Imbas Penumpukan Kapal, Perusahaan Pelayaran Pungut Biaya Kongesti di Makassar

instagram.com/pelindo_4

Terkini.id, Makassar – Antrean panjang kapal untuk melakukan bongkar muat di Pelabuhan Makassar, membuat perusahaan pelayaran memungut biaya.

Tidak tanggung-tanggung, customer pengguna jasa pengiriman barang yang diminta menanggung biaya tersebut.

Informasi dihimpun terkini.id, sudah ada empat perusahaan pelayaran di Makassar yang berencana memberlakukan biaya kongesti atau surcharge conghesty tersebut.

Empat perusahaan tersebut antara lain Meratus,  Tanto Intim Line, SPIL, dan Samudera Indonesia.

Perusahaan harus menarik biaya surcharge conghesty, lantaran kapal-kapal yang antre berhari-hari tersebut bisa memicu kerugian karena menunggu lama untuk bongkar muat.

“Terkait dengan terjadinya kongesti (antrean sandar) di Pelabuhan Makassar yang sangat parah dan tidak dapat diprediksi, maka dengan ini akan dikenakan biaya surcharge kongesti untuk rute Surabaya – Makassar – Out per stuffing full container 11 Januari 2019,” tulis surat pemberitahuan yang disampaikan PT Tanto Intim Line kepada customernya, Kamis 10 Januari 2018.

Dalam penyampaian baru yang akan berlaku besok itu, PT Tanto Intim menyampaikan besaran biaya kongesti, antara lain:

1. Full Dry COC & MTY SOC:
– 20” surcharge kongesti : Rp 1.000.000/container
– 40” surcharge kongesti : Rp 2.000.000/container

2. Full reefer SOC
– 20” RF surcharge kongesti : Rp 2.000.000/container
– 40” RF surcharge kongesti : Rp 4.000.000/container

“Relasi diwajibkan untuk meng-cover kargo/muatan dengan asuransi tipe ICC-A untuk mengurangi risiko kerugian jika terjadi musibah. Mohon jangan sepelekan hal ini,” tulis penyampaian tersebut.

ALFI/ILFA Tidak Mau Beratkan Customer

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder (ALFI/ILFA) Sulawesi Selatan, Syaifuddin Saharudi, menyebutkan, memang benar ada beberapa perusahaan besar yang memberlakukan surcharge conghesty.

“Tetapi kami dari DPW ALFI/ILFA, berdasarkan hasil rapat pengurus dan anggota, secara tegas menolak hal tersebut (surcharge conghesty) dengan alasan sangat jelas,” kata Syaifuddin.

Menurut dia, masalah penumpukan kapal, itu bukan disebabkan oleh perusahaan pelayaran, tetapi disebabkan oleh operator pelabuhan lantaran kapasitas dari alat bongkar muat yang minim.

“Permasalahan konghesti ini disebabkan oleh operator pelabuhan. Antara kapasitas dan fasilitas tidak berimbang, sehingga terjadi antrean kapal yang panjang,” tambahnya.

Selain fasilitas minim, dia menyebutkan adanya bebrapa peralatan yang bermasalah.

“Sehingga, biaya itu seharusnya tidak dibebankan kepada customer,” jelasnya.

Atas keterlambatan sandar tersebut, customer pasti akan dirugikan, dan membuat distribusi barang terhambat.

“Ini akan berdampak sangat besar terhadap ketersedian komoditas dan juga bisa berimbas terhadap komoditas lokal untuk keluar. Itu karena cost logistic naik, dan mempengaruhi HPP atau Harga Pokok Penjualan,” tambah dia.

Efektifkan MNP Segera

instagram.com/pelindo_4

Oleh karena itu, dia menyarankan agar segera mengefektifkan pengoperasian pelabuhan baru Makassar New Port.

“Supaya bisa menunjang keterbatasan TPM yang saat ini panjangnya cuma 850 meter,” jelas dia.

Menurut dia, Pelindo IV selaku pengelola pelabuhan Makassar, tidak bisa lagi mengandalkan TPM yang ada saat ini.

MNP yang sudah bisa digunakan sebagian, seharusnya sudah bisa efektif dimaksimalkan untuk menunjang kapasitas yang berlebih itu.

“Hal itu karena hampir seluruh Wilayah Indonesia Timur melakukan transhipment di Makassar,” terang dia.

Segera Benahi Peralatan

Syaifuddin Saharudi

Selain itu, Syaifuddin juga meminta operator pelabuhan untuk mengoptimalkan peralatan sebagai penunjang utama dalan kelancaran operasional pelabuhan.

Saat ini, dari enam Container Crane di TPM, cuma lima di antaranya yang beroperasi.

Baik itu dalam hal receiving dan delivery. “Termasuk perbaikan pola maintenance peralatan yang ada serta menambah peralatan Container Crane dan Tractor Trailer. Baik untuk MNP dan TPM. Karena peningkatan volume sangat tinggi,” tambahnya.

Untuk bulan November dan Desember 2018 saja, mencapai hingga 55.000 teus atau kontainer per bulan. Padahal, idealnya TPM cuma sanggup menampung hingga sekitar 50.000 teus per bulan (sekitar 600.000 teus per tahun).

Belasan Kapal Antre

Pemberlakuan surcharge surcharge conghesty tersebut diberlakukan lantaran antrean panjang kapal di pelabuhan.

Dalam dua bulan terakhir, rata-rata ada hingga 14 hingga 17 kapal yang ‘menunggu’ di perairan dekat Pelabuhan Makassar untuk antre bongkar muat.

Kepala Otoritas Pelabuhan Makassar Harno Trimadi seperti dilansir dari bisnis.com, menyebutkan, tertundanya aktivitas bongkar muat juga akibat akibat berkurangnya peralatan di TPM.

Dia menyebutkan, sebagian peralatan dipindahkan ke terminal baru yaitu Makassar New Port (MNP) yang sudah diujicoba pada 2 November 2018.

Persoalannya, banyak kapal yang enggan sandar di pelabuhan baru itu, karena jalur menuju ke sana masih dangkal.

Sehingga, mereka memilih sandar di terminal lama. “Untuk mengantisipasi masalah ini, kita alihkan bongkar muat sebagian kapal ke terminal Multipurpose,” terang Harno.

Berita Terkait