Terkini.id, Jakarta – Jelang final Liga Champions yang akan digelar pada 30 Mei 2021 di Stadion Dragao, Porto, Portugal, antara Chelsea vs Manchester City.
Bagi The Citizens, ini merupakan kali pertama mereka masuk ke partai puncak kompetisi paling bergengsi di dunia.
Sejak berdiri tahun 1894, klub yang bermarkas di Kota Manchester, Inggris ini belum pernah merasakan manisnya merengkuh piala Liga Champions.
Pencapaian terbaik mereka adalah masuk semifinal, pada musim 2015/2016.
Manchester City pernah mengalami masa sulit. Tahun 2008 klub yang dimiliki oleh miliarder sekaligus Perdana Menteri Thailand, dijual karena pemiliknya tersandung kasus korupsi di negaranya.
- Manchester City Juara Piala FA 2022/2023 Usai Sukses Tekuk Manchester United
- Hasil Liga Inggris: Manchester City Perkecil Jarak Poin Usai Menang Telak 4-1 Atas Arsenal
- Manchester City ke Final Piala FA, Pep Sindir Fans MU: Tak Perlu Panik
- Hasil Liga Inggris: Manchester City Menang Telak 4-1 Kontra Liverpool di Etihad Stadium
- Pertandingan yang Dinantikan di Final Piala FA: Manchester City vs Manchester United
Titik balik kebangkitan klub, ketika miliarder asal Uni Emirat Arab (UEA) mengambil alih kepemilikan klub.
Sheikh Mansour membeli Manchester City dari Thaksin Shinawatra pada September tahun 2008 dengan menggelontorkan dana lebih dari 300 juta poundsterling atau setara Rp4,1 triliun.
Mansour kemudian menghabiskan ratusan juta poundsterling untuk membeli pemain bintang dunia dan merekrut pelatih terkenal. Hal itu dilakukan semata-mata agar Citizens menjadi kompetitif.
Usaha Mansour membuahkan hasil, Manchester City menjuarai piala FA tahun 2011 dan memenangkan Liga Premier Inggris tahun 2012.
Sheikh Mansour adalah anak dari Zayed bin Sultan Al Nahyan atau yang dikenal dengan keluarga Al Nahyan.
Sumber kekayaan Mansour dari perusahaan minyak milik keluarganya yang ada sejak tahun 1958.
Tak hanya dari sektor minyak, ia juga merupakan investor pada Hydra Properties.
Perusahaan yang bergerak di bidang perumahan elit dengan fasilitas super mewah yang diperuntukkan bagi kalangan jet set dunia, kelompok internasional yang terdiri dari orang kaya.
Selain pengusaha, Mansour juga terjun ke dunia politik dengan menjadi Ketua Dewan Menteri untuk Pelayanan.
Sejak tahun 2000, ia memimpin Pusat Nasional untuk Dekomentasi dan Penelitian.
Pada tahun 2005, ia menjadi Wakil Ketua Majelis Pendidikan Abu Dhabi.
Pada tahun 2006, dia diangkat sebagai Ketua Departemen Kehakiman Abu Dhabi dan 2007 diangkat sebagai Ketua Yayasan Amal Khalifa bin Zayed.
Pria lulusan sarjana Ilmu Politik di Amerika Serikat tahun 1993 ini, juga saudara tiri dari Presiden UEA, Khalifah bin Zayid Al-Nahyan.
Menarik kita tunggu, apakah Sheikh Mansour dapat mengangkat trofi ‘Si Kuping Besar’.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
