Innalillahi, Longsor Landa Wilayah Pedalaman Sidrap

Terkini.id, Sidrap – Bencana alam terus melanda sebagian wilayah Sulawesi Selatan.

Setelah Masamba Kabupaten Luwu Utara, sebagian warga di Kabupaten Sidrap juga merasakan dampak dari curah hujan yang intens selama beberapa hari ini.

Selain luapan air yang membuat Sebagian pemukiman dan tanaman padi warga yang berada di sekitar Danau Sidenreng tenggelam, curah hujan juga menyebabkan longsor di Desa Tana Toro dan Desa Leppangeng Kecamatan Pitu Riase.

Longsor ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa bulan lalu kejadian serupa juga melanda wilayah pedalaman ini.

Mungkin Anda menyukai ini:

Longsor yang terjadi kali ini, menyebabkan longsoran sepanjang 30 meter, pada Sabtu 18 Juli 2020 dini hari.

Baca Juga: Ungkap Alasan Indonesia Ditimpa Banyak Bencana, UAS: Karena Umat Meninggalkan...

Kepala Desa Leppangeng, Ilyas Manakkang, membenarkan adanya longsor yang melanda wilayahnya. Kata Ilyas, kejadiannya dinihari saat hujan turun sangat deras.

“Ini longsor yang terjadi untuk kesekian kalinya,” ujar Ilyas.

Menurutnya, akibat longsor ini jalan yang menghubungkan antara Desa Compong dan Leppangeng terputus, lantaran limbah longsor menimbun badan jalan sepanjang lebih kurang 30 meter. Itu hanya satu titik.

Baca Juga: Begini Kondisi Terkini Akses Mamuju dari Arah Selatan Usai Diguyur...

Untuk itu kata dia, bersama warga desa, lakukan gotong royong untuk membersihkan material longsor dengan alat seadanya. Ini dilakukan agar jalan penghubung ini bisa kembali dilalui warga dalam melakukan aktifitasnya.

“Jika ini tidak dilakukan, maka dipastikan akan mengisolir sejumlah lokasi diwilayah ini,” kata Ilyas.

Dia menambahkan, untuk titik longsor yang lainnya, bersama warga akan melakukan pengerjaan secara maraton.

Longsor terparah terjadi di jalan menuju Desa Tana Toro, tepatnya di Dusun Lampiring Kelurahan Batu.

Akses jalan terputus akibat longsor dari wilayah pegunungan setempat.

Kepala Desa Tana Toro Abdullah Paba mengatakan, sedikitnya 20 meter jalan yang tertimbun lumpur dengan ketinggian 1 sampai 2 meter.

Akibat musibah itu, sekitar 222 kepala keluarga terancam terisolir.

“Kita sudah laporkan ke pemerintah daerah, hanya saja belum bisa dilakukan tindakan apa-apa, karena kondisi tanah masih labil,” ujarnya.

Bagikan