Ironi Buah Simalakama dan Matinya Kemanusiaan

Ironi Buah Simalakama dan Matinya Kemanusiaan

K
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

SEHARUSNYA Budhiya dan bayi dalam rahimnya tak mati. Bila saja Madhava masuk ke dalam gubuk menemani isterinya. Seharusnya dia mendengarkan saran Gheesoo, ayahnya, untuk menengok keadaan istrinya yang akan melahirkan.

“Tampaknya dia tak akan berhasil. Kau telah menghabiskan waktumu seharian dengan mondar-mandir saja. Pergilah kedalam dan tengok istrimu,” kata Gheesoo.

Madhava menjawab dengan kesal, “Jika dia akan mati mengapa dia tak mati sekarang saja? Apa yang dapat aku lakukan dengan hanya menengoknya,”

Malam itu sunyi, mereka sedang duduk di pintu gubuk di depan api yang mulai redup sambil memanggang kentang.

“Aku telah memikirkan, jika ada bayi, apa yang akan terjadi? Kita sangat miskin; tidak punya apa pun, termasuk jahe, gula dan minyak,” seru Gheesoo.

Baca Juga

Sebenarnya, Madhava khawatir Gheesoo akan menghabiskan kentang yang mereka ambil dari ladang tetangga bila masuk menemani istrinya. Sehingga, ia memutuskan tinggal dan menemani ayahnya.

Tapi yang tragis terjadi, keesokan paginya ia menemukan tubuh istrinya membeku– dan itulah bagian yang penting dalam cerpen “Kain Kafan” gubahan penulis India, Prem Chand, penulis fiksi yang mengisahkan dengan dingin getirnya buah simalakama ketidaksetaraan sosial ekonomi.

Kita bisa memahami dalam masyarakat yang rakyatnya selalu bekerja siang dan malam, kondisinya tak jauh lebih baik dari orang yang mengambil keuntungan dari itu, ternyata lebih kaya. Jadi wajar bila Madhava merasakan seperti itu.

Dilema Madhava dalam “Kain Kafan” adalah masuk ke dalam gubuk dan melihat penderitaan Budhiya yang akan melahirkan seorang bayi. Pada saat bersamaan, dia juga menderita karena bayi yang akan lahir tersebut juga akan menderita menanggung kelaparan.

Prem telah dengan baik merentangkan ironi kehidupan manusia yang begitu getir dan melarat. Ia dengan sengaja membunuh kemanusiaan dalam diri tokoh Madhava.

Melalui nasib yang pedih, ia membuka jalan bagi ceritanya untuk menyingkap secara pelan dan hati-hati ketidaksetaraan sosial ekonomi yang melanda negerinya.

Sang penulis mengukur dengan tegas sambil membentangkan jarak antara yang miskin dan kaya yang begitu berjarak.

Kematian istri dan anaknya, memberi peluang Madhava untuk meminta sumbangan pada tuan tanah yang selama ini selalu memukul dan memperlakukannya seperti bintang. Meski sangat miskin, mayat Badhiya tetap harus dibungkus kain kafan sebelum dibakar, pikir Madhava.

Belakangan, hal itu kemudian membuatnya heran, tuan tanah yang terkenal pelit rela memberinya uang untuk membeli kain kafan. Sepanjang hidupnya, Madhava menyadari, semasa hidup istrinya, orang-orang di sekelilingnya mengabaikan pakaian yang dikenakan istrinya.

Singkat cerita, setelah mendapatkan sumbangan, Madheva yang awalnya hendak membeli kain kafan, mengubah langkahnya menuju toko penjual minuman keras.

“Dunia yang palsu, mengapa pandanganmu menyilaukan kami?”

Dia kemudian melupakan membeli kain kafan untuk istrinya. Ia menengguk minuman hingga tumbang ke tanah karena mabuk.

***

Memang, fiksi adalah dunia yang diciptakan, karenanya jauh lebih masuk akal sebab telah diatur sedemikian rupa. Mulai dari tata letak tragedi dan penempatan komedinya yang pahit. Tapi, satu hal yang pasti, kisah itu selalu berakhir dengan caranya sendiri.

Sementara kenyataan yang kita hadapi di tengah pandemi corona saat ini tampaknya baru merentangkan separuh perjalanan. Meski sebelum kedatangannya, kita ingat, negara ini memberi sambutan dengan anekdot yang pahit.

“Karena perizinan di Indonesia berbelit-belit maka virus corona tak bisa masuk,” ujar salah satu menteri presiden. Memang terdengar lucu, tapi di ujungnya menyimpan dusta.

Tragedinya kemudian terasa sejak dikonfirmasi kasus pertama pasien positif di Indonesia pada Senin, 2 Maret 2020. Sebagai pembuka cerita, memang menegangkan tapi tidak asyik.

Sejak itu, kepanikan mulai menjalar di seantero negeri. Pandemi corona menjadi perbincangan hangat dan serius di warung kopi, kampus, lorong-lorong, gedung-gedung megah, hingga istana.

Kita tahu, selama virus, manusia, dan barang mewah masih berjalan berbarengan erat di wilayah perdagangan, dengan menghubungkan satu negeri ke kota-kota lain. Maka di atas kertas, itu badai yang sempurna.

Di sisi lain, melakukan pembatasan sosial skala besar memang memungkinkan menunda penyebaran virus corona, dan pada akhirnya menyelamatkan nyawa manusia.

Namun, pada sebuah negara yang masyarakatnya memiliki ketimpangan ketidaksetaraan sosial ekonomi yang begitu jauh, peralatan medis yang tak memadai, serta ditunjang dengan pemerintah yang mata dan telinganya tertutup, maka kondisinya bisa jadi jauh lebih buruk.

Ia seperti, Madhava, yang kehadirannya tak memberi banyak arti bagi keselamatan jiwa istri dan anaknya dalam situasi kritis.

Banyak yang telah ditulis tentang bagaimana pandemi ini memperburuk ketidaksetaraan sosial. Tetapi bagaimana jika itu karena masyarakat kita sangat tidak setara sehingga pandemi ini terjadi? tanya Laura Spinney, Jurnalis Sains Inggris sekaligus novelis yang menuliskan kisah pandemi influensa 1918.

Hari ini kita tak bisa lagi berdebat soal penanganan virus corona akan lebih baik, dengan hanya melihat yang gugur dan hidup dalam kalkulasi matematika semata; sebuah perbandingan yang konyol, dan membunuh empati.

Bukankah seharusnya negara melihat satu kematian masyarakatnya akibat virus corona sebagai situasi genting dan darurat? Mengapa di tengah kematian kita masih bicara pertumbuhan ekonomi? Mengapa kita, misalnya, tak bicara soal pemerataan ekonomi? Bukankah itu jauh lebih memberi harapan.

Ataukah negara butuh bukti empiris dengan menunggu angka kematian bertambah banyak, hanya untuk mengucapkan situasi sungguh darurat.

Ada aliran pemikiran yang, secara historis, menyebut pandemi lebih mungkin terjadi pada saat-saat ketidaksetaraan dan perselisihan sosial.

“Ketika orang miskin semakin miskin, pemikiran berjalan, kesehatan dasar mereka menderita, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi. Pada saat yang sama mereka dipaksa untuk bergerak lebih banyak, mencari pekerjaan, dan tertarik ke kota,” tulis Laura.

Kita pun tahu, negara dengan sengaja menyembunyikan angka virus corona yang sebenarnya hanya untuk mengendalikan kebenaran. Juru bicara penanganan Covid-19 bangsa ini telah dengan jelas mengucapkan itu.

“Kami tidak merasa membohongi publik, tidak semua fakta baik untuk masyarakat. Kami tak ingin masyarakat panik, biarkan kami yang bekerja” katanya dengan nada dingin.

Meski terdengar heroik dan puitis, tetapi ia menyimpan kepalsuan. Bila masyarakat yang menyebarkan informasi salah maka disebut hoaks. Tapi, bila pemerintah yang menyebar informasi, yang meski salah, maka itu adalah kebenaran. Percayalah.

Tentu, kita tak ingin negara memiliki watak Madheva, yang membiarkan rakyatnya mati satu per satu lantaran tak bisa menjanjikan kehidupan yang layak.

Madhava, kita ingat, telah mementingkan keselamatan dirinya di atas segalanya.

memanfaatkan momen kematian istri dan anaknya sebagai jalan untuk bersenang-senang.

Sampai di sini, akhir cerita virus corona di Indonesia tampaknya masih jauh. Kita masih akan membuka banyak halaman. Dengan begitu, kita masih akan menjelajahi petualangan yang mendebarkan. Selamat membaca.

Meski, dengan cemas kita berharap, tak ada lagi Budhiya lain yang mati di akhir cerita karena terabaikan oleh seseorang bernama negara.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.