Jumlah Anak Putus Sekolah di Makassar Meningkat Selama pada Masa Pembelajaran Daring

Terkini.id, Makassar – Jumlah anak putus sekolah di Makassar meningkat selama proses pembelajaran daring akibat pandemi Covid-19. Hal itu mengacu pada banyaknya aduan yang masuk ke DPRD Kota Makassar.

Anggota Komisi D DPRD Kota Makasaar Al Hidayat Syamsu meminta pemerintah kota melakukan pendataan terhadap siswa yang putus sekolah.

“Banyak laporan masuk, faktornya mereka tidak punya gadget. Ada yang bantu orang tuanya untuk cari uang, nah ini yang mesti kita tahu (jumlahnya),” kata Hidayat, sapaannya, Jumat, 24 September 2021.

Baca Juga: Omicron Merebak, Dewan Minta Pengawasan Perbatasan Dipeketat

Ia mengatakan akan mendorong dari sisi anggaran pada APBD Perubahan 2021. Hal itu untuk menyelematkan generasi muda yang putus sekolah.

“Kita akan sampaikan itu, karena belum pembahasan PPAS, kita akan sampaikan di situ, pastilah akan ada anggaran tambahan, kalau memang dibutuhkan anggaran lebih, kita siap,” tuturnya.

Baca Juga: Naik 14 Juta, Rincian Tunjangan Transportasi dan Perumahan Anggota DPRD...

Ketua Komisi D Abdul Wahab Tahir mengatakan, selain persoalan siswa putus sekolah, sarana dan prasarana juga menjadi persoalan yang harus diselesaikan pemerintah kota. 

Selama hampir dua tahun sekolah ditinggalkan ada faktor kerusakan sarana dan prasarana sekolah. Hal ini berpotensi kembali menghambat pembelajaran PTM pada Oktober mendatang.

“Aggaran untuk sarpras sedikit, itu kita ajukan penambahan di perubahan, tapi saya tidak ingat nominalnya,” tuturnya.

Baca Juga: Naik 14 Juta, Rincian Tunjangan Transportasi dan Perumahan Anggota DPRD...

Dia juga meminta sekolah melakukan tinjauan sarananya masing-masing jangan sampai terjadi kerusakan ataupun kehilangan barang.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Makassar Amalia Malik mengakui adanya penambahan jumlah siswa putus sekolah  selama pembelajaran daring.

Faktornya, kata dia, adanya keterbatasan peranti. Selain itu, Amalia mengatakan sebagian orang tua beranggapan siswa yang ikut sekolah daring dianggap tak belajar.

“Kemarin kita lakukan pendataan, ada 90-an persen orang tua itu tak menganggap anaknya sedang belajar, tapi ini akan kita jejaki, apalagi sudah mau tatap muka,” katanya.

Bagikan