Ikatan Dokter Anak Indonesia Minta PTM 100 Persen Dihentikan, ‘Jangan Hanya Bicara Statistik dan Persentase!’

Ikatan Dokter Anak Indonesia Minta PTM 100 Persen Dihentikan, ‘Jangan Hanya Bicara Statistik dan Persentase!’

R
Fitri Wisneti
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, JakartaIkatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menghimbau berbagai pihak, untuk tidak lagi melanjutkan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen, ditengah kian melonjaknya kasus Omicron di Indonesia.

Mereka menjelaskan bahwa vaksinasi covid-19 untuk anak dalam umur 6-11 tahun, baru saja dimulai pada minggu kedua di Bulan Desember lalu.

Sehingga anak baru mendapatkan vaksin pertamanya, bahkan masih juga banyak yang belum mendapatkan vaksin dosis pertama.

Salah satu anggota IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa PTM 100 persen pada anak-anak yang belum di vaksinasi lengkap, apalagi terhadap anak-anak kecil yang masih belum pandai dalam mematuhi protokol kesehatan, dinilai sangat mengkhawatirkan.

“Kita sebetulnya sudah senang laporan tiap cabang kasus menurun, situasi ini jika dipaksakan PTM 100 persen tanpa ada opsi lain, tanpa ada orpsi hybrid, selain bikin galau orangtua yang concern terhadap vaksinasi, usia PAUD belum vaksin sudah masuk sekolah, ini sesuatu yang perlu disikapi,” ujarnya dalam diskusi daring IDAI, dikutip dari Kompas.com pada Jumat, 14 Januari 2022.

Perihal anggapan yang tengah beredar di masyarakat bahwa Omicron tidaklah begitu mengkhawatirkan, dengan tingkat presentase kematiannya yang kecil.

Piprim menanggapi hal tersebut, dan mengatakan bahwa bagi IDAI anak-anak bukanlah perihal presentase.

“Karena setiap anak segalanya bagi orangtuanya. Kita ingin bermain aman, masa untuk anak coba-coba. Buat kita kesehatan anak menjadi prioritas,” tegasnya.

Sependapat dengan itu, Satgas IDAI, Yogi Prawira juga mengatakan bahwa saat kita membicarakan perihal anak, maka tidak bisa diukur dengan angka-angka.

Meskipun tingkat kematian dibawah 1 persen, namun jika yang terkena adalah anak kita sendiri atau kerabat, maka dampak teesebut bagaikan 100 persen.

“Tolong jangan hanya bicara statistik dan persentase, bayangkan jika ini adalah anak kita, saudara kita,” ujarnya.

Perihal anggapan bahwa Omicron ini adalah ‘ringan’, Yogi menghimbau untuk semua lapisan masyarakat dapat belajar dari pengalaman dan negara lain, dan tidak lantas percaya begitu saja bahwa Omicron ini benar-benar ‘ringan’.

“Di Amerika, UK, Afrika, di India, itu kan kasusnya meningkat dengan cepat dan ternyata persentase anak-anak yang kena dan dirawat di RS lebih tinggi, dibandingkan varian-varian sebelumnya. Kita harus lebih hati-hati, jangan percaya saja bahwa Omicron ringan. Belum cukup bukti untuk menyatakan ini ringan. Faktanya, persentase anak-anak yang dirawat karena varian ini (Omicron) lebih besar proporsinya ketimbang sebelumnya,” jelas Yogi.

Yogi juga mengingatkan, bahwa sekolah tatap muka adalah bagi anak-anak, yang sudah paham dan bisa menerapkan protokol kesehatan secara benar, bukan untuk anak-anak yang masih belajar tentang protokol kesehatan.

“Bagi orangtua yang memutuskan untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah, jangan lupa dibekali dengan ilmunya dulu, dan dilatihkan sebelum akhirnya mereka berangkat sekolah tatap muka,” saran yang dipaparkan Yogi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.