiman Selayar Kembali Berlabu Normal Di Darmaga Pattumbukang, Kabupaten Selayar

H Ali Yafid Puji Adaptasi Para Kasi di Kementerian Agama Kab. Bulukumba

Dirjen PHU Kemenag RI : Masuk Gedung Ini, Keluar Sudah Punya Nomor Porsi

Kakanwil Kemenag Sulsel Harap Gedung Layanan Haji dan Umrah Wajo Dimanfaatkan Maksimal Layani Umat

Bangga Jadi Yang Pertama di Sulsel, Ini Kata Bupati Wajo Ke Dirjen PHU Kemenag

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar