Kaimuddin dan Roemank Madu: Dari Rasa Penasaran ke Pemberdayaan Petani

Kaimuddin dan Roemank Madu: Dari Rasa Penasaran ke Pemberdayaan Petani

K
Kamsah

Penulis

Harga madu, menurut Kaimuddin, sangat bergantung pada jenis lebah, sumber nektar, dan daerah asalnya.

“Misalnya, madu trigona di Soppeng cenderung lebih murah dibandingkan di Maros, karena di Soppeng madu trigona melimpah,” jelasnya.

Maros, salah satu daerah penghasil madu terbesar di Sulawesi Selatan, mampu memproduksi hingga 10 ton madu per tahun.

“Dari perbatasan Maros-Gowa hingga Sinjai, kapasitas hasil madu di sana luar biasa,” tambahnya.

Mengenal Lebah dan Budidaya

Baca Juga

Dunia lebah di Sulawesi ternyata sangat beragam. Ada lebah liar seperti Apis dorsata yang tak bisa dibudidayakan, hingga Apis cerana yang lebih jinak.

“Kami juga mengenal lebah Eropa yang dibawa masuk ke Indonesia pada 1980-an, serta trigona, lebah tanpa sengat yang sangat populer untuk dibudidayakan,” jelas Kaimuddin.

Kaimuddin dan Roemank Madu: Dari Rasa Penasaran ke Pemberdayaan Petani

Meski begitu, kualitas madu tetap menjadi perhatian utama. Madu murni, menurut Kaimuddin, harus berasal dari nektar bunga, bukan dari pakan gula.

“Di Sulawesi, kami belum menemukan petani yang memberikan pakan gula. Tapi di Jawa, itu cukup sering terjadi,” katanya.

Mengedukasi Petani dan Masyarakat

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.